
Hendra menghajar Glen sampai wajah pria itu babak belur. Darah segar tampak keluar dari sudut bibir Glen akibat luka bekas tinjuan yang dia dapatkan dari Papa Gea.
Pria paruh baya itu langsung mengamuk dan menghajar Glen tanpa ampun setelah menyuruh istrinya membawa Gea masuk ke dalam kamar.
Amarah Hendra belum mereda meski sudah melampiaskannya pada Glen, pria yang telah menghamili anak sulungnya.
Nafas Hendra memburu dengan dada yang naik turun. Kedua tangannya masih mengepal kuat, seperti belum puas memukuli Glen. Padahal kondisi Glen sudah memprihatinkan. Glen tersungkur di lantai akibat serangan membabi buta.
Sebenarnya Glen bisa saja menghindar ataupun melawan, tapi karna dia sadar telah membuat kesalahan pada Gea dan orang tuanya, Glen memilih pasrah menerima kekecewaan dan amarah dari orang tua Gea. Lagipula balasan dari orang tua Gea tidak sebanding dengan sakit dan kehancuran yang dialami oleh Gea.
"Cepat urus pernikahan kalian secepatnya.!" Titah Hendra setelah puas menghajar Glen. Walaupun marah dan kecewa atas perbuatan Glen, namun Hendra juga memikirkan nasib putri dan cucunya.
Nasi sudah menjadi bubur, Hendra tidak mungkin menyuruh Gea menggugurkan kandungnya. Selagi Glen sungguh-sungguh minta maaf dan bersedia bertanggungjawab, Hendra akan menerimanya meski dia harus kehilangan harapan pada masa depan Gea.
Glen tampak terkejut. Melihat bagaimana tadi Hendra menghajarnya sangat brutal dan penuh amarah. Dia pikir, Hendra tidak akan setuju menikahkan Gea dengannya.
"Terimakasih,," Lirih Glen yang kesulitan bicara karena terdapat luka di sudut bibirnya. Rahangnya juga pasti sangat sakit, mengingat terkena tinjuan berkali-kali di wajahnya.
"Saya mencintai Gea. Saya janji akan membahagiakan Gea dan anak kami." Ucapnya.
Hendra tidak menggubris, dia memilih meninggalkan Glen di ruang tamu. Pria paruh baya itu sudah terlalu pusing menghadapi permasalahan yang silih berganti.
Baru beberapa bulan lalu dia mengalami kebangkrutan dan kehilangan semua hartanya, lalu merintis usaha dengan susah payah, kini Hendra harus di hadapkan pada kenyataan bahwa putrinya hamil di luar nikah.
Farah mengajak Gea keluar dari kamar karna mendengar seseorang membanting pintu cukup kuat. Farah khawatir terjadi sesuatu dengan dua pria yang mereka tinggalkan di ruang tamu.
Begitu sampai di ruang tamu, Farah dan Gea dibuat terkejut dengan kondisi wajah Glen yang babak belur. Pria itu langsung menundukkan wajah saat melihat Farah dan Gea.
"Papa pasti sangat marah padanya." Lirih Farah pada Gea.
"Mama ambil kotak obat dulu, nanti kamu obati lukanya." Farah bergegas pergi mengambil kotak obat di dapur.
Gea duduk lesu di samping Glen. Sebenci apapun pada Glen, Gea tetap tidak tega dan kasihan melihat kondisi wajah Glen penuh lebam dan luka.
"Maafkan Papa," Ucap Gea penuh sesal. Dia tidak menyangka Papanya akan menghajar Glen sampai seperti itu.
Glen menggeleng seraya tersenyum tipis.
Farah datang dengan membawa kotak obat dan menyodorkannya pada Ges tanpa menoleh pada Glen. Luka lebam dan darah di wajah Glen cukup membuat Farah merinding.
"Kamu obati dulu lukanya, Mama akan bicara dengan Papamu." Ujar Farah kemudian berlalu, membiarkan Gea mengobati luka-luka di wajah Glen.
Gea mengambil salep dari dalam kotak obat dan mulai mengoleskannya pada bekas memar di kedua pipi Glen dengan hati-hati. Bibir pria itu sedikit meringis menahan sakit. Gea tampak menggeleng pelan lantaran heran. Harusnya luka sebanyak itu tidak ada kalau Glen menghindar saat akan di pukul.
"Kenapa tidak berusaha menghindar." Ucap Gea.
"Papamu sedang meluapkan amarah, dia akan semakin marah padaku kalau aku menghindar." Jelas Glen. Gea tampak diam seperti membenarkan perkataan Glen.
"Tidak masalah wajahku seperti ini, yang terpenting aku sudah diijinkan menikahimu." Tuturnya seraya tersenyum tipis. Glen memegang tangan Gea yang masih mengoleskan salep di pipinya. Glen menatap Gea dengan tatapan dalam namun teduh.
"Aku harus pulang ke Jakarta dulu untuk mengurus berkasnya, kita menikah di Surabaya saja." Ujar Glen dan langsung di angguki oleh Gea.
Wanita itu tampaknya sudah pasrah dan luluh setelah melihat usaha dan keseriusan Glen untuk meminta restu pada orangnl tuanya. Apalagi setelah melihat Glen rela di hajar tanpa ada perlawanan ataupun menghindar.
Malam itu Glen langsung terbang lagi ke Jakarta untuk mengurus berkas-berkas pernikahannya. Dia mengurus semuanya sendiri karna sudah tidak punya kuasa untuk menyuruh seseorang. Jika dulu dia biasa menyuruh asisten pribadinya mengurus segala keperluannya, sekarang harus mengerjakan apa-apa sendiri
...*****...
Gea menyantap makan malamnya sembari menundukkan kepala. Suasana di meja makan terasa tegang sejak Hendra bergabung. Pria itu masih terlihat memendam amarah dan kekecewaan pada Gea. Walau bagaimanapun, Hendra tidak menutup mata jika putrinya juga ikut andil atas hadirnya janin itu. Hendra merasa kecewa karna putrinya tidak bisa menjaga diri disaat dia dan sang istri sedang berjuang memperbaiki kembali perekonomian keluarganya.
"Papa tidak mau tau, kuliah kamu harus tetap selesai sampai lulus.!" Tegas Hendra.
"Dan setelah menikah, Papa tidak mau dengar kamu mengeluh pada kami. Kamu sendiri yang memilih jalan seperti ini. Sudah cukup mempermalukan kami dan menambah beban masalah.!" Hendra menatap putrinya dengan perasaan kecewa yang besar.
"Pah,, sudah." Lerai Farah seraya mengusap lembut lengan suaminya. Sefatal apapun kesalahan Gea, Farah tetap tidak tega jika Hendra berkata seperti itu pada putri mereka.
"Semuanya sudah terjadi, kita do'akan saja kehidupan Gea baik-baik saja dan bahagia kedepannya." Tuturnya sendu.
Gea menunduk dengan air mata yang mulai membasahi pipi. Seandainya bisa memutar waktu, dia tidak ingin semua ini terjadi.
"Maafin Gea Mah, Pah." Suara Gea tercekat.
"Gea janji setelah ini tidak akan membuat masalah, apalagi sampai mempermalukan kalian." Air mata Gea semakin mengucur deras. Dia merasa menjadi anak yang tidak berguna dan hanya menjadi beban keluarga.