
"Ponselnya sedikit retak." Kata pria yang tidak sengaja di tabrak oleh Arumi.
Pria itu mengambilkan ponsel Arumi di kolong meja, cukup jauh dari tempat kejadian karna terpental. Layar ponsel Arumi jadi sedikit rejak di bagian pojok.
"Nggak masalah. Makasih Pak,," Arumi menerima ponselnya dari tangan pria itu, pria yang tak lain adalah dosen baru di kampus. Meski sampai sekarang dosen iu belum menggantikan posisi Zidan.
"Saya Bima,," Dosen muda itu mengulurkan tangan pada Arumi untuk berkenalan. Arumi sedikit ragu menerima uluran tangannya, dia masih takut kejadian itu terulang lagi. Walapun Agam sudah memberikan peringatan pada Livia, tapi siapa tau wanita itu diam-diam masih mengikuti Arumi untuk memotret pergerakan Arumi jika sedang berinteraksi dengan pria. Jangan sampai Livia kembali memfitnahnya menggunakan foto-foto sampah seperti itu.
"Aku tampangku seperti penjahat.?" Bima terkekeh lantaran Arumi ragu menjabat tangannya.
Senyum Bima tampak manis dan menawan. Kalau saja belum mengenal Agam, Arumi pasti akan mengakui kalau pria itu paling tampan. Tapi sayangnya Agam jauh lebih tampan.
Arumi menggeleng cepat, rasanya tidak ada penjahat setampan itu. Lagipula Arumi juga sudah tau siapa Bima. Pria itu mana berani macam-macam pada mahasiswa di kampus tempatnya mengajar.
Arumi hanya takut ada yang mengabadikan momen saat dia sedang berjabatan dengan Bima.
Tapi memikirkan Bima yang nantinya akan menggantikan dosen di kelasnya, Arumi jadi was-was. Dia tidak mau di anggap sombong dan tidak sopan pada dosennya.
Mungkin tidak akan masalah jika menerima jabatan tangan Bima, tapi setelah itu cepat-cepat menariknya lagi.
"Saya Arumi, Pak,," Arumi benar-benar langsung menarik tangannya setelah 1 detik bersentuhan dengan tangan Bima.
Lagi-lagi dosen muda itu dibuat terkekeh geli dengan tingkah lucu Arumi. Baru kali ini ada wanita yang takut di ajak kenalan. Sampai jabatan tangan saja hanya berdurasi 1 detik. Mirip salam tempel, bedanya yang ini bukan salam tempel pakai uang.
"Kita pernah bertemu di parkiran kampus." Tutur Bima yang masih ingat kejadian waktu itu ketika tidak sengaja menolong Arumi.
"Ah iya, Pak Bima menolong saya waktu itu. Makasih,," Arumi tersenyum kikuk. Obrolannya dengan Bima sangat kaku, padahal Bima terlihat santai.
"Hmm,, kebetulan saja." Sahut Bima.
"Kamu fakultas kedokteran.?" Tanyanya dan langsung di iyakan oleh Arumi.
"Kebetulan saya akan menggantikan Pak Zidan mulai munggu ini." Tuturnya. Ternyata memang benar posisi Zidan akan di gantikan oleh Bima.
"Pak Zidan meninggalkan PR untuk saya, ada beberapa anak yang sedikit bermasalah."
"Apa kamu ada waktu sebentar.? Mungkin kamu bisa memberi keterangan tentang anak-anak itu. Mereka satu kelas dengan kamu."
Penutur Zidan membuat Arumi mengerutkan kening. Sedikit curiga karna Bima bisa tau kalau dia satu kelas dengan mahasiswa yang sedikit bermasalah itu. Padahal Bima belum pernah masuk ke kelasnya.
"Aku pernah melihat kamu masuk ke kelas." Lanjut Bima, dia seolah tau kecurigaan yang di rasakan oleh Arumi. Apa lagi tatapan mata Arumi, seakan ingin menginterogasinya.
Arumi hanya ber O ria sembari menganggukkan kepala beberapa kali. Sempat menaruh curiga, tapi jawaban Bima cukup menyakinkan.
Kini Arumi duduk berhadapan dengan Bima di meja yang sama. Dosen muda itu sudah membuka laptopnya.
"Jadi mereka berdua sering bolos kelasnya Pak Zidan.?" Bima memastikan. Arumi hanya menjawab yang dia tau, tapi tidak membuat kedua teman sekelasnya semakin terlihat buruk di mata para dosen.
Sudah lebih dari 30 menit Arumi tidak kembali. Agam sampai menghela nafas setelah bicara panjang lebar di depan bawahannya. Dia jadi tidak konsetrasi karna memikirkan Arumi yang belum kembali dari toilet. 30 menit lebih bukan waktu sebentar, bahkan Agam akan menyelesaikan meeting 10 menit lagi. Menunggu sampai sekretarisnya mencatat poin-poin penting dalam pembahasan tadi.
Agam mengakhiri meeting dan pamit keluar dari ruangan. Dia langsung merogoh ponsel untuk menghubungi Arumi. Sebenar bisa saja tadi menghubungi Arumi saat masih di dalam, tapi semua orang sedang fokus dan tidak ada yang mengutak-atik ponselnya masing-masing.
Saat akan menelfon, nertranya menangkap sosok yang dia cari. Istrinya itu sedang duduk di salah satu meja restoran dengan seorang pria. Agam tidak tau siapa pria itu, karna posisi duduknya membelakangi posisi dimana Agam berdiri.
Sorot mata Agam berubah tajam, dia kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celana dan segera menghampi Arumi.
"Ini yang kamu maksud toilet.?" Sura dingin Agam membuat Arumi tersentak kaget. Ekspresi wajahnya mendadak panik, dia tidak sadar kalau sudah terlalu lama mengobrol dengan Bima.
"Kak, aku,,," Arumi tidak meneruskan ucapannya ketika melihat tatapan mata Agam tertuju pada Bima. Agam memperhatikan wajah Bima lekat-lekat, meski baru melihat lewat foto, tapi Agam tidak lupa dengan wajah pria yang ada di foto itu bersama Arumi.
"Ada urusan apa kamu sama Arumi.?!" Agam berkata sinis pada Bima.
"Kak, ini Pak Bima. Dosen di kampusku." Ujar Arumi, dia berharap Agam tidak akan marah pada Bima, apalagi membuat keributan dengan dosen itu.
"Aku bertanya padamu.!" Sentak Agam ketus. Bima tersnyum tenang, kemudian beranjak dari duduknya.
"Saya meminjam adik Anda sebentar. Hanya membahas masalah di kampus." Ujar Bima. Agam sontak melotot karna Bima mengira dia dan Arumi kakak beradik. Agam hendak protes dan memberitahu status mereka, tapi mengingat pria itu adalah dosen Arumi, Agam jadi mengurungkan niatnya.
"Ayo pulang." Agam menggandeng tangan Arumi dan menariknya pelan untuk pergi sana.
Enggan membuat masalah semakin besar, menuruti perkataan Agam tanpa protes.
"Maaf Pak Bima, saya duluan." Arumj sempat pamit karna tidak enak hati pada Bima. Dosennya itu pasti merasa tidak nyaman dengan sikap dan tatapan mata Agam.
"Kak, dia dosenku. Aku kebetulan tidak sengaja menabraknya saat akan pergi ke toilet."
"Kami duduk di sana karna dia butuh informasi teman sekelasku yang sering bolos."
"Jadi,,," Arumi langsung berhenti bicara ketika mendapat tatapan tajam dari Agam.
Ternyata percuma saja dia menjelaskan panjang lebar, sepertinya Agam tidak peduli.
"Masuk.!" Titah Agam setelah membukakan pintu mobil untuk Arumi. Gadis berwajah lesu itu langsung patuh. Lagipula tidak mungkin dia berani membantah dalam situasi seperti ini.
Agam menyusul masuk, duduk di depan kemudi tanpa bicara apapun dan melajukan mobilnya.
Jangan di tanya bagaimana raut wajah Agam. Pria itu masih memasang wajah dingin dan tatapan tajam yang membuat Arumi bergidik ngeri.
"Maaf,," Lirih Arumi. Dia senyesal karna menyetujui permintaan Bima. Harusnya dia menolaknya saja agar kesalahpahaman seperti ini tidak terjadi.
"Nggak perlu minta maaf, aku sudah menyiapkan hukuman yang pantas untukmu." Sahut Agam tanpa menoleh sedikitpun.