
Agam memeluk tubuh istrinya dari belakang. Mengecup pundak Arumi yang memakai model dress dengan sedikit bagian bahu sedikit terbuka.
Tubuh Arumi terlihat semakin seksi dalam balutan dress yang pas di tubuhnya. Apalagi berat badan Arumi naik 4 kg dan dia baru tau tadi pagi setelah mengeceknya. Itupun karna Agam tidak sengaja berucap kalau tubuh istrinya semakin berat ketika dia menggendongnya.
"Jangan mulai, kita bisa terlambat." Arumi mendorong pelan wajah Agam lantaran kecupan di pundaknya semakin menjalar naik. Belum lagi dua tangan kekar yang sudah mengusap-usap bagian depan tubuh Gea.
"Aku ingin memakan mu lagi,," Bisik Agam dan sengaja menggigit kecil telinga Arumi untuk menggodanya. Tubuh Arumi bergidik, bulu kuduknya meremang hanya karna gigitan kecil di telinganya. Memang dasar mantan duda berpengalaman, sekali sentuh saja sudah bisa membuat pikiran Arumi melayang-layang.
"Jangan menggoda ku." Keluh Arumi seraya melepaskan dekapan Agam. Jangan sampai dia gagal pergi karna tergoda dengan sentuhan suaminya. Karna sejujurnya Arumi kesulitan menahan diri akhir-akhir ini. Bahkan 2 hari terkahir ini, dia yang meminta lebih dulu. Sepertinya hormon kehamilan membuat Arumi mudah terang-sang.
"Ayo berangkat, aku sudah siap." Arumi menyambar tas kecil di atas meja rias.
"Foto USGnya sudah di bawa.?" Tanya Agam mengingatkan. Arumi mengangguk dengan senyum merekah.
Sudah 1 minggu sejak mereka mengetahui kehamilan Arumi, keduanya sepakat untuk memberitahu orang tua mereka di waktu yang tepat. Tentunya menunggu orang tua mereka memiliki waktu luang agar bisa di ajak berkumpul bersama.
Memilih salah satu restoran mewah di jakarta, Agam memesan ruangan VIP untuk keluarga mereka. Padahal hanya untuk 5 orang saja, tapi sampai memesan ruangan VIP yang bisa menampung lebih dari 10 orang.
Tidak hanya itu saja, Agam juga meminta pihak restoran untuk mendekorasi ruangan itu agar lebih berkesan. Tentunya dekorasi itu tanpa sepengetahuan Arumi. Dia juga ingin memberikan surprise untuk istrinya. Menunjukkan pada Arumi bahwa kehamilannya sangat berharga, jadi harus di sambut dengan mewah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, keduanya sampai di restoran. Agam membukakan pintu untuk istrinya, kemudian merengkuh pinggang sang istri dan mengajaknya masuk ke dalam restoran. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh para pelayan restoran. Mungkin karna tamu VIP, atau bisa jadi karna Agam memberikan banyak tips untuk semua pelayan yang bertugas mendekorasi ruangan. Suasana hati pria tampan itu sedang berbunga, jadi tidak segan mengeluarkan banyak uang secara cuma-cuma. Anggap saja dia sedang berbagi sebagai bentuk rasa syukur karna akan di karunia 3 orang anak sekaligus.
"Pelan-pelan sayang, tidak usah buru-buru." Tegur Agam khawatir. Memikirkan ada 3 nyawa dalam perut Arumi, akhirnya membuat Agam jadi over protective. Selain tidak mengijinkan Arumi memakai sepatu hak tinggi, Agam juga akan menegur Arumi jika berjalan seperti orang normal yang sedang tidak hamil.
Benar-benar berlebihan menurut Arumi, padahal perutnya masih kecil, dia masih bisa berjalan normal dan menurutnya tidak akan berbahaya selagi memakai flatshoes.
"Sayang, kamu membuatku terlihat seperti orang sakit yang kesulitan berjalan." Keluh Arumi tapi dia tidak membantah perkataan Agam. Dia menghargai bentuk perhatian dan kekhawatiran Agam pada kondisinya serta ketiga anak mereka. Meskipun itu sangat berlebihan.
"Demi kamu dan anak-anak,," Bisik Agam lembut.
"Silahkan Tuan, Nona,," Seorang pelayan membukakan pintu ruangan VIP.
"Terimakasih Kak,," Ucap Arumi ramah.
Agam kemudian menuntun Arumi masuk ke dalam ruangan. Wanita cantik yang berbalut dress warna hitam itu tampak terkejut melihat ruangan itu di sulap seperti tempat untuk pesta ulang tahun mewah dan elegan. Bedanya tidak ada tulisan apapun, hanya dekorasi yang penuh bunga dan balon.
"Sayang,," Lirih Arumi dengan mata sudah berkaca-kaca. Agam mengusap lembut sebelah pipi Arumi.
"Kamu suka.?" Tanyanya.
Arumi mengangguk cepat dan langsung memeluk Agam.
"Aku terkejut. Kamu kenapa bisa memiliki ide untuk mendekorasi ruangan." Ujar Arumi yang tidak percaya suaminya bisa berfikir menyiapkan kejutan romantis seperti ini. Padahal Agam tidak pernah bersikap romantis sama sekali. Kecuali kalau sudah urusan ranjang.
"Edwin yang mengusulkan ide ini." Agam menjawab jujur.
Bibir Arumi langsung mencebik, dia melepaskan pelukannya sambil memukul pelan dada bidang Agam.
"Sudah ku duga.!" Gerutunya kesal. Jawaban jujur Agam malah merusak momen romantis yang baru saja Arumi rasakan. Harusnya tadi tidak usah bertanya sekalian. Padahal Arumi sudah menduga kalau mendekorasi ruangan ini bukan ide suaminya.
"Tapi aku yang mengurusnya sendiri, tidak menyuruh orang lain." Agam memberikan pembelaan agar usahanya juga terlihat.
"Baiklah,, aku hargai usahamu." Arumi meletakkan satu tangannya di rahang Agam dan memberikan kecupan singkat di bibirnya.
"Terimakasih, aku suka dekorasinya. Anak-anak pasti akan menyukainya juga kalau mereka bisa melihatnya." Tutur Arumi untuk menghibur Agam agar pria itu merasa usahanya berhasil.
Kotak berukuran kecil dengan hasil USG di dalamnya. Keduanya akan membuat orang tua mereka terkejut setelah membuka kotak itu.
Tapi sepertinya mereka sudah terkejut lebih dulu bahkan sebelum mengetahui anak-anak mereka menyiapkan 3 kotak hadiah.
Ketiga orang tua mereka tampak terkejut setelah masuk ke dalam ruangan. Ketiganya langsung menerka-nerka begitu melihat dekorasi di ruangan itu.
Baik Amira dan Hanna, kedua saling pandang seolah bertanya tanpa suara. Lalu sama-sama mengedikkan bahu tanda tidak tau.
"Kami pikir hanya makan malam biasa." Ujar Airlangga setelah melihat istri dan besannya saling terdiam karna terkejut.
"Apa Arumi ulang tahun.?" Tanyanya pada anak serta menantunya yang tengah berjalan mendekat ke arah mereka.
"Nanti kalian akan tau. Ayo duduk dulu,," Agam mempersilahkan ketiganya untuk duduk.
Tapi sebelumnya dia menyapa mertua dan kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Arumi. Terakhir memeluk sang Mama karna rindu setelah 1 minggu tidak bertemu.
"Kalian sampai menyiapkan hadiah untuk kami.?" Ujar Amira setelah duduk di kursinya dan menatap kotak hadiah berwarna navy dengan tali pita berwarna merah.
"Apa isinya.?" Tanya Hanna yang mulai penasaran. Dia sampai mengambil kotak itu.
"Kalian boleh membukanya sama-sama." Kata Agam.
Kedua wanita paruh baya itu langsung antusias membuka kotak di tangannya. Airlangga juga ikut membuka kotak karna ingin tau isinya.
Sementara itu, Arumi meraih tangan Agam di bawah meja dan menggenggamnya kuat. Dia sudah tidak sabar melihat reaksi bahagia ketiga orang yang akan dikaruniai 3 cucu sekaligus.
"Arumi,!"
"Agam.!"
Seru Amira dan Hanna bersamaan. Mata keduanya terbelalak sempurna melihat hasil USG dengan 3 kantong kehamilan yang begitu jelas.
"Arumi hamil.?" Ujar Airlangga setelah berhasil mengeluarkan isi di dalam kotak.
"Akhirnya Papa akan memiliki cucu." Ujarnya haru. Tapi sepertinya hanya Airlangga yang tidak paham kalau calon cucunya ada 3.
"Ya ampun,, Mama tidak percaya kamu hamil 3 sekaligus." Ujar Amira dengan air mata yang tidak terbendung.
"Aku akan punya 3 cucu." Sambung Hanna dengan tangis bahagia.
"Apa.? 3 cucu bagaimana.?" Airlangga tampak melongo.
Hanna kemudian menjelaskan pada suaminya dengan menunjuk 3 kantong kehamilan.
Airlangga sampai berdiri dan bersorak. Dia kemudian menghampiri menantunya untuk di peluk dan berterimakasih karna akan memberinya 3 cucu sekaligus.
Amira dan Hanna juga ikut menghampiri Arumi. Keduanya memeluk Arumi bersamaan setelah Airlangga melepaskan pelukannya.
Agam melongo melihat semua orang hanya berterimakasih pada Arumi. Padahal dia yang sudah menghamili Arumi, memberikan benih super hingga Arumi bisa mengandung 3 anak sekaligus. Tapi mereka malah mengabaikannya.
"Nasib,, nasib,," Gumam Agam lirih.