
"Kalian kenapa sudah pulang.?" Amira menatap anak dan menantunya dengan dahi berkerut. Kepulangan mereka tentu saja mengejutkan Amira. Pasalnya mereka di beri waktu selama 3 hari untuk menginap di kamar yang bahkan di siapkan khusus oleh Hanna, agar menantu dan putranya bisa menikmati indahnya malam pertama mereka.
"Kelihatannya Mama nggak suka aku kembali ke rumah." Ujar Arumi kecewa. Bukannya di sambut dengan pelukan, sang Mama justru tampak heran melihatnya pulang ke rumah.
"Mama dan Papa hanya menikahkanku dengan Kak Agam, bukan menjualku padanya." Selorohnya lagi. Amira melotot di buatnya.
"Sayang, kamu itu bicara apa." Ujar Amira dengan senyum kikuk. Putrinya itu benar-benar asal bicara saja dan membuatnya malu di depan menantu.
Agam bahkan sampai melemparkan lirikan tajam pada istrinya itu karna bicara sembarangan pada orang tuanya sendiri. Apalagi melihat Mama mertuanya tampak menahan malu.
"Saya ada keperluan mendesak nanti siang, jadi terpaksa checkout lebih awal." Tutur Agam. Dia mengalihkan obrolan agar Arumi tidak terus-terusan menimpali ucapan Amira dengan perkataan yang mungkin akan membuat Mama mertua malu di depannya.
Amira mengangguk paham setelah mendengar pejelasan dari Agam.
"Mama pikir terjadi sesuatu." Ujarnya bernafas lega. Amira hanya khawatir, takut ada masalah yang terjadi pada pasangan pengantin baru itu sampai buru-buru keluar dari hotel.
"Sudah pasti terjadi sesuatu disana, kami kan pengantin baru Mah. Masa Mam,,," Agam menutup mulut Arumi menggunakan telapak tangannya. Istrinya itu benar-benar tidak bisa menjaga privasi. Agam sudah bisa menebak apa yang akan di ucapkan oleh Arumi selanjutnya. Kalau saja tidak buru-buru di tutup, sudah bisa di pastikan Agam harus menahan malu di depan Mama mertuanya karna Arumi mengumbar privasi mereka.
"Sayang,, kamu sudah terlalu banyak bicara." Agam berbisik penuh penekanan dan melepaskan tangannya dari mulut Arumi. Agam berbicara sembari tersenyum di depan Mama mertuanya agar tidak dicurigai sedang memberikan peringatan pada Arumi.
Arumi yang paham dengan teguran Agam, kini malah menyengir kuda dengan santainya.
""Papa dimana Mah.?" Tanya Arumi sembari melenggang masuk. Amira menyusul, berjalan beriringan dengan putrinya. Sedangkan Agam mengikuti mereka di belakang.
"Belum pulang dari semalam, ada urusan di Jakarta." Jawab Amira dan mengarahkan Arumi untuk duduk di ruang keluarga.
"Sepertinya akhir-akhir ini Papa sering ke luar kota." Komentar Arumi. Dia memperhatikan 1 bulan terakhir Papanya sering pergi karna urusan pekerjaan dan berakhir tidak pulang kerumah meski hanya 1 ataupun 2 hari.
Padahal sebelumnya tidak se intens itu. Baling banyak 3 kali pergi kel luar kota dalam sebulan. Itupun jarang menginap, pasti menyempatkan buntuk pulang walapun sampai di rumah pukul 3 pagi. Tapi akhir-akhir ini hampir 1 minggu sekali pasti pamit ke luar kota dan menginap.
"Ada sedikit masalah di kantor cabang, jadi harus segera di tangangi sebelum masalahnya semakin besar." Jawab Amira. Dia lantas memanggil asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman.
Agam duduk di kursi terpisah dan sudah mengeluarkan laptopnya. Dia merasa kalau kesibukannya kali ini mungkin akan sedikit menciptakan masalah dalam hari-harinya ke depan. Mengingat sekarang sudah ada Arumi di sampingnya. Jika dia hanya fokus dan dan di sibukan dengan pekerjaan sampai tidak memiliki waktu untuk Arumi, sudah pasti kehidupan rumah tangganya saat ini akan mengikuti jejak rumah tangganya dan Karina waktu itu. Bedanya kali ini Agam yang sibuk dengan pekerjaan.
"Selesaikan pekerjaannya di kamar ku saja Kak, biar bisa fokus." Tutur Arumi.
Dia sebenarnya kesal kalau Agam lebih sibuk dengan pekerjaan, tapi melihat Agam kebingungan meletakkan laptop, Arumi jadi kasihan.
"Sudah sana antar Agam ke kamarum6 dulu." Amira mendorong pelan bahu putrinya agar beranjak untuk mengatakan Agam ke kamar.
Keduanya kemudian pamit pada Amira untuk pergi ke kamar.
Siang itu Arumi ikut bersama Agam ke restoran. Tangannya mendekap erat lengan kekar Agam, seakan takut jika lengan kekar itu berpindah tangan ke wanita lain, mengingat di sana banyak wanita berpakaian seksi dan tentunya sangat menggoda mata laki-laki.
Agam mengajak Arumi masuk ke ruang VIP. Gadis itu tersenyum lega. Tak perlu khawatir suami tampannya menjadi pusat perhatian wanita-wanita di sana karna Agam memilih ruangan VIP. Terhindar dari pemandangan yang bisa merusak suasana hati.
Ketika masuk ke ruangan, di dalam sudah ada Edwin dan Gino, serta 2 orang manager di bagian divisi.
Melihat ada 4 orang pria dewasa di dalam ruangan privasi itu, Arumi mendadak menyesal sudah meminta ikut dengan Agam.
Mereka berdiri, menyapa dan membungkuk sopan pada pimpinan perusahaan.
Agam membalas sapaan mereka, begitu juga dengan Arumi yang tersenyum sopan. Keduanya kemudian bergabung, duduk bersebelahan di depan 4 orang itu.
Tatapan mereka pada pasangan pengantin itu sedikit berbeda. Arumi sampai menundukkan pandangannya ketika menyadari tatapan mata mereka. Arumi jadi sedikit risih. Merasa kegiatan panasnya sebagai pasangan pengantin baru di bayangkan oleh mereka.
"Sayang, aku tunggu di luar saja ya.?" Arumi meminta ijin, tentu hanya berbisik agar tidak di dengar oleh orang lain.
"Tetap disini, hanya 2 jam." Jawab Agam datar. Dia langsung membuka laptopnya dan menginterupsi Edwin untuk memulai meeting.
Arumi terpaksa diam di tempatnya, dia menjadi pendengar yang baik meski tidak paham pembahasan mereka mengenai perusahaan.
Sesekali Arumi menyeruput jus yang sudah tersedia di atas meja, terkadang juga memperhatikan Agam ketika pria itu sedang fokus bicara. Suaminya itu terlihat semakin berwibawa dan gagah. Seakan ada daya tarik tersendiri yang membuat semua mata tertuju padanya hingga fokus mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Agam.
"Baik Tuan, di mengerti." Ujar Dino ketika diminta Agam untuk menyusun agenda selanjutnya.
Arumi mulai bosan, sudah 1 jam dia hanya menyimak dan menjadi pendengar setia walaupun tidak paham apa yang mereka bicarakan.
Dia menyentuh pinggang Agam supaya suaminya itu menoleh padanya.
Agam menggerakkan sebelah aslinya setelah menoleh.
"Aku ke toilet sebentar." Ucap Arumi yang langsung di respon dengan anggukan kepala oleh Agam. Pira itu mengijinkan Arumi keluar karna istrinya itu mau ke toilet, kalau bukan karna ingin ke toilet, mungkin Agam tidak akan mengijinkannya. Dan hal itu sebenarnya hanya alasan Arumi saja. Dia memang ingin ke toilet, tapi setelah itu akan menunggu di luar beberapa saat agar tidak terlalu bosan.
"Apa Papa nggak cape puluhan tahun membahas obrolan membosankan seperti itu." Gumam Arumi begitu keluar dari ruang VIP. Dia tak habis pikir dengan orang tuanya yang sampai detik ini masih semangat memimpin perubahannya. Padahal ada beberapa saudara Papanya yang bisa di percaya untuk melanjutkan perusahaan, tapi Papanya malah memimpin sendiri sampai detik ini.
Merogoh ponsel di dalam tas, Arumi berjalan menuju toilet sembari memainkan ponselnya.
Kecerobohannya itu membuatnya menabrak seseorang. Ponsel di tangannya bahkan sampai jatuh dan terpental.
"Maaf, aku,,,," Arumi sedikit terkejut melihat orang yang baru saja dia tabrak. Melihatnya membuat Arumi ingat dengan perbuatan licik Livia yang sudah memfitnahnya.