Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 131



Gea kebingungan saat Glen pulang dan memintanya mengemasi semua baju dan barang-barang miliknya. Gea hanya bisa menduga-duga, entah dia mau di usir atau hanya akan di pindahkan ke tempat lain. Mengingat kemarin Adeline datang dan memaki-maki.


Tapi meski kebingungan, Gea malah memilih diam alih-alih bertanya. Dia masih kesal dan marah pada pria itu, jadi malas untuk bicara padanya.


Saat sedang memasukkan baju-baju miliknya ke dalam koper, Glen tiba-tiba masuk ke kamar Gea dan ikut duduk di lantai.


"Sini biar aku saja." Glen menggeser tumpukan baju di depan Gea, kemudian ikut memasukkan baju itu satu persatu. Gea masih bungkam, memilih diam dan membiarkan Glen melakukan apa yang dia inginkan.


Semua baju milik Gea di dalam lemari sudah di keluarkan. Beberapa barang pribadinya juga sudah masuk ke koper lain. Gea tinggal duduk manis menunggu Glen selesai memasukkan baju itu ke dalam koper.


"Kita akan pindah apartemen." Ujar Glen setelah cukup lama diam. Dia memang belum memberi tau Gea soal kepindahan mereka ke apartemen baru karna apartemen yang selama ini Glen tempati merupakan fasilitas dari Ricard. Karna sudah sepakat untuk mengembalikan semua fasilitas dari pamannya itu, jadi tidak ada alasan untuk tetap menempati apartemen ini.


"Terserah Om saja." Sahut Gea acuh. Gea tidak tau asalan apa yang membuat Glen membawanya pindah ke apartemen lain. Alih-alih meninggalkannya, Glen malah memilih melepas kemewahan yang selama ini dia miliki. Mungkin jika Gea tau bahwa Glen lebih memilih bertanggungjawab atas perbuatannya, hati Gea bisa sedikit melunak. Tapi mengingat kebencian Gea pada Glen yang menyebabkan salah satu janinnya keguguran, bisa jadi Gea tetap bersikeras meninggalkan Glen suatu saat nanti.


Glen sedang membawa 2 koper milik Gea ke basement untuk di masukan ke dalam mobil. Sementara itu, Gea masih di dalam apartemen beserta 3 koper yang berisi baju dan barang pribadi Glen.


Pria itu menyuruh Gea untuk menunggu di apartemen sampai dia selesai memindahkan semua koper kedalam mobil.


Tak berselang lama, Glen kembali ke apartemen dan membawa 2 koper lagi. Pria itu tetap meminta Gea untuk menunggu di dalam dan dia kembali ke basemen.


Sembari menunggu Glen, Gea mengaktifkan data di ponselnya. Sudah lebih dari 1 minggu ponselnya dibiarkan seperti itu. Entah akan ada berapa banyak chat dan panggilan yang sudah masuk ke ponselnya. Keluarga dan teman-teman yang biasa berkomunikasi dengannya pasti mencarinya karna hilang tanpa kabar selama lebih dari 1 minggu terakhir.


Benar saja, hanya dalam beberapa detik setelah Gea mengaktifkan data, sederet chat dan notifikasi panggilan masuk ke ponselnya. Gea hanya membuka aplikasi itu tanpa berani membuka satu persatu chat dari kedua orang tua dan teman-temannya. Wanita itu belum menyiapkan alasan yang tepat jika mereka menanyakan kenapa dia menghilang selama 1 minggu terakhir.


Gea tampak melamun menatap ponsel ditangannya sampai tidak menyadari Glen sudah kembali. Pria itu bahkan sudah menarik 1 koper yang tersisa dan berdiri di samping sofa yang duduki Gea. Wanita itu tidak menoleh ketika Glen memanggilnya.


"Gea, ayo,," Panggil Glen lagi seraya menyentuh pelan pundak Gea.


Keduanya kemudian keluar dari apartemen, jalan beriringan tanpa saling bicara.


...******...


Glen memasuki gedung apartemen sederhana, jauh dari kata mewah untuk ukuran seorang Glen yang sebelumnya tinggal di apartemen mewah. Namun pria itu tidak punya pilihan lagi selain menempati apartemen sederhana itu. Dia tidak berniat menggunakan tabungannya untuk membeli apartemen mewah. Mengingat Gea sedang mengandung anaknya, Glen lebih memilih memakai tabungannya untuk keperluan Gea dan calon anak mereka selama kehamilan dan melahirkan nanti.


Glen menggandeng tangan Gea, dan satu tangannya menyeret koper. Wanita hamil itu tidak protes ketika tangannya di genggam, membuat suasana hati Glen membaik di tengah-tengah keadaan yang sulit.


Pria itu membawa Gea ke lantai 12, berhenti di depan unit nomor 23 dan merogoh akses card dari dalam kantong celana. Glen menyuruh Gea masuk lebih setelah membuka pintu.


"Apartemennya tidak sebagus sebelumnya." Ujar Glen ketika melihat Gea mengedarkan pandangan ke seluruh sudut apartemen, seperti sedang mengamati dan membandingkan dengan apartemen sebelumnya yang jauh diatasnya.


"Sementara kita menempati satu kamar. Pendingin di kamar tamu bermasalah, aku akan memperbaikinya sebelum menempati kamarnya." Tuturnya seraya mengajak Gea ke kamar utama.


Gea sempat memberikan lirikan tidak setuju. Jelas dia tidak mau tidur satu kamar dengan Glen karna takut pria itu akan mengambil kesempatan darinya selama tidur dalam satu kamar.


"Hanya beberapa hari ke depan, aku janji tidak lama." Ucap Glen yang seolah tau arti tatapan Gea.


Glen membuat kamar dan meletakkan koper di sana.


"Tetap di dalam, aku harus memindahkan semua koper ke sini." Ujarnya seraya mengusap pelan pucuk kepala Gea sebelum keluar dari kamar.


"Sebenarnya ada apa.? Kenapa harus pindah apartemen sampai mobilnya juga ikut diganti." Gumam Gea setelah Glen menghilang dari balik pintu kamar.


Awalnya Gea berfikir Glen pindah apartemen agar Adeline tidak datang lagi. Tapi saat melihat mobil yang di pakai Glen bukan mobil mewah yang biasa dia pakai, Gea jadi mencurigai hal lain dan semakin dibuat penasaran. Sayangnya Gea terlalu gengsi untuk menanyakan semua itu pada Glen. Dia takut Glen akan menyalah artikan rasa penasarannya itu.