
Gea tampak gelisah sore itu. Glen sudah meninggalkan apartemen sejak pukul 11 siang untuk persiapan acara pertunangannya dengan Adeline nanti malam.
Gadis yang ingin merebut Glen dan Kakak mantannya itu terus mondar-mandir di dalam kamar. Memikirkan cara agar bisa menghadiri acara pertunangan itu.
Sebenarnya bisa saja meminta pada Arumi agar di ajak ke tempat acara. Mengingat Agam dan Glen berteman dekat. Suami Arumi pasti mendapat undangan dari Glen.
"Bagaimana ini,,," Gumam Gea gelisah. Otaknya sedang berpikir keras mencari cara supaya bisa hadir di tengah-tengah pesta. Lebih bagus lagi jika Adeline mengetahui hubungan terlarangnya dengan Glen tepat di malam pertunangan mereka.
Gea tersenyum lega, sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya. Buru-buru dia membuka aplikasi chat dan mencari daftar nomor yang telah di blokir oleh Glen. Senyumnya makin mengembang kala mendapati nomor Ricko ada di sana.
Dia kemudian pura-pura melakukan panggilan ke nomor Glen dan langsung mematikannya sebelum di jawab oleh pemilik nomor.
Gea sangat yakin sebentar lagi Ricko akan menghubunginya.
"Secepat ini.?" Pekik Gea tak percaya ketika mendapat panggilan balik dari Ricko. Itu diluar dugaan Gea lantaran Ricko balik menelponnya kurang dari 10 detik.
"Hai,, kamu apa kabar.?"
Suara maskulin Ricko membuat bulu kuduk Gea meremang. Pria itu sepertinya casanova dan pemain handal. Dari cara Ricko bicara, bahkan dari tatapan matanya yang cukup mematikan hingga dengan mudah membuat wanita akan bertekuk lutut padanya.
Gea bahkan baru sekali bertemu dengan Ricko, tapi aura playboynya sangat kentara.
"Kenapa memblokir nomorku.? Apa Glen mengancammu.?"
"Jangan takut, aku akan beri perhitungan padanya nanti."
Cecar Ricko penasaran. Dia sudah bicara beberapa kata, sedangkan Gea belum mengatakan apapun.
"Maaf Kak, soal itu aku benar-benar nggak tau." Kilah Gea pura-pura.
"Aku pikir Kak Glen malas berteman denganku lagi." Bicara dengan nada sendu adalah taktik Gea untuk menarik simpati Ricko.
"Hei,, apa yang kamu katakan. Mana mungkin aku malas berteman dengan wanita cantik sepertimu." Sangkal Ricko dengan memuji. Pada kenyataannya Gea memang cantik, meski di luar sana banyak yang lebih cantik darinya. Tapi ada sesuatu dalam diri Gea yang membuatnya begitu menarik. Tentunya menarik untuk di pandang bagi kaun adam. Bodynya terlalu meliuk-liuk, mirip gitar Spanyol meski usianya baru 18 tahun.
"Benarkah.? Aku pikir Kak Ricko hanya sedang menghiburku." Pancing Gea.
"Aku berkata jujur." Sahut Ricko cepat.
"Apa kamu sibuk malam ini.?" Ricko melontarkan pertanyaan yang sejak tadi di tunggu-tunggu oleh Gea.
"Memangnya kenapa.? Kak Ricko mau mentraktirku makam malam.?" Tanya Gea pura-pura tidak tau.
Ricko tampak terkekeh kecil di seberang sana.
"Ya, aku akan mentraktir mu makan malam sepuasnya." Jawabnya terdengar menahan tawa.
"Temanku bertunangan malam ini. Mau menemaniku datang.?"
Gea mengiyakan tanpa pikir panjang, memang itu tujuannya. Datang ke acara pertunangan Glen dengan bantuan seseorang. Karna tidak mungkin dia datang seorang diri tanpa adanya undangan.
Gea lantas menyuruh Ricko untuk menjemputnya di depan salah satu restoran dekat apartemen. Dia enggan membuat Ricko curiga mengenai tempat tinggalnya.
...******...
"Sayang, sudah sore. Ayo pulang." Pria itu sedikit menaikan suaranya agar Arumi bangun.
Arumi mulai menggeliat. Satu tangannya mengusap mata yang masih terpejam, sedangkan bibirnya sedikit mengerucut. Pemandangan seperti itu terlihat sangat menggemaskan di mata Agam. Dia sampai reflek menyentuh dan mengusap bibir Arumi dengan ibu jarinya seraya mengulum senyum.
"Bangun atau aku akan memakanmu disini." Bisik Agam tepat di telinga Arumi. Sontak Arumi membuka mata. Dia memberingsut, sedikit menjauh dari Agam dan menatapnya tajam.
"Kenapa, hmm,?" Dahi Agam mengkerut. Heran melihat Arumi memberingsut dan menatapnya penuh kekesalan. Bukan hanya itu saja, Agam bahkan melihat kesedihan di mata Arumi.
"Kamu jahat.!!" Teriak Arumi seraya bangun, dia meraih bantal dan melemparnya ke wajah Agam. Beruntung Agam bisa menepis dengan tangannya.
"Arumi, kamu apa-apaan.?" Agam sedikit kesal mendapat serangan tiba-tiba dari istrinya. Dia bahkan tidak tau hal apa yang mendorong Arumi untuk melempar bantal ke arahnya.
"Aku tadi mimpi kamu berselingkuh, kamu melakukannya dengan sekretaris mu di kamar ini.!" Tutur Arumi kesal.
Agam di buat melongo tak percaya.
"Melakukannya dengan Gino.? Kamu pikir aku g@y.?" Seru Agam tak terima, meski hanya di dalam mimpi, dia merasa geli mendengar penuturan Arumi tentang mimpinya.
"Bukan, bukan dengan Gino. Tapi sekretaris perempuan.!" Arumi mencebikkan bibir. Soroti matanya semakin kesal saja pada Agam.
"Mana ada.? Sekretarisku hanya Gino." Jawab Agam tak mau kalah.
"Sudah jangan buang-buang waktu, kita harus pulang sekarang." Agam beranjak dari ranjang, tangannya terulur untuk mengajak Arumi turun dari ranjang. Tapi gadis itu menolak.
"Siapa wanita itu.? Pasti sengaja di sembunyikan selama ini kan.?" Tuduh Arumi tak masuk akal. Agam sampai menghela nafas kasar. Istrinya itu seperti melantur setelah bangun tidur.
"Arumi, ucapanmu di luar nalar." Gerutu Agam yang masih bisa menahan diri. Dia tidak tau apa-apa, datang kemar hanya untuk membangunkan istrinya dan mengajaknya pulang. Tapi Arumi malah marah-marah dan menuduhnya bermain gila hanya karna sebuah mimpi.
"Kamu cuma mimpi, bagaimana bisa menganggap hal itu benar-benar aku lakukan di kehidupan nyata.?" Tanya Agam tak habis pikir.
Agam tidak terkejut ketika Arumi bercerita tentang mimpi perselingkuhan itu. Mengingat dia baru saja mengetahui fakta bahwa Papanya berselingkuh. Arumi menjadi terpukul dan kecewa serta memiliki ketakutan tersendiri. Mungkin rasa takut dalam diri Arumi yang membuatnya sampai bermimpi tentang perselingkuhan.
"Tapi itu sangat nyata, pasti sebuah tanda kalau Kak Agam memang mengkhianatiku." Tutur Arumi dengan mata berkaca-kaca. Emosinya sudah mereda, kini berganti rasa sakit hati dan kecewa yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata.
Dalam mimpi itu, Arumi tidak sengaja memergoki Agam berciuman dengan seorang wanita seksi sembari keluar dari ruangan kerjanya. Agam menggiring wanita itu masuk ke dalam kamar.
Arumi saat itu datang ke kantor Agam dengan membawakan makan siang untuk suaminya.
Dengan perasaan hancur dan air mata yang bercucuran, Arumi mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka. Dia mengintip dari celah pintu dan mendapati suaminya sedang bergumul dengan wanita tadi tanpa memakai apapun.
"Kamu hanya melihat dalam mimpi tapi bisa menuduhku begitu mudah.? Yang benar saja Arumi." Keluh Agam menahan diri. Kalau tidak memikirkan perasaan Arumi yang sedang kacau, mungkin sejak tadi Agam sudah meluapkan kekesalannya pada sang istri karna bicara omong kosong.
"Aku tau kamu sedang kecewa dan ketakutan, tapi kamu juga harus pakai logika."
"Sebaiknya kita pulang, bicarakan lagi di rumah."
"Kamu lupa kita ada undangan dari Glen. Acaranya jam 7." Agam membujuk dengan suara rendah. Tidak berani menggertak Arumi, khawatir suasana hatinya makin memburuk.
"Aku akan cari tau sendiri, awas saja kalau wanita itu ada.!" Seru Arumi kesal. Dia lantas turun dari ranjang dan keluar kamar lebih dulu.
"Anak itu benar-benar,,!" Gerutu Agam kesal.