
Tangis Arumi bahkan belum sempat reda, tapi Agam kembali membuat gadis cantik itu menangis. Kali ini tangis yang di penuh kebahagiaan. Pasalnya Agam mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam dan memperlihatkannya liontin berlian.
"Om sengaja menghilang tanpa kabar ya.?!" Kata Arumi di tengah isak tangisnya. Agam tidak langsung menjawab, pria itu malah memasangkan liontin di leher Arumi.
"Aku memang ke luar kota karna urusan pekerjaan, besok bahkan harus berangkat lagi." Ujar Agam selesai memasangkan liontin sebagai kado utama ulang tahun Arumi.
Arumi menyentuh liontin yang bertengger di lehernya, dia mengukir senyum melihat liontin berbentuk hati yang bertabur berlian.
"Makasih Om,," Arumi kembali menghambur ke pelukan Agam. Kekecewaan yang sempat dirasakan oleh Arumi, kini terhapus tanpa bekas setelah Agam datang untuk mengucapkan selamat dan memberikan kado istimewa.
Seperti itulah cinta Arumi pada Agam. Gadis itu juga mudah luluh dan memaafkan.
"Sudah jangan di peluk terus, Agam nggak akan terbang." Seloroh Andrew pada putrinya. Pipi Arumi tampak merona menahan malu. Dia lalu melepaskan pelukannya.
"Om, Tante,," Agam lantas menjabat kedua calon mertuanya bergantian.
"Nak Agam mau makan dulu.? Biar Tante pesankan makanannya." Tawar Amira.
"Terimakasih Tante, saya sudah makan saat di pesawat." Agam menolak halus.
"Kalau begitu kita langsung pulang saja, sudah malam." Andrew mengajak mereka meninggalkan restoran. Lagipula sebentar lagi restorannya tutup. Mereka hanya menyewa sampai jam 11 malam saja.
"Biar Arumi pulang sama saya saja." Kata Agam meminta ijin. Arumi menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan antusias. Akhirnya akan ada momen berdua dengan Agam di hari ulang tahunnya.
"Ya sudah, kalau begitu Papa dan Mama pulang duluan. Mang Asep sudah menunggu di mobil." Pamit Andrew pada anak dan calon menantunya.
"Kalian hati-hati di jalan, jangan lupa langsung pulang ke rumah." Pesannya dan melirik Agam di akhir kalimat. Agam tentu paham alarm bahaya sedang mengintai. Amira mungkin takut Arumi di bawa singgah ke suatu tempat lebih dulu sebelum di antar ke rumah.
"Iya Tante, kami langsung pulang." Jawaban Agam terdengar tidak memuaskan di telinga Arumi.
"Tapi Mah, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Kak Agam." Arumi sedikit merengek dengan tatapan memohon.
"Hanya pergi ke taman kota. Kita butuh mengobrol berdua." Tuturnya penuh harap.
Andrew dan Amira sempat saling pandang. Sebagai orang tua mereka berdua punya tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi putrinya.
Walaupun Agam akan menjadi bagian keluarga, Andrew dan Amira tetap memiliki kecemasan serta kekhawatiran sendiri akan keselamatan putrinya di tangan Agam. Terutama Amira, dia khawatir dua sejoli itu berbuat sesuatu yang nantinya hanya akan menimbulkan kerugian bagi putrinya.
"Lain kali saja, ini sudah malam." Ujar Agam. Dia enggan menuruti permintaan Arumi. Terlebih saat melihat kekhawatiran di wajah Amira.
"Tapi ini hari ulang tahunku. Sebentar saja kita di taman kota." Wajah Arumi berubah sendu. Dia benar-benar ingin di berduaan dengan Agam di hari ulang tahunnya meski hanya sebentar.
"Bagaimana mana kalau mengobrolnya di rumah saja. Mama dan Papa akan lebih tenang kalau kalian di rumah, ini sudah terlalu malam." Amira memberi usul. Dia jadi tidak akan was-was memikirkan putrinya yang masih berada di luar di saat sudah larut malam.
...******...
Duduk di ruang keluarga, tv berukuran besar itu menayangkan film Hollywood dan hanya menjadi penonton dua sejoli yang sedang duduk bersebelahan.
Ya, mereka berdua akhirnya setuju dengan usul Amira untuk pulang ke rumah dan di ijinkan untuk mengobrol di sana.
"Aku pikir Om akan tega membiarkanku tersiksa setiap waktu." Keluh Arumi. Dia lantas meletakkan kepalanya di pundak Agam dan mendekap lengan kokohnya.
"Aku sedih sepanjang hari karna Om menghilang tanpa kabar. Aku benar-benar frustasi memikirkannya." Arumi mengadu pada orang yang sudah membuatnya kacau beberapa hari terakhir.
Agam hanya tersenyum tipis. Walaupun dia sedikit menyesal karna melihat Arumi terlihat sangat menyedihkan akibat ulahnya yang memang sengaja tak memberi kabar pada Arumi.
"Siapa yang menghilang.? Aku sudah bilang akan ke luar kota. Kamu saja yang terlalu mendramatisir keadaan." Ujar Agam santai.
Di bilang mendramatisir keadaan, bibir Arumi langsung mengerucut. Lagipula semua wanita juga akan merasakan hal yang sama jika tunangannya tidak memberi kabar selama berhari-hari.
"Aku ke toilet sebentar." Agam melepaskan lengannya dari dekapan Arumi. Gadis itu tampak tidak rela pujaan hatinya beranjak dari sampingnya.
"Mau aku temani.?" Tawarnya tak masuk akal. Agam sontak menoyor pelan kening Arumi dengan telunjuknya.
"Aku mau buang air kecil, bukan buang air ma ni." Ujarnya kemudian berlalu dari sana. Arumi terkikik geli dengan jawaban Agam. Dia duduk di tempat seraya menatap kepergian Agam meski sebenarnya sangat ingin menyusulnya ke kamar mandi. Karna dia mengharapkan sebuah ciuman dari Agam di hari ulang tahunnya.
Tapi di dalam rumah ini banyak orang, Arumi takut tertangkap basah oleh kedua orang tua ataupun pekerja di rumahnya.
Bunyi notifikasi chat membuyarkan lamunan mesum Arumi. Manik matanya seketika melirik ponsel milik Agam yang tergeletak di atas meja.
Arumi reflek mengambilnya saat melihat nama Livia.
"Besok akan aku kembalikan jaket,,,"
Arumi membaca sebagian chat yang muncul di layar ponsel. Sisanya tidak terlihat dan harus di buka lebih dulu.
Arumi mendadak tertegun, masih dengan memegang ponsel Agam di tangannya.
Lelucon apa lagi ini, begitu pikir Arumi dengan senyum kecut di bibirnya.
Dia pikir di antara Agam dan Livia benar-benar sudah selesai. Tapi keduanya masih berkomunikasi dan mungkin baru saja bertemu.
Agam pasti meminjamkan jaketnya pada Livia, itu sebabnya Livia ingin mengembalikan jaketnya.
Arumi menoleh ketika mendengar suara derap langkah mendekat. Masih dengan memegang ponsel Agam, Arumi menatap datar pria itu. Namun sorot matanya jelas penuh kecewa.
"Sebenarnya Om pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, atau bertemu dengan Kak Livia.?" Tegur Arumi seraya berdiri dari duduknya. Dia lantas menyodorkan ponsel itu pada Agam.
Agam tampak kebingungan. Dia lebih dulu memeriksa ponselnya karna yakin ada sesuatu di sana yang menyebabkan Arumi bertanya seperti itu.
Pria itu menarik nafas dalam. Dia baru saja membaca pesan dari Livia. Sekarang Agam tau penyebabnya.
"Aku nggak sengaja ketemu dia di jalan. Tadi hujannya deras, aku hanya meminjamkan jaket padanya." Ujar Agam menjelaskan.
Arumi tersenyum kecut. Agam terlampau perhatian pada mantan kekasihnya, tapi selalu bersikap acuh padanya.
"Sebaiknya Om pulang saja, aku mau tidur." Arumi lantas pergi begitu saja dari hadapan Agam. Dia setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya dengan perasaan kecewa yang jauh lebih besar dari sebelumnya.