
Mobil mewah yang di kendarai oleh Glen berhenti di depan kosan Gea. Pria pemilik rahang tegas itu melirik remaja di sampingnya, mengisyaratkan agar Gea segera turun dari mobil.
"Waktunya 10 menit." Ujarnya tegas.
"Cukup ambil beberapa baju ganti saja dan perlengkapan kuliahmu besok pagi." Titah Glen dan Gea langsung mengangguk paham.
Buru-buru turun dari mobil, Gea setengah berlari menuju kamar kosnya di lantai 2.
Glen hanya memberikan dia waktu 10 menit untuk mengemasi baju yang perlu di bawa selama menginap di apartemen Glen semalaman.
Ya, pria dewasa dan sangat mesum itu meminta Gea untuk menginap di apartemennya malam ini.
Kembali pada perjanjian yang telah di sepakati mereka berdua, Glen akan meminta haknya mulai nanti malam.
"Terima saja nasibmu Ge,," Gumam Gea pasrah. Dia mengambil tas dan memasukkan beberapa baju serta perlengkapan kuliah besok pagi.
Menjadi bu dak pe muas, tentu hanya akan membuat harga diri Gea semakin terjun bebas. Meski begitu, Gea merasa lebih baik tinggal dengan Glen untuk menjadi pe muasnya, daripada harus menjajakan diri pada banyak laki-laki di luar.
Selesai memasukkan beberapa baju, Gea kembali turun dan masuk ke mobil Glen. Pria itu lantas melajukan mobilnya tanpa mengatakan apapun.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, sampai Glen memarkirkan mobil di basemen apartemen dan menyuruh Gea untuk turun.
"Om,," Panggil Gea ragu. Glen lantas menoleh, tatapannya yang dingin dan menusuk membuat Gea langsung menundukkan pandangan dan menelan ludah dengan susah payah.
"Apa.?!" Tegas Glen dengan sebelah alis yang terangkat.
"Om nggak beli pengaman dulu.?" Gea berucap lirih dan langsung menggigit bibir bawahnya. Dia tadinya punya nyali dan tidak ada rasa takut ataupun malu sedikitpun pada Glen saat pertama kali menjual tu bu hnya pada pria itu. Tapi setelah tragedi pencurian jam, Gea mendadak kehilangan keberanian.
"Jangan harap aku akan pakai pengaman," Jawab Glen santai.
"Kamu yang harus minum obat pencegah kehamilan. Sebentar lagi ada kurir yang akan mengantarkan obat itu." Jelasnya kemudian kembali berlalu.
Dalam keadaan bengong dan sedang berfikir keras, Gea buru-buru mengikuti langkah Glen agar tak tertinggal.
Pria itu kemudian berhenti di depan pintu apartemen setelah menaiki lift ke lantai 11. Gea berdiri di belakang Glen yang sedang membuka pintu dengan kode akses.
"Cepat masuk.!" Titahnya saat pintu terbuka. Glen lebih dulu menyuruh Gea masuk ke apartemennya. Gadis itu tentu menuruti semua perkataan Glen. Dia masuk tanpa memberikan komentar ataupun protes.
"Kamarmu di sana." Glen menunjuk salah satu pintu yang terlihat dari ruang tamu.
Gea tampak bernafas lega mendengarnya. Dia pikir Glen akan menyuruhnya untuk tidur satu kamar.
"Apa aku boleh ke kamar dulu.? Aku belum mandi." Gea terlihat ragu meminta ijin pada Glen. Tapi dia juga harus segera membersihkan diri lantaran sudah merasa gerah dan lengket setelah seharian kuliah.
"Hmm. Pastikan semuanya bersih. Jangan sampai aku melihat noda nanti malam." Jawab Glen seraya berlalu lebih dulu.
Gea mendengus kesal selepas kepergian Glen. Walaupun Glen cukup tampan, tapi sikapnya cukup menyebalkan bagi Gea. Lebih tepatnya berubah menyebalkan setelah Gea mencuri jam miliknya.
...*****...
Gea keluar dari kamar setelah Glen menggedor pintu dengan kencang. Rupanya pria itu memanggilnya untuk makan malam bersama.
Gea bahkan tidak tau kalau Glen sudah memesan makanan dan menyiapkannya di atas meja makan.
"Buatkan aku kopi.! Jangan terlalu manis." Titahnya layaknya menyuruh seorang asisten rumah tangga.
Gea mengerutkan keningnya. Disebelah kopi maker ada banyak toples berisi bubuk kopi dengan nama-nama yang berbeda.
Tidak mau salah membuatkan jenis kopi, Gea milih untuk menanyakannya pada Glen.
"Ada banyak jenis kopi disini, kopi yang,,"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Glen sudah lebih dulu memotong.
"Dark roast." Ucap Glen cepat.
Tanpa pikir lama, Gea langsung mengambil cangkir dan meracik kopi sesuai keinginan Glen.
"Ini Om,," Gea meletakkan cangkir bersisi kopi di depan Glen.
"Duduk.! Cepat habiskan makananmu karna setelah ini kamu punya tugas penting." Titah Glen tanpa ada bantahan dari Gea.
Semakin cepat menyelesaikan tugasnya, makan akan lebih baik.
Glen mengambil cangkir berisi kopi buatan Gea dan menyesapnya perlahan. Keningnya langsung berkerut. Gea tentu saja Melihatnya. Dia sengaja memperhatikan Glen saat akan meminum kopi itu karna ingin tau seperti apa reaksi Glen saat meminum kopi buatannya. Jika kopi itu tidak memiliki rasa yang sesuai, Gea takut akan mendapatkan masalah baru.
"Aku bisa membuatkannya lagi kalau rasanya kurang pas." Tawar Gea saat tak kunjung mendapatkan respon lain dari Glen.
"Ingat-ingat takarannya, kamu juga punya tugas membuatkanku kopi jika aku mau." Ucapan Glen seketika membuat Gea bernafas lega.
...*****...
"Di,,di sini Om.??" Suara Gea terbata. Dia jadi sangat gugup setelah Glen memintanya untuk melepaskan piyamanya, padahal mereka masih ada di meja makan.
"Apa kamu mau mencobanya di luar apartemen.?" Sindir Glen. Gea langsung menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu lakukan saja, jangan banyak protes." Dengusnya kesal.
Gea mulai melepaskan satu persatu kancing piyamanya. Melihat gerakan Gea yang lambat, Glen langsung mengambil alih karna tidak sabar.
Dia melepaskan kancing-kancing itu dengan sedikit kasar.
Begitu seluruhnya terlepas, pria itu menarik paksa dan melempar piyama itu ke sembarang arah. Tanpa aba-aba, Glen mengangkat tubuh Gea untuk di dudukan di atas meja makan. Gadis itu pasrah saja dengan apa yang di lakukan oleh Glen. Termasuk saat pria itu melepaskan pengait br a hingga membuat tubuh bagian atasnya kini tak tertutup apapun.
Dengan rakus Glen melahap salah satunya, dan mainkan satunya lagi menggunakan satu tangan.
Tubuh Gea menegang, dia meloloskan des Sa han.
Remaja 18 tahun itu tidak mau munafik, dia hanyut dalam permainan Glen yang sangat jauh berbeda dengan mantan kekasihnya.
Glen adalah laki-laki kedua setelah mantan pacar Gea yang sudah pernah menghabiskan malam bersama. Jelas Gea bisa menemukan perbedaan yang signifikan dari keduanya. Terlebih usia Glen jauh lebih matang dari mantan kekasihnya.
Sudah pasti permainan Glen lebih unggul.
"Bagaimana.? Kamu menyukainya kan.?" Tanya Glen yang kini sudah membenamkan benda keras miliknya dengan posisi Gea yang masih duduk di atas meja makan. Kedua tangan Gea berpegang pada leher Glen dan kedua kalinya melingkar di pinggang laki-laki itu.
Gea menjawab dengan anggukan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa nik mat yang menjalar setiap kali Glen mendorong lebih dalam.
Beberapa menit berlangsung, suara de sa han keduanya saling bersautan. Gea meracau tidak karuan seiring gerakan Glen yang semakin cepat dan dalam.