
"Kamu duluan aja Ar, aku mau ke toilet. Sakit perut nih,," Sena langsung buru-buru pergi, setengah berlari menuju toilet dekat parkiran sembari memegangi perutnya.
"Dasar, kebiasaan banget tu anak.!" Arumi bergumam seraya menggelengkan kepala, sahabatnya yang satu itu memang sering absen ke toilet saat baru sampai kampus.
Arumi bergegas pergi ke kelasnya. Sebelum masuk ke kelas, dia melihat Gea yang juga hendak masuk. Arumi memilih untuk menunggu Gea. Dia berdiri di depan kelas dan memperhatikan Gea yang semakin mendekat.
Cara berjalan Gea sedikit aneh, hal itu menjadi pusat perhatian Arumi. Dia terus memperhatikan cara jalan yang tidak seperti biasanya. Kedua pahanya sedikit renggang saat berjalan, seolah ada sesuatu yang mengganggu di antara kedua pahanya.
"Bukannya Gea baru putus.? Terus dia main sama siapa sampai jalannya jadi begitu." Arumi bergumam sangat lirih. Tatapan matanya berubah penuh curiga. Sebenarnya Arumi tidak mau mencampuri urusan pribadi Gea, dia juga sudah terbiasa mendengar Gea sering ber cinta dengan kekasihnya. Jadi hal seperti itu tak jadi masalah untuk Arumi.
Hanya saja saat ini Gea sedang tidak memiliki kekasih, itu yang membuat Arumi penasaran dan curiga pada sahabatnya itu. Arumi mencemaskan Gea, takut jika Gea ber cinta dengan sembarang laki-laki dan nantinya hanya akan merugikan diri sendiri.
Dari kejauhan Gea mulai salah tingkah melihat Arumi terus menatapnya. Dia sadar jika tatapan mata Arumi memperhatikan cara berjalannya.
Semalam Glen seperti kesetanan, Gea sedikit menyesal karna menawarkan diri untuk memijat Glen. Agaknya hasrat Glen semakin menjadi setelah merasakan sentuhan-sentuhan di bagian punggung.
Entah berapa kali Glen memindahkan burung ke sangkarnya, Gea tidak ingat lagi karna sudah setengah sadar lantaran terlalu lelah dan mengantuk. Tapi Glen masih saja memacunya walaupun tidak ada respon. Gea sampai tertidur di kamar Glen hingga pagi.
Seolah belum puas meniduri Gea tadi malam, Glen mengulanginya lagi saat Gea baru membuka matanya. Itu sebabnya dia jadi kesulitan berjalan karna merasakan perih dan sakit di bagian intinya akibat ulah Glen yang terlalu bar-bar.
"Kamu kenapa Ge.?" Akhirnya Gea mendengar pertanyaan itu dari mulut Arumi. Gea tidak kaget dengan pertanyaan Arumi karna sudah menduga sebelumnya. Sekarang Gea sedang bingung mencari jawaban yang masuk akal, tanpa harus jujur pada Arumi soal Glen.
"Kenapa apanya Ar.?" Gea pura-pura tidak tau arah pertanyaan Arumi.
"Kenapa jalannya seperti itu.?" Tanyanya. Arumi menatap Gea lekat-lekat, sekaligus mencari sesuatu yang mungkin bisa memperkuat dugaannya.
"Tadi pagi jatuh di depan kamar mandi, pantat dan pahaku sedikit sakit." Gea menjawab cepat tanpa menatap Arumi. Hal itu justru semakin membuat Arumi mencurigai Gea. Arumi merasa kalau Gea sedang berbohong, itu sebabnya Gea tidak berani menatap matanya.
"Aku pikir kamu balikan lagi sama Sean." Seloroh Arumi. Dia tak mau terlalu mendesak Gea meskipun yakin kalau Gea sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Gea mengulas senyum kikuk, dia paham maksud perkataan Arumi.
"Dia udah bahagia sama Selly." Ujar Gea seraya memasang wajah sendu. Sebenarnya dia sudah tidak peduli lagi dengan Sean, hatinya terlanjur sakit. Tapi untuk mengalihkan perhatian Arumi, Gea pura-pura sedih membahas tentang Sean.
"Kamu juga berhak bahagia Ge, masih banyak laki-laki yang lebih baik dari Sean." Tutur Arumi menyemangati. Gea mengulas senyum lebar sembari mengangguk. Keduanya kemudian masuk ke kelas.
...****...
"Gaes,, katanya ada dosen baru yang bakal gantiin Pak Zidan." Aileen yang baru masuk ke kelas, langsung menghampiri ketiga sahabatnya dan memberikan gosip terbaru.
"Pak Zidan aja masih ngajar kemaren, kamu yang bener aja." Seloroh Gea tak yakin.
"Ya ampun Ge, skandal Pak Zidan dan Sarah sudah menyebar ke seluruh kampus. Sebentar lagi mereka juga bakal di depak dari kampus kita." Ujar Aileen berapi-api. Aileen jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada dosen dingin dan killer itu.
"Memang dasar laki-laki buaya, sudah punya istri cantik masih aja selingkuh. Sama muridnya sendiri pula." Cibirnya geram.
"Sssttttt,,, Mulut kamu Ai, pagi-pagi udah ngomongin orang." Arumi menutup mulut Aileen dengan telapak tangannya.
Aileen buru-buru menyingkirkan tangan Arumi.
"Habisnya kelakuan dosen yang satu itu bikin orang naik darah. Kurang apa coba istrinya.?" Aileen masih saja emosi dan terus mencibir dosennya.
"Kurang panas kali." Seloroh Sena asal. Gea, Arumi dan Aileen langsung memberikan lirikan tajam pada Sena.
"Hehe,, aku cuma bercanda." Kata Sena seraya menyengir kuda.
...*****...
Arumi meninggalkan parkiran kampus dengan seulas senyum yang mengembang di wajah cantiknya. 2 jam lalu Agam mengirimkan pesan padanya, memintanya untuk datang ke kantor jika sudah pulang kuliah.
Sampainya di kantor, Arumi bergegas ke ruangan Agam. Pria itu memang sudah menyuruh Arumi agar langsung ke ruangannya.
"Siang Om,,," Sapa Arumi begitu membuka pintu. Senyumnya merekah ketika melihat Agam, berbeda dengan Agam yang memasang wajah datar.
"Aku beli kopi buat Om,," Arumi duduk di depan meja Agam dan meletakkan paper bag bertuliskan starbucks. Dia mengeluarkan satu kopi untuk Agam dan orange drink miliknya.
"Kamu bisa jelaskan ini.?!" Agam menyodorkan beberapa lembar foto pada Arumi.
Arumi meletakkan minumannya yang tidak jadi dia minum karna terkejut melihat foto di tangan Agam.
"Darimana Om dapat foto-foto ini.?" Tanyanya heran.
Arumi mengambil semua foto dari tangan Agam. Foto dirinya bersama dosen baru di parkiran kampus dalam posisi seperti sedang berpelukan. Yang pasti foto itu di ambil diam-diam oleh seseorang ketika Arumi hampir jatuh di tangkap oleh dosen itu. Ada 3 lembar foto dirinya dengan pria itu yang bahkan Arumi sendiri belum tau namannya. Tapi pengambilan foto itu seolah-olah memperlihatkan jika Arumi dan pria itu ada hubungan khusus.
Tak hanya foto dengan dosen baru, di tangan Arumi juga ada foto Zayn bersama dirinya. Arumi ingat betul jika di dalam foto itu, dia sedang berdebat dengan Zayn lantaran laki-laki itu terus mengejarnya. Ada foto di mana Zayn tengah memegang tangan Arumi, saat itu Arumi menepis tangan Zayn dan buru-buru pergi.
"Nggak penting aku dapat dari siapa.!" Ketus Agam dingin.
"Jelaskan saja mereka siapa dan ada hubungan apa sama kamu." Agam menatap tajam.
Arumi meletakkan semua foto di atas meja. Dia menarik nafas dalam ketika melihat tatapan mata Agam di penuhi amarah dan kekesalan.