Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 78



Perdebatan berakhir ketika Agam membungkam bibir Arumi. Pagutan bibirnya begitu lembut namun dalam. Baru merasakan saja sudah membuat Arumi hanyut. Dia semakin erat mengalungkan tangannya di leher Agam dan tak kalah dalam membalas ciumannya.


Rasa kantuk yang tadinya masih menyelimuti, perlahan mulai sirna seiring dengan gairah panas akibat pertukaran saliva. Arumi begitu rileks dalam pangkuan Agam dan menikmati setiap lu ma tan dan sesapan yang di lakukan oleh Agam.


"Eummhh,,," Suara de sa han Arumi tertahan. Tubuhnya meremang dan menegang, merasakan sesuatu yang menjalar ke seluruh tubuh saat tangan Agam mengusap paha mulusnya dan bergerak naik.


Seolah paham apa yang akan di lakukan tangan Agam dibawah sana, Arumi langsung melebarkan pahanya. Dia memberi ruang untuk tangan Agam agar leluasa menyentuh liangnya dari balik kain segitiga.


Agam melepaskan pagutan bibirnya, bukan untuk mengakhiri kenikmatan yang sudah mereka rasakan, melainkan untuk menciptakan kenikmatan yang jauh lebih besar.


Ciuman Agam turun ke bawah, dia menyasar leher jenjang Arumi untuk di absen setiap inci kulit lehernya yang putih. Sesapan demi sesapan yang di lakukan oleh Agam, mampu memberikan sensasi nikmat hingga Arumi tak kuasa menahan de sa han.


Gadis itu justru sengaja mengencangkan suara de sa-hannya. Karna sadar kalau de sa-hannya mampu membuat Agam semakin bergairah. Terbukti pria itu semakin menggila, bahkan mulai menciptakan tanda kepemilikan sebagai bukti percintaan mereka setelah ini.


"Omm,," De sah Arumi dengan raut wajah yang sudah terbakar gairah. Nafasnya tersenggal, dia mulai merasakan sesuatu akan meledak di bawah sana. Gerakan tangan Agam selalu membuatnya melayang, memberikan sensasi nikmat yang sulit di jelaskan dengan kata-kata.


Agam terlalu lihai memuaskan lawan mainnya. Terbukti Arumi sering mendapatkan kepuasan dari Agam hanya dengan menggunakan jari ataupun lidahnya saja.


"Kenapa hemm.?" Tanya Agam seraya menggerakkan alisnya. Senyum pria itu tampak penuh arti.


Benar saja, tiba-tiba Agam menghentikan gerakan tangannya di bawah sana dan kini hanya menciumi bibir Arumi. Pria itu terlihat sengaja menggoda Arumi yang hampir mencapai pelepasan.


Arumi tampak kecewa, dia sadar kalau Agam sedang berusaha menggodanya. Pria itu pasti tidak akan membiarkannya mencapai puncak dengan mudah.


"Om,, jangan berhenti,," Arumi membuang rasa malu dan gengsinya di depan Agam hanya untuk mendapatkan kenikmatan yang sejak tadi dia tunggu-tunggu. Padahal Agam yang membangkitkan gairahnya, tapi malah mengerjainya.


"Jangan berhenti untuk apa.?" Agam mengulum senyum jahil. Ditambah pria itu menyusupkan tangannya di balik br-a dan memainkan salah satu bukit itu dengan gerakan pelan namun begitu menggoda. Hal itu justru semakin membuat Arumi tersiksa. Karna liangnya juga menginginkan sentuhan.


"Om.!" Tegur Arumi kesal. Bibirnya mencebik. Dia merasa hampir gila mendambakan sentuhan dari Agam.


"Memohon yang benar dan bicara dengan jelas." Titah Agam.


Agaknya pria itu menginginkan sensasi berbeda. Dia mungkin ingin bermain-main dulu dengan Arumi sebelum memberikan kenikmatan padanya.


Bukannya menuruti perkataan Agam, Arumi malah semakin mencebik kan bibirnya. Mana mungkin dia akan memohon dengan cara seperti itu. Meminta Agam agar jangan berhenti saja sudah sangat malu.


"Ya sudah kalau nggak mau." Agam menghentikan semua aktivitas tangannya di bukit Arumi. Lalu merapikan lingerie Arumi, seolah-olah ingin menyudahi permainan yang baru di mulai.


Arumi terlihat gelisah. Hasratnya sudah di ujung kepala, liangnya juga hampir menyemburkan sesuatu yang mampu membuatnya terbuai.


Tak mau berakhir begitu saja sebelum mendapatkan kenikmatan yang sebenarnya, Arumi memberanikan diri untuk memohon pada Agam.


Lagipula mereka sudah sah menjadi suami istri, tidak masalah kalau Arumi yang memohon untuk di sentuh. Itu tidak akan menurunkan harga dirinya.


"Om, sentuh aku pleaseee,,," Arumi benar-benar serius memohon.


"Jangan berhenti, aku hampir keluar." Tuturnya.


Agam tampak mengulum senyum puas. Melihat Arumi memohon dengan wajah yang di selimuti gairah, rupanya bisa membuatnya semakin ber naf su.


"Kamu sangat seksi." Bukannya menanggapi permintaan Arumi, Agam malah melontarkan pujian.


Agam memposisikan diri di atas Arumi. Bibir dan leher gadis itu kembali menjadi sasaran. Kali ini jauh lebih bersemangat.


Arumi sampai mende sah tanpa jeda saking nikmatnya mendapatkan rangsangan di semua titik sensitifnya.


Perlahan Agam turun kebawah, ciumannya pindah ke perut rata Arumi dan semakin kebawah.


Kedua tangannya menurunkan kain segitiga dengan gerakan cepat.


Liang itu langsung terlihat seluruhnya, terlebih saat Arumi reflek membuka kakinya lebar-lebar.


Agam sampai menelan saliva melihat liang yang terawat itu dengan bulu-bulu halus di sekitarnya.


"Omm,, uuhgg,,," Tubuh Arumi menegang, da dan ya membusung ke atas, akibat rasa nikmat di bawah sana.


Agam mengobrak-abrik liang itu dengan bibir dan lidahnya. Membuat Arumi seperti cacing kepanasan yang bergerak kesana kemari.


Agam makin bersemangat karna de Sa han Arumi. Dia terus bermain di bawah sana hingga Arumi mengerang panjang dan liang itu menyemburkan cairan hangat.


Arumi terlihat kelelahan. Nafasnya memburu dengan mata terpejam. Dia sedang berusaha mengembalikan tenaganya yang terkuras habis setelah mendapatkan pelepasan.


Tapi sepertinya Agam tidak membiarkan Arumi beristirahat. Pria itu buru-buru melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuhnya. Batang yang sejak tadi terkurung dan merasakan sesak, kini tampak gagah setelah bebas.


Agam memposisikan diri di depan Arumi, kedua tangannya membuka lebar kaki Arumi agar memudahkan penyatuan.


Arumi tampaknya belum menyadari apa yang akan di lakukan Agam. Dia sibuk mengatur nafasnya dan mengembalikan tenaga yang terkuras.


"Sial.!" Umpat Agam lirih. Dia jadi berfikir keras bagaimana caranya menembus liang ini agar tidak gagal. Melihat liang itu sangat sempit, Agam yakin dia harus berusaha keras untuk memasukinya.


Bisa saja dia menembus paksa, tapi khawatir akan berakibat fatal. Selain Arumi yang pastinya akan kesakitan, Agam takut hal itu akan membuat Arumi trauma dan akan menolak jika diminta untuk mengulanginya lagi.


Perlahan Agam mulai mengarahkan benda tegak itu. Sensasi hangat yang dia rasakan ketika bersentuhan dengan liang Arumi, membuat gairahnya menggebu. Dia semakin tidak sabar untuk merasakan kehangatan dan sempitnya liang Arumi yang akan menggigit seluruh batangnya.


"Aww,, sakit.!" Arumi tiba-tiba berteriak dan memberingsut. Dia sampai mengubah posisi setengah duduk di ranjang.


"Om ngapain.? Punyakku sakit." Arumi melirik liang dengan menahan malu. Dia merasakan benda tumpul yang keras memaksa masuk.


"Kemari,," Agam menari pinggang Arumi dan membuat posisi Arumi seperti semula.


"Awalnya memang sakit, tapi hanya sebentar."


"Tahan saja," Tuturnya.


Ucapan Agam malah membuat Arumi semakin ketakutan. Dia baru sadar kalau benda tumpul tadi adalah milik Agam.


"Aku takut Om, sepertinya nggak akan muat." Arumi bergidik ngeri.


"Apa aku harus cari liang lain yang muat.?" Tanya Agam ketus. Dia mulai sewot karna batang itu tak kunjung di masukkan ke tempat semestinya. Sedangkan dia sudah tidak tahan lagi untuk memuntahkan lahar panas.