Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 114



Agam tidak bisa menyembunyikan amarahnya setelah melihat pesan yang mengirimkan foto dirinya dengan Karina di kamar hotel. Jari-jarinya mengepal kuat, dia benar-benar akan menghancurkan Karina kali ini. Wanita itu cukup berani untuk menghancurkan kebahagiaan Agam setelah tawarannya di tolak mentah-mentah.


Beberapa hari lalu Karina sempat menemuinya, mengajaknya berselingkuh dengan imbalan uang.


Sepertinya Karina sudah kehilangan akal sehat dan rasa malunya setelah jatuh miskin dan di tinggalkan kekasihnya. Jadi dengan tidak tau malu, dia mendatangi mantan suaminya yang dulu sudah dia selingkuhi.


Karina terlalu percaya diri, atau mungkin tidak punya pilihan lain agar tetap menghasilkan banyak uang. Padahal Agam juga akan menolak tidur dengan Karina walaupun gratis. Dia sudah terlalu jijik pada mantan istrinya itu.


"Lihat aku, Arumi,," Lirih Agam setelah berhasil meredamkan amarahnya.


Agam meraih dagu Arumi yang berusaha memalingkan wajah darinya. Mau tidak mau, Arumi menatap Agam karna pria itu menahan dagunya cukup kuat. Membuatnya kesulitan memalingkan wajah.


"Kalau masih cinta padanya, harusnya jangan mau menikah denganku." Arumi menatap nanar.


Trauma atas perselingkuhan yang dilakukan Papanya, membuat Arumi kesulitan mengontrol perasaan dan emosinya ketika di hadapkan dengan persoalan serupa.


Saat melihat foto suaminya tidur bersama wanita lain, yang ada di pikiran Arumi hanya perselingkuhan. Dan hal itu cukup menghancurkan perasaan dan hatinya karna berfikir Agam benar-benar selingkuh darinya.


"Kamu bicara apa.? Aku cuma mencintai istriku." Jawab Agam seraya mengusap lembut pipi Arumi.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, mana mungkin aku kembali berhubungan dengan orang yang jelas-jelas pernah menghianatiku." Agam bicara serius, mencoba meyakinkan Arumi agar tidak berfikir buruk tentangnya. Walaupun itu sulit karna foto yang bisa memperkuat dugaan perselingkuhannya dengan Karina.


"Aku lebih percaya bukti.!" Sahut Arumi tegas. Perkataannya sama saja menyebutkan kalau dia tidak percaya dengan semua perkataan Agam.


Tapi wajar kalau Arumi lebih mempercayai foto itu, karna jelas bukan rekayasa.


Wanita manapun pasti akan berfikir dan merasakan hal yang sama seperti Arumi, ketika melihat foto pasangannya tidur dengan wanita lain.


"Wanita sialan itu menjebakku. Kalau kamu tidak percaya, lihat saja apa yang akan lakukan padanya nanti." Ujar Agam penuh amarah pada Karina. Karina pasti akan habis kali ini. Perbuatannya sudah keterlaluan, dan Agam tidak mungkin memberikan ampun padanya.


"Aku tidak bohong Arumi, percaya padaku." Agam menatap memohon, kedua tangannya menggenggam tangan Arumi.


Sorot matanya memang menunjukkan kejujuran dan keseriusan, harusnya Arumi bisa percaya kalau Aham tidak bohong.


Tapi itu kalau terjadi sebelum Arumi mengalami trauma tentang perselingkuhan. Mungkin dia bisa mempercayai ucapan suaminya tanpa ragu.


Sayangnya Arumi cukup trauma dengan perselingkuhan, jadi dia tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan Agam. Sementara dia punya bukti yang cukup kuat.


"Aku tidak ingin membahasnya sekarang. Tolong keluar dari sini, aku mau istirahat." Arumi menarik tangannya dari genggaman Agam. Dia membalik badan untuk memunggungi Agam.


Agam menghela nafas berat, tapi dia tidak mendebat lagi ucapan Arumi. Melihat mata Arumi yang sembab dan merah, Agam tau kalau istrinya itu pasti hanya tidur beberapa jam saja.


Sebelum beranjak dari ranjang, Agam mengusap lembut pucuk kepala Arumi dan mengecupnya singkat.


"Kita bicara lagi nanti siang, aku akan tunjukkan buktinya." Lirih Agam lalu turun dari ranjang dan keluar kamar sesuai permintaan Arumi.


Amira yang baru bangun dan membersihkan diri, tampak keluar dari kamar dan menuju ke dapur.


Amira akan membuat sarapan karna ada anak dan menantunya saat ini.


Begitu sampai di dapur, dia mendapati menantunya sedang berada di meja makan dengan laptop yang menyala dan ada secangkir kopi di sebelahnya. Menantunya itu juga tampak sedang merokok, ini pertama kalinya Amira melihat Agam merokok.


"Kamu baru pulang, kenapa tidak istirahat dulu." Tegur Amira. Agam menoleh, kemudian mematikan rokok dan beranjak dari duduknya untuk membuang puntung rokok ke tempat sampah.


"Ada pekerjaan penting yang mendesak Mah." Jawabannya. Padahal Agam sedang melakukan sesuatu untuk membalas perbuatan Karina. Orang tua Karina sedang memulai bisnis baru setelah mengalami kebangkrutan, Agam akan menghancurkan bisnis baru itu agar tidak bisa berkembang. Memastikan beberapa orang menarik sahamnya dari sana dan memutuskan kerjasama.


"Apa Arumi belum bangun.?" Tanya Amira seraya membuka lemari pendingin dan mengeluarkan bahan makanan yang akan di masak.


Agam terdiam beberapa saat. Hubungan dia dengan Arumi sedang tidak baik-baik saja. Jika Mama mertuanya sampai tau, dia mungkin akan di tegur karna ceroboh hingga bisa di jebak.


"Dia tidak tidur dengan baik semalam, jadi sekarang masih tidur." Jawab Agam sekenanya.


"Ya sudah, tapi bangunkan dia 1 jam lagi untuk sarapan." Sahut Amira.


Agam hanya menjawab singkat. Untung saja Amira tidak bertanya penyebab Arumi kesulitan tidur.


Agam lalu pamit untuk kembali ke kamar.


Dia sedikit ragu saat akan membuka pintu, tapi sangat penasaran dengan kondisi Arumi setelah di tinggal 1 jam yang lalu. Agam harap Arumi benar-benar tidur, dia cukup mengkhawatirkan kondisi Arumi yang pastinya kurang tidur gara-gara foto sialan itu.


Perlahan Agam membuka pintu kamar, sebisa mungkin dia tidak menimbulkan suara agar Arumi tidak terganggu. Dia tersenyum lega mendapati istrinya beradi balik selimut dengan mata terpejam. Agam akhirnya masuk dan menutup pintu kembali. Dia meletakkan ponsel dan laptopnya di atas nakas, lalu naik dengan hati-hati ke atas ranjang.


Setelah beberapa menit dan tidak mendapati pergerakan Arumi, Agam mulai berani memeluk istrinya itu dari belakang dan ikut memejamkan mata. Jujur saja, Agam juga sebenarnya sangat mengantuk dan lelah setelah seharian mengurus masalah di hotelnya. Belum lagi penjebakan yang di lakukan Karina cukup menguras emosinya.


Kini Agam ikut terlelap bersama Arumi, keduanya tidur pulas dan posisi Arumi berada dalam pelukan Agam.


Hampir 1 jam berlalu. Arumi mulai membuka matanya karna merasakan sesuatu yang berat menimpa kakinya. Dia terkejut mendapati tangan dan kaki Agam ada di atas tubuhnya. Ingat jika saat ini dia sedang kesal dengan Agam, Arumi buru-buru menyingkirkan kaki dan tangan Agam. Membuat si empunya bangun dan panik karna mendapat tatapan penuh amarah dari Arumi.


"Bukannya aku menyuruhmu keluar, apa kamu tidak paham.? Aku,,, eummm,,,!!"


Kedua mata Arumi membulat sempurna lantaran mulutnya di bungkam dengan ciuman.


Arumi memberontak dengan memukul dada suaminya, namun Agam baru melepaskan ciumannya setelah puas memagut bibir kenyal sang istri.


"Sayang jangan marah-marah padaku lagi,, lebih baik kamu lihat rekaman cctv di hotel."


"Aku tidak salah,," Agam bicara cepat hampir tanpa jeda, dia sengaja agar tidak keduluan omelan Arumi yang sudah melotot menatapnya.