
Gea sedang bersiap di kamarnya. Gadis itu harus datang lebih awal dari tamu undangan lainnya karna akan menjadi bagian penting dalam pernikahan sahabatnya. Begitu juga dengan Aileen, dan Sena. Ketiganya akan turut serta mengantarkan Arumi ke pelaminan.
Gea hanya membubuhi make up tipis di wajahnya untuk pergi ke tempat acara, karna di sana dia beserta Aileen dan Sena akan di make up ulang oleh pihak MUA. Gadis berambut hitam pekat itu membalut tubuhnya dengan gaun yang sudah di persiapkan oleh Arumi untuk ketiga sahabatnya sejak beberapa minggu lalu.
Suara pintu yang di buka membuat Gea menoleh. Glen berdiri di ambang pintu, tangannya masih memegangi handel pintu dengan tatapan lurus ke arah Gea. Gadis yang di tatap itu melempar senyum manis, tapi Glen tak memberikan respon baik. Pria itu justru menatap tegas dengan wajah datarnya.
Pandangan mata Gea terus tertuju pada Glen, senyumnya tak surut meski tidak mendapatkan respon yang sama dari pria itu. Tetap pada rencananya, Gea harus bersikap manis untuk menarik perhatian Glen dan mendapatkan hatinya.
Dendamnya mungkin keliru, dia akan melibatkan dan menyakiti orang yang tidak bersalah. Tapi Sean harus mendapatkan pelajaran berharga agar tidak menyakiti wanita sesuka hatinya.
Jika itu terjadi pada keluarganya, Sean mungkin baru akan menyadari kesalahan yang telah dia perbuat.
"Om mau pergi jam berapa.?" Gea membuka pembicaraan lebih dulu. Sementara Glen sudah berdiri di depan Gea.
"Aku akan membawa kekasihku." Ujar Glen datar.
"Saat di acara nanti, bersikaplah seolah-olah kita belum pernah bertemu sebelumnya." Glen berucap tegas serta menekankan kalimatnya. Seakan takut jika hubungan gelapnya dengan Gea tercium oleh kekasihnya.
Senyum manis Gea berubah kaku. Sempat terdiam beberapa saat untuk memahami isi hatinya sendiri yang tiba-tiba terasa nyeri ketika Glen memintanya untuk pura-pura tidak saling mengenal. Gea buru-buru menepis perasaannya, dia tidak mau jatuh cinta dulu pada Glen sebelum pria itu yang lebih dulu mengatakan cinta padanya. Karna rasa sakit hatinya pada Sean harus terbalaskan.
"Jangan khawatir Om, aku mengerti bagaimana harus bersikap." Sahut Gea kemudian beranjak dari duduknya. Dia sudah selesai memoles wajahnya dan akan segera berangkat ke tempat acara.
"Bagus kalau kamu sudah mengerti tanpa harus aku jelaskan panjang lebar." Balas Glen datar.
Tersenyum samar, Gea hanya merespon dengan anggukan kecil.
Sikap Glen sangat berbeda, Gea sampai merasa kalau pria itu memiliki kepribadian ganda. Jika sedang berinteraksi, Glen cenderung bersikap arogan, seperti tidak punya hati. Berbanding terbalik ketika mereka sedang ber cinta. Glen tiba-tiba berubah lembut dan romantis, sangat hangat memperlakukan Gea.
"Aku pergi dulu Om," Gea pamit dan meninggalkan kamarnya tanpa menunggu respon dari Glen.
Sedangkan pria itu hanya diam saja melihat Gea berlalu dari sana.
...******...
"Sini biar aku pasangkan,," Dengan senyum yang merekah dan mata berbinar khas orang sedang jatuh cinta, Arumi meraih tangan Agam yang tengah duduk di sebelahnya. Gadis itu memasang kancing kemeja di pergelangan tangan Agam.
Agam tampak santai saja dan memasang wajah datar dan dingin seperti biasa. Tapi tak membuat ketampanannya berkurang. Justru ekspresi wajahnya selalu membuat orang penasaran pada sosoknya.
"Satunya,," Arumi mengulurkan tangan untuk meraih sebelah tangan Agam. Pria itu memberikan tangannya lagi tanpa mengatakan apapun, tapi sejak tadi memperhatikan apa yang sedang di lakukan oleh calon istrinya itu.
"Selesai,," Seru Arumi yang tampak sangat senang bisa membantu Agam memasangkan kancing kemejanya.
"Makasih." Meski pengucapannya datar, tapi terdengar tulus.
"Kata Mama Hana, dia sudah menyiapkan kamar di hotel ini untuk kita." Tutur Arumi antusias. Membayangkan malam pertamanya di sebuah hotel membuat suasananya hatinya semakin membaik. Semua itu berkat kejujuran Agam di waktu yang tepat. Dia berhasil membuat kekecewaan dan kekesalan Arumi sirna seketika setelah mendengar pengakuan cintanya.
"Aku cuma kasih tau Om saja. Kata Mama Hana, Om belum di kasih tau."
"Kita akan menginap berapa hari Om.?" Tanyanya,. Arumi masih antusias membahas kamar hotel untuk malam pertamanya dengan Agam. Dia seolah tidak sadar kalau Agam sedang ketar-ketir menahan malu di depan para wanita.
"Arumiii,,," Seru ketiga sahabat Arumi yang baru masuk ke ruang make up.
Agam langsung bernafas lega. Kedatangan mereka bertiga bisa menyelamatkannya dari rasa malu akibat pembahasan malam pertama.
Agam sempat melihat MUA dan beberapa asistennya saling pandang saat Arumi membahas masalah kamar. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Mungkin mereka menganggap Arumi dan dia sudah tidak sabar untuk belah duren.
"Ya ampun,, kamu seperti princess,,," Puji Aileen penuh kekaguman. Arumi memang sudah cantik dari lahir, sekarang kecantikannya berkali-kali lipat setelah di dandani dan memakai gaun pengantin.
Sena dan Gea juga tidak ketinggalan memberikan pujian untuk Arumi. Kedatangan mereka bertiga membuat ruangan make up semakin ramai.
"Berhenti memujiku seperti itu, kalian sangat berlebihan." Ujar Arumi dengan pipi yang semakin merona karna terus di puji oleh sahabatnya.
"Kalian juga harus di make up agar semakin cantik, sudah sana." Arumi menyuruh mereka pergi untuk di make up.
...******...
"Aku sangat gugup Om,," Arumi setengah berbisik. Menjadi pusat perhatian banyak orang membuatnya tidak begitu percaya diri. Padahal Agam ada di sampingnya.
"Santai saja,," Agam mengusap punggung tangan Arumi yang ada di atas pangkuan gadis itu.
Sentuhan tangan Agam sedikit mengurangi kegugupannya.
Acara pernikahan itu seger di mulai. Suasana cukup hening dan sakral. Tangis hari dan bahagia menyelimuti kedua orang tua mereka.
Begitu juga dengan tamu undangan yang ikut merasakan kebahagiaan.
Kini Arumi dan Agam sah menjadi suami istri.
Di iringi oleh kedua orang tua mereka, keluarga dan sahabat Arumi serta beberapa teman dekat Agam, termasuk Glen, pengantin baru itu di antar ke pelaminan yang cukup megah dan mewah.
Arumi tidak bisa membendung kebahagiaannya. Dia sempat meneteskan air mata karna terlalu bahagia. Mimpinya untuk bisa memiliki Agam seutuhnya akhirnya terwujud. Kini orang-orang yang berharga dalam hidupnya bisa menjadi saksi dan mengantarnya ke pelaminan bersama Agam.
Mereka kemudian melakukan sesi foto bersama. Di balik senyum semua orang yang tampak bahagia, ada hati yang sesak karna menahan cemburu. Ya, dia adalah Gea.
Gadis itu harus melihat kemesraan Glen dengan Adeline, tepat di depan matanya.
Bahkan Adeline lebih dulu menghampiri Gea beberapa 30 menit yang lalu. Adeline memperkenalkan Glen pada Gea sebagai calon suaminya. Bagaimana Gea bisa bersikap biasa tanpa merasakan sakit. Sedangkan kedekatan dia dan Glen sudah sangat intim.