Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 57



"Kamu yakin Ar mau menemui wanita itu sendirian.?" Gea terlihat lebih was-was di banding Aileen dan Sena.


Jika mendengar cerita dari Arumi tentang apa saja yang dilakukan oleh Livia, Gea berfikir kalau sebenarnya Livia tidak sebaik yang terlihat di depan mata. Itu sebabnya Gea sedikit cemas ketika Arumi mengatakan ingin bertemu dengan Livia.


"Ge, kamu meremehkan kemampuan bertarung Arumi.?" Seloroh Aileen. Di mata Aileen, Arumi merupakan sosok yang pemberani. Terbukti ketika ospek, Arumi berani melawan seniornya yang bersikap kurang ajar padanya.


Tapi sebenarnya ada hal yang tidak di ketahui oleh Aileen, bahwa sebenarnya orang tua Arumi sedikit berpengaruh di Universitas itu. Jadi tidak heran kalau Arumi berani melawan seniornya, selagi dia tidak salah, pihak kampus juga tidak akan berani mengusik Arumi.


"Bukan begitu Ai,, aku hanya khawatir saja."


"Bagaimana kalau kami ikut.?" Pinta Gea. Dia akan merasa tenang jika ikut dengan Arumi dan memastikan Livia tidak akan berbuat sesuatu pada Arumi.


"Ya ampun, jangan membuatku terlihat seperti anak kecil Ge. Masa aku bawa pasukan untuk bertemu mantannya Om Agam." Keluh Arumi. Dia takut Livia akan meledeknya meski tidak yakin Livia seperti itu.


"Ck,, kamu payah sekali." Cibir Gea.


"Kita bertiga akan masuk belakangan dan duduk di meja lain." Ujarnya memberi tau.


"Aku setuju, kita bertiga duduk di meja sebelah dan pura-pura nggak kenal Arumi." Sahut Sena. Dia berada di pihak Gea dan setuju menjadi pengawal sahabatnya itu untuk berjaga-jaga.


"Kalau begitu aku ikut saja. Bagaimana Ar.?" Tanya seraya Aileen menyikut lengan Arumi.


Gadis itu terdiam karna sedang mempertimbangkan usul Gea. Kalau berpura-pura tidak saling mengenal, sepertinya tak akan menurunkan harga diri Arumi di depan Livia. Arumi juga tidak perlu merasa malu karna Livia tidak tau jika Arumi membawa sahabatnya.


...******...


Arumi datang lebih dulu dan duduk di salah satu meja kafe seorang diri. Sementara itu Livia datang 5 menit setelah Arumi duduk di sana.


Livia menyapa Arumi dan langsung duduk di depan Arumi.


"Maaf aku sedikit terlambat." Ucap Livia tanpa menatap Arumi, karna wanita itu sedang menatap waiters dan melambaikan tangan padanya.


"Nggak masalah, aku juga baru sampai." Jawab Arumi. Sejak Livia masuk dan berjalan menghampirinya, Arumi terus memperhatikannya. Dia mencari dimana jaket milik Agam yang akan di kembalikan Livia. Sedangkan Livia tidak membawa apapun di tangannya. Wanita itu hanya membawa tas selempang kecil yang tentu saja tidak akan muat untuk menaruh jaket di dalamnya.


"Kamu mau pesan apa.?" Tawar Livia dengan suara lembutnya yang khas. Gayanya juga tampak elegan dan dewasa. Jika di lihat-lihat, gayanya hampir serupa dengan Bianca. Arumi jadi sadar kalau tipe wanita idaman Agam berbanding terbalik dengan kepribadiannya. Wajar kalau Agam tidak bisa bersikap lembut padanya. Agam tetap bersedia melanjutkan pertunangan saja sudah membuat Arumi merasa bersyukur.


Seiring berjalannya waktu, dia yakin bisa membuat Agam mencintai semua yang ada dalam dirinya. Tak terkecuali dengan sifatnya.


"Oren jus saja." Jawab Arumi kemudian.


Livia hanya mengangguk pelan.


"Oren jus dan coffee latte,," Ujar Livia pada waiters.


"Baik kak. Ada tambah lagi.?" Tanyanya ramah.


"Itu saja." Kata Livia.


Waiters itu kemudian beranjak dari sana.


"Masih ada di laundry, aku belum mengambilnya. Mungkin besok aku ambil sekalian antar ke kantor Agam." Jawab Livia santai. Ekspresi wajahnya tampak biasa saja, tidak ada rasa bersalah sedikitpun padahal Arumi sudah menyuruhnya untuk membawa jaket milik Agam saat mereka membahasnya lewat chat.


"Bukannya Kak Livia sudah setuju untuk mengembalikan jaket Kak Agam padaku.?" Arumi masih berusaha menahan diri meski sebenarnya kesal dengan jawaban Livia.


"Kapan aku bilang begitu.?" Livia justru balik bertanya. Dia merasa tidak pernah menyetujui permintaan Arumi untuk mengembalikan jaket Agam padanya.


"Aku hanya setuju untuk bertemu denganmu disini." Tuturnya santai.


Arumi sontak menatap tak percaya. Kalau tidak setuju untuk mengembalikan jaket padanya, lalu untuk apa sekarang datang ke cafe.


Arumi terdiam beberapa saat, dia sulit mencerna tujuan Livia mau menemuinya sedangkan tidak berniat memberikan jaket milik Agam padanya.


"Tapi pembahasan kita di chat tentang jaket Kak Agam. Kalau Kak Livia nggak bawa jaket itu, lalu apa gunanya kita bertemu disini." Arumi mulai sewot. Dia merasa sedang dipermainkan oleh Livia.


Livia tersenyum miring. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Arumi karna seorang waiters menghampiri mejanya dan membawakan minuman mereka.


"Terimakasih," Ucap Livia santai.


"Sama-sama Kak."


Waiters itu berlalu. Sedangkan Livia belum buka suara, dia malah mengambil kopi miliknya dan menyesapnya perlahan.


Arumi menatap geram gerak-gerik Livia yang terlihat sengaja di lambatkan untuk memancing amarahnya.


"Kamu nggak minum dulu.?" Tanya Livia dan menahan senyum yang sulit di artikan.


"Sebenarnya apa tujuan Kakak.?" Seru Arumi penuh penekanan. Dia menatap Livia penuh selidik. Arumi merasa bahwa Livia memiliki tujuan tertentu padanya. Kalau tidak, seharusnya Livia datang membawa jaket itu. Bukan malah sebaliknya dan mengatakan akan mengantar jaket itu ke kantor Agam.


"Kamu nggak pengen tau kenapa jaket Agam bisa aku pakai.?" Ujar Livia seraya tersenyum miring.


Livia jelas tau kalau pertanyaan yang dia lontarkan bisa membuat Arumi berfikir macam-macam pada Agam. Tapi memang itu tujuannya.


Arumi menarik nafas dalam. Amarahnya benar-benar sudah memuncak. Sekarang dia yakin kalau Livia memang memiliki tujuan tertentu padanya.


Tak mau gegabah, Arumi berusaha mengontrol emosinya agar tetap bersikap tenang ketika menghadapi Livia. Dia enggan menunjukkan amarahnya, karna hal itu sudah pasti akan membuat Livia tertawa puas.


"Aku sudah tau dari Kak Agam." Jawab Arumi seraya menatap layar ponsel. Dia sebenarnya sedang merekam percakapannya sejak menanyakan tujuan Livia.


"Tapi kamu belum tau versi ceritaku." Kata Livia dengan percaya diri.


Arumi tersenyum kecut, dia cukup terkejut melihat sifat asli Livia yang sebenarnya. Sejak Livia datang dan tidak terlihat membawa jaket, Arumi memang sudah menaruh curiga pada wanita itu. Tapi hatinya terlalu baik, dia enggan berprasangka buruk terlalu jauh jika belum melihat dan mengalaminya sendiri.


"Kak Livia mau bilang kalau cerita versi Kak Agam nggak benar alias bohong.?" Cecar Arumi penuh penekanan. Dia juga mengeraskan suaranya agar terdengar jelas di rekaman ponselnya.


"Atau sebenarnya Kak Livia yang mau membohongiku.?" Pancing Arumi. Detik itu juga Livia menatap Arumi sangat tajam dan menunjukkan kekesalannya.