
"Aku nggak punya waktu untuk mengurusi hal seperti itu Arumi,,"
Agam terdengar menghela nafas di seberang sana. Sedangkan Arumi tampak mengerucutkan bibir sebagai bentuk kecewa terhadap Agam meski hanya melakukan panggilan suara.
"Tapi Om sudah janji akan membantuku kan.?" Ujar Arumi mengingatkan.
"Aku berubah pikiran." Tegas Agam acuh.
"Oomm,,," Arumi merengek seperti anak kecil yang keinginannya tidak di turuti. Bibirnya semakin mencebik kesal.
"Bagaimana dengan tawaranku.? Aku sudah bersedia memberikan apapun." Arumi berusaha keras membujuk Agam. Dia ingin membuat Agam mempertimbangkannya lagi meski Arumi tidak benar-benar yakin untuk memberikan apa yang Agam minta kemarin.
"Kamu bersedia menukar kepera -wananmu demi menolong sahabatmu.?" Nada bicara Agam terdengar meledek di seberang sana.
"Gea pasti akan senang memiliki sabahat seperti kamu." Ujarnya terkesan memuji. Tapi Arumi tau betul kalau sebenarnya Agam sedang menyindirnya.
"Om yang memintanya, jangan membuat seolah-olah aku yang ingin menukarnya." Gerutu Arumi.
"Pokoknya aku nggak mau tau, nanti sore aku akan membawa Gea datang ke rumah Om. Dan Om harus membawa Om Glen ke rumah.!" Arumi berucap tegas dan langsung memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Dia takut akan semakin kesal kalau terus berdebat dengan pria itu.
"Bagaimana Ar,,?" Suara Gea membuat Arumi sedikit tersentak. Entah sejak kapan sahabatnya ada di belakangnya. Padahal dia tadi pamit pada Gea untuk menelfon Agam dan sengaja mencari tempat yang cukup jauh dari tempat Gea duduk.
"Jangan khawatir, Om Agam sudah berjanji akan membantu. Nanti sore setelah selesai kuliah, kita langsung ke rumahnya."
"Baju dan barang-barang kamu di bereskan besok saja. Nanti malam kamu sudah bisa tinggal di rumahku. Aku sudah kirim pesan ke Mamah, dia sangat senang kalau kamu tinggal di rumah kami." Tutur Arumi dengan tatapan dan senyum yang tulus.
Mata Gea berkaca-kaca, dia kembali terharu dan merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Arumi. yang begitu peduli pada kehidupan dan masa depannya.
"Makasih Ar,," Gea memeluk erat Arumi seraya menahan tangsi.
"Sudah jangan begini, Aileen dan Sena datang." Arumi buru-buru melepaskan diri dari pelukan Gra lantaran melihat Aileen dan Sena sedang berjalan ke arahnya. Dia tidak mau membuat kedua sahabatnya itu curiga jika melihat Gea memeluknya dengan mata berkaca-kaca.
...*****...
"Tumben mengundangku." Seloroh Glen begitu dia masuk ke ruangan Agam.
Glen merasa heran ketika membuka pesan dari Agam 2 jam yang lalu. Pria itu memintanya datang ke kantor pukul 3. Tidak biasa Agam yang menghubunginya lebih dulu, apalagi mengajaknya bertemu. Glen tau betul seperti apa sahabatnya itu. Waktunya cukup mahal, Agam tidak mau bertemu selain urusan pekerjaan.
"Kamu ingin bertemu dengan gadis yang mencuri jam milikmu kan. Arumi akan membawanya ke rumahku sore ini." Ujar Agam menjelaskan.
Glen langsung mendekat dan duduk di depan meja kerja Agam.
"Jadi Arumi kenal dengan gadis itu.?" Glen tampak penasaran. Padahal dia tidak terlalu yakin saat meminta Agam menanyakan soal Gea pada Arumi. Tapi rupanya Arumi kenal dengan gadis itu dan bisa membawanya untuk bertemu.
"Lebih dari kenal. Mereka bersahabat." Jawab Agam nyaris tanpa ekspresi.
"Kebetulan macam apa ini." Gumamnya yang merasa pertemuannya dan Gea bukan pertemuan biasanya lantaran Gea berkaitan dengan Arumi yang merupakan tunangan Agam.
"Sudah jangan mengatakan hal yang nggak penting." Ucap Agam seraya membereskan berkas di meja kerjanya.
"30 menit lagi mereka sampai di rumahku." Agam kemudian beranjak dari duduknya, Glen menyusul dan mengikuti langkah Agam.
Mereka berdua bergegas keluar dari ruangan Agak dan meninggalkan kantor menuju rumah Agam menggunakan mobil mereka masing-masing.
Begitu sampai, Agam langsung mengajak Glen masuk ke dalam. Pria itu lantas mengeluarkan beberapa minuman kaleng dingin dan menyodorkan rokok di atas meja.
Bukan Glen namanya kalau tidak mengomentari rumah yang sempat di tinggali Agam bersama istrinya dulu. Sekalipun Glen tau kalau pemilik perumahan itu adalah Airlangga yang merupakan ayah kandung Agam, Tapi dia tidak habis pikir karna Agam mau menempati perumahan yang diperuntukkan untuk kalangan menengah ke atas.
"Bukan urusanmu aku mau tinggal dimana." Sahut Agam menohok. Glen hanya terkekeh, sedikitpun tak tersinggung dengan jawaban ketusnya.
"Aku mandi dulu." Agam beranjak dan pergi ke kamarnya.
Sementara itu, Gea tampak pucat setelah Arumi membelokkan mobilnya ke sebuah area perumahan. Walaupun dia sudah membawa sisa uang dari hasil menjual jam dan berniat akan mengembalikan semuanya, tapi tetap saja ada ketakutan tersendiri dalam diri Gea.
Dia juga tidak tau dengan cara apa mengembalikan sebagian uang yang sudah dia pakai. Hampir bernilai 100 juta, Gea menggunakan uang itu untuk diberikan pada orang tuanya agar bisa bertahan hidup selama di Surabaya nanti.
Gea beralasan jika uang itu adalah uang hasil tabungannya dari menyisihkan uang jajan selama 2 tahun terakhir.
Sedangkan sisanya lagi sengaja Gea simpan untuk biaya hidupnya selama tinggal di Jakarta seorang diri. Tapi kini harus dia kembalikan pada pemiliknya.
"Jangan takut Ge, aku yang akan menjamin kamu baik-baik saja. Percaya padaku,," Ucap Arumi menenangkan. Sejak tadi Gea memang tampak gusar dan panik. Kini wajah sahabatnya itu juga mulai pucat. Arumi tau kalau Gea sedang ketakutan. Dan ekspresi seperti itu juga yang Arumi lihat saat di acara pertunangannya.
"Bagaimana kalau Om Glen tetap ingin memenjarakan ku.? Jamnya sudah aku jual dan harga jualnya cukup miring dari harga asli." Gea menautkan kedua tangannya.
Entah bagaimana reaksi Glen setelah mendengar jam mahalnya di jual dengan harga kurang dari 200 juta. Sedangkan harga jam itu lebih dari 300 juta.
"Ada Om Agam, aku akan memintanya membujuk Om Glen. Tenang saja,," Ucap Arumi meyakinkan. Melihat Arumi yang sungguh-sungguh dan begitu yakin akan menolongnya, Gea perlahan mulai tenang.
Arumi memarkirkan mobil di depan rumah Agam. Ada dua mobil yang sudah terparkir di carport rumah Agam dan di sebelah rumah Agam yang kosong. Tepatnya rumah yang sebelumnya di tinggali oleh Bianca.
Arumi bisa menebak kalau mobil itu milik Glen. Dia lantas mengajak Gea untuk turun dari mobil.
"Ar, aku benar-benar taku." Gea berdiri di belakang Arumi untuk bersembunyi. Matanya sesekali melirik ke arah pintu rumah Agam yang terbuka.
"Ge, percaya padaku." Pinta Arumi. Dia benar-benar akan menjamin kalau Gea akan baik-baik saja.
"Aku berjalan di belakangmu saja." Ujarnya dan sedikit mendorong pelan bahu Arumi agar jalan lebih dulu.
Arumi yang mengerti hal itu, perlahan mulai melangkah maju dan masuk ke dalam rumah Agam.