
"Ini hari ulang tahun kamu, kenapa sejak pagi memasang wajah sendu.?" Amira mengusap lembut pipi Arumi. Gadis yang sedang menikmati makan siangnya itu tampak tidak selera menyantap makanannya. Bagaimana tidak, pasalnya sampai detik ini Agam belum pernah memberikan kabar padanya. Bahkan tidak memberikan ucapan ulang tahun padanya.
"Mah, bagaimana bisa seseorang begitu acuh pada pasangannya.?" Keluh Arumi. Dia kehilangan selera makannya dan langsung meletakkan sendok serta garpu di piringnya.
"Aku nggak yakin Kak Agam punya perasaan padaku."
"Sampai sekarang Kak Agam juga belum menghubungiku. Padahal hari ini aku ulang tahun." Lirihnya dengan helaan nafas berat.
Arumi sebenarnya enggan menceritakan semua itu pada sang Mama, karna takut hanya akan menjadi masalah nantinya.
Amira tersenyum tipis mendengar curhatan putri semata wayangnya. Dia lantas menggeser kursi untuk lebih dekat dengan Arumi.
Karna sepertinya Arumi sedang membutuhkan seseorang yang bisa menjadi pendengar sekaligus pemberi nasehat.
"Tapi bukannya kamu sudah menerima kado dari Agam.?" Tanya Amira. Putrinya itu lantas mengangguk.
"Kalau Agam acuh, mungkin saat ini kamu belum menerima hadiah apapun darinya." Amira tersenyum simpul. Dia yakin putrinya bisa memahami ucapannya dengan makna yang lebih luas.
Arumi sempat terdiam sesaat. Logikanya ingin membenarkan perkataan sang Mama, namun hatinya sekuat tenaga membantah. Terlepas kado dan bunga yang di berikan Agam sebelum hari ulang tahunnya, Arumi tetap merasa kalau Agam memang acuh padanya.
Pria itu tidak berusaha untuk menunjukkan keseriusannya, meski dia pernah meminta untuk memulai hubungan dari awal.
"Tapi mengatur jadwal ke luar kota tepat di hari ulang tahun tunangannya, apa itu masuk akal.?" Tanya Arumi tak habis pikir.
Sebagai pemimpin perusahaan, Arumi yakin Agam punya kendali penuh atas jadwal pekerjaannya.
Jangankan mengatur jadwal, menunda dan membatalkan jadwal bahkan bisa di lakukan.
Tidak salah ketika Arumi merasa jika Agam lebih memprioritaskan pekerjaan.
"Sayang, mungkin pekerjaan itu harus segera di selesaikan. Dan kebetulan waktunya pas di hari ulang tahun kamu." Amira masih mencoba memberikan pengertian pada Arumi, meski dia tau itu tidak akan mudah.
"Bagaimana kalau Kak Agam sengaja menghindari hari ulang tahunku.?" Tanya Arumi. Bukannya tenang setelah mendapat nasehat dari sang Mama, Arumi malah terlihat semakin galau.
"Lagipula pekerjaan macam apa yang sedang dikerjakan Kak Agam sampai membuatnya tidak memiliki waktu untuk sekedar memberi ucapan selamat meski hanya lewat pesan." Arumi kembali mengeluhkan sikap Agam. Amira sampai kehabisan kata-kata untuk menasehatinya. Di tambah suasana hati Arumi yang semakin terlihat kacau.
...******...
Sore itu Arumi dan kedua orang tuanya sedang bersiap. 30 menit lagi mereka akan pergi ke restoran dimana acara ulang tahun Arumi di gelar.
Arumi sudah memakai gaunnya, wajahnya juga sudah di poles make up oleh MUA.
Tinggal menata rambutnya saja, penampilan Arumi akan terlihat sempurna.
"Cantik sekali anak Papa,," Puji Andrew ketika masuk ke ruang make up dan melihat putrinya hampir selesai di dandani.
Senyum di bibir Arumi merekah.
"Siapa dulu Papanya,," Seru Arumi bangga. Bukan bangga terlahir cantik, tapi bangga terlahir sebagai anak dari Andrew. Karna tidak peduli sebanyak apapun pekerjaannya, sang Papa akan lebih memprioritaskan keluarga di banding pekerjaan.
Sekalipun pekerjaan sering menuntutnya untuk pergi ke luar kota, tapi Andrew selalu ada di setiap hari-hari istimewa keluarganya.
Arumi sudah selesai di dandani. Mereka kemudian bergegas pergi ke tempat acara.
Dalam keadaan hati yang sedikit kacau dan kecewa, Arumi tampak banyak melamun selama di perjalanan. Tapi kemudian dia mengembangkan senyum lebar ketika sampai di tempat tujuan.
Arumi berfikir jika dia harus bahagia di hari ulang tahunnya dan menciptakan momen tak terlupakan, jadi dia mencoba untuk baik-baik saja agar bisa menikmati pesta ulang tahunnya.
Ucapan selamat ulang tahun silih berganti, Arumi tampak tersenyum bahagia dan melupakan sejenak tentang kekecewaannya terhadap Agam.
Di keliling banyak teman-teman baik membuatnya larut dalam kebahagiaan malam itu.
Hingga acara selesai dan sebagian tamu undangan mulai meninggalkan tempat acara, Agam benar-benar tidak menampakkan batang hidungnya atupun sekedar menghubungi Arumi.
Padahal Arumi sempat berharap Agam akan datang dan memberinya kejutan.
"Aku pulang dulu ya Ar,," Sena pamit, di susul oleh Aileen dan juga Gea.
"Sekali lagi happy birthday to you. Tetap bahagia,," Ucap Gea dengan senyum tulus.
Arumi hanya mengangguk kecil seraya tersenyum.
"Tunggu sesuatu sebentar lagi." Bisik Gea kemudian buru-buru pergi. Dan Arumi tampak kebingungan dengan ucapan Gea.
"Apa maksudnya.?" Gumam Arumi heran.
Dia memanggil Gea, tapi sahabatnya itu sudah menyusul Aileen dan Sena keluar dari restoran.
Arumi menghela nafas. Wajahnya kembali murung setelah suasana restoran mulai sepi. Beberapa dekorasi sudah mulai di bereskan oleh WO. Kado yang menumpuk juga mulai di pindahkan ke dalam mobil oleh supir.
Di lihatnya layar ponsel dalam genggaman, rasa kecewa kembali menyeruak saat tak mendapati satupun pesan dari Agam.
"Tega sekali,," Lirihnya. Suara Arumi bergetar menahan tangis, matanya juga mulai berkabut.
Ini ulang tahun pertamanya di saat memiliki pasangan, bahkan dengan status sudah beruntungan. Tapi tidak ada yang berkesan.
Dari cerita teman-temannya yang sudah memiliki pacar, mereka selalu mendapatkan kejutan ulang tahun dari pacarannya. Sayangnya hal itu tak berlaku untuk Arumi.
"Happy Birthday Arumi,," Suara tak asing itu membuat Arumi terperanjat. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh restoran untuk mencari pemilik suara itu. Namun Arumi tak menemukan orangnya.
Gadis berwajah cantik itu tampak tersenyum kecut.
"Aku bodoh sekali sampai berkhayal mendengar suaranya." Gumamnya merutuki diri sendiri.
Dia lantas memasukkan ponsel ke dalam tas dan bermaksud menghampiri kedua orang tuanya. Tapi seseorang menahan pergelangan tangannya dari belakang.
Arumi reflek menoleh dan mencoba menarik tangannya karna kaget. Namun Arumi jauh lebih kaget saat melihat orang yang mencekal tangannya.
Bibirnya bergetar, matanya dipenuhi cairan bening yang menggenang. Suasana hatinya saat ini benar-benar sangat kacau.
"Happy birthday." Ucap Agam seraya menatap dalam.
Detik berikutnya Arumi tak kuasa membendung ari matanya lagi. Gadis itu menghambur ke pelukan Agam. Memeluk pria itu sangat erat, membenamkan wajah di dada bidangnya dan meluapkan kesedihan yang sejak beberapa hari lalu dia pendam.
Tangis Arumi terdengar memilukan. Agam lantas mengusap-usap punggung Arumi dengan lembut.
Momen itu sempat menjadi pusat perhatian orang-orang di sana, termasuk kedua orang tua Arumi. Tapi keduanya hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Mereka tidak kaget karna sebenarnya sudah tau kalau Agam akan datang meski terlambat.
Pria itu bahkan akan terbang ke luar kota lagi besok pagi.
"Kamu sangat jelek kalau menangis." Goda Agam meledek. Arumi malah merengek dan memukul pelan dan Agam dengan posisi masih memeluknya.