
Dinginnya suhu ruangan kamar tidak menyurutkan semangat pengantin baru yang justru semakin panas dalam ber cinta.
Teriakan kesakitan dan penolakan yang sempat di lakukan oleh Arumi, kini sudah berganti menjadi de sa han kenikmatan dan permintaan untuk mempercepat gerakan.
Batang kekar itu memang tidak perlu di ragukan lagi kehebatannya. Jam terbangnya sudah tinggi. Wajar kalau Arumi sampai mengge linjang nikmat berkali-kali dalam waktu 30 menit. Sedangkan batang itu belum menunjukkan tanda-tanda akan tumbang.
"Aku mau sampai Om,,," Ujar Arumi dengan nafas tersenggal.
”Keluar bersama,," Sahut Agam dan gerakannya semakin cepat. Suara era-ngan Arumi semakin kencang, Agam membungkamnya dengan ciuman dan melu matnya sedikit kasar.
Agam membenamkan dalam-dalam ketika batang itu menyemburkan cairan hangat. Begitu juga dengan Arumi. Keduanya sama-sama mencapai puncak kenikmatan.
Suasana kamar berubah hening. De sa han yang bersahutan sudah berganti dengan deru nafas memburu dan tak teratur. Peluh menghiasi tubuh polos keduanya setelah melawati percintaan panas yang menguras tenaga.
Sebuah kecupan mendarat di kening Arumi, sebelum pria itu menjatuhkan diri di sampingnya.
Arumi sampai tertegun setelah mendapatkan kecupan di kening dari Agam. Dia tidak tau arti dan tujuan kecupan singkat itu. Agam juga tidak mengatakan apapun setelah mencium keningnya.
Pria itu langsung memejamkan mata dengan nafas yang masih memburu. Mungkin sedang menetralkan detak jantungnya.
"Om, aku mau ke kamar mandi,," Arumi menggoyang pelan lengan Agam. Sudah lebih 10 menit mereka saling diam, atau lebih tepatnya mengumpulkan tenaga lagi.
"Hemm." Agam lantas beranjak untuk mengambil celana da lamnya dan memakainya lebih dulu sebelum membantu Arumi ke kamar mandi.
"Bisa jalan.?" Tanya Agam ketika Arumi hendak menurunkan kakinya ke lantai. Sedangkan satu tangannya sudah berpegangan pada Agam.
Arumi mencoba berdiri lebih dulu. Tapi dia langsung merasakan perih dan nyeri di daerah intinya. Dia lantas menatap Agam dan menggelengkan kepala, memberi tau Agam kalau dia tidak bisa berjalan sendiri.
Agam lantas menggendong tubuh polos Arumi dan membawanya ke kamar mandi.
"Ternyata sangat sakit,," Keluhnya sembari mengguyur daerah intinya dengan air hangat.
Arumi pikir dia akan bebas dari rasa sakit ketika sudah merasakan kenikmatan. Nyatanya sesudah itu malah rasa sakitnya jadi bertambah.
"Sakit saja sampai men de sah,," Sahut Agam meledek. Pria itu berdiri di dekat wastafel dan setia menunggu Arumi membersihkan diri.
"Kalau yang itu bukan merasakan sakit, tapi merasakan nikmatnya penyatuan. Tiba-tiba sakitnya hilang setelah beberapa menit ber cinta." Arumi menjawab jujur. Sayangnya jawaban jujur Arumi malah di salah gunakan oleh Agam. Dia mengembangkan senyum tanda bahaya, sayangnya tidak di sadari oleh Arumi karna dia sibuk membersihkan area intinya dari sisa-sisa cairan bukti percintaan panasnya bersama Agam.
Agam menghampiri Arumi, berdiri di belakang gadis itu dan merebut shower dari tangannya.
Arumi sempat kaget, tapi bisa rileks lagi setelah Agam membantunya membersihkan diri.
Saat itu Arumi belum merasakan alarm tanda bahaya. Tapi ketika satu tangan Agam mere-mas salah satu bukitnya, Arumi langsung paham kenapa tiba-tiba Agam membantunya.
"Mau di bantu menghilangkan rasa sakitnya lagi.?" Agam berisik di telinga Arumi. Suara maskulinnya yang berat, terdengar seksi di telinga Arumi.
"Terimakasih niat baiknya suamiku yang tampan. Sekarang aku sudah lebih baik." Jawab Arumi dengan menekankan kalimatnya, lalu melepaskan diri dari dekapan Agam dan buru-buru keluar dari sana.
Tapi baru satu langkah keluar dari kamar mandi, Agam berhasil menahannya dan menariknya ke dalam kamar mandi lagi.
"Kita coba dulu di kamar mandi." Agam menyeringai. Arumi hanya bisa pasrah menghadapi hasrat Agam yang sepertinya tak mengenal puas.
Malam itu pasangan pengantin baru bercocok tanam sampai pagi. Agam baru membolehkan Arumi tidur setelah pukul 3 pagi. Bahkan dia juga sampai melarang Arumi memakai baju saat tidur. Mungkin supaya besok pagi dia bisa langsung mengulangi percintaan panas untuk kesekian kalinya.
...******...
Gea keluar dari kamarnya pukul 7 pagi. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengecek kamar Glen. Dia penasaran apakah pria itu pulang ke apartemen, atau menginap di tempat lain.
Yang jelas hingga pukul 2 malam, Gea tidak melihat Glen pulang. Jadi dia memutuskan masuk ke kamar untuk tidur.
Berhenti di depan pintu kamar Glen, perlahan Gea membuka pintu kamar dan memasukkan kepalanya ke dalam sana.
Gadis itu tersenyum kecut, ketika mendapati kamar Glen kosong dan dalam keadaan gelap. Sudah pasti Glen tidak pulang semalam.
Bayangan Glen bersama Adeline tiba-tiba terlintas. Ada amarah dan dendam yang terlihat menyelimuti sorot mata Gea. Marah karna Glen benar-benar mengacuhkannya meski dia sudah menuruti keinginannya untuk ber cinta di toilet hotel. Serta demam pada Sean setiap kali ingat dengan Adeline. Dia tidak rela melihat Adeline menikah dan Glen dan bahagia. Tidak peduli meski disini Adeline tak melakukan kesalahan apapun padanya.
Gea beranjak ke dapur setelah menutup pintu kamar Glen. Dia membuat sarapan untuk dirinya sendiri dan menyantapnya tak berselera. Kalau perutnya tidak keroncongan, mungkin Gea tidak akan sarapan pagi ini dan memilih menghabiskan waktu liburnya di kamar.
Gea kembali ke kamarnya selesai sarapan, dia kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Berendam cukup lama sembari memikirkan percintaan panasnya dengan Glen tadi malam.
Geln memberikan kesan tersendiri malam itu. Entah kenapa Gea merasa sikap Glen lebih lembut dari biasanya ketika sedang bermain.
Meskipun tadi malam cukup bertenaga, tapi tidak terasa kasar.
Tokk,,, tokk,,, tokkk,,,!!!
Suara gedoran kamar mandi terdengar cukup kencang. Gea yang tengah melamun sampai terperanjat kaget.
Tau bahwa Glen yang mengetuk pintu, Gea malah mengabaikannya. Dia sedikit kesal lantaran pria itu tidak pulang semalam.
Entah berapa kali pintu kamar mandi di ketuk, Gea sama sekali tidak menjawab ataupun membukakan pintu.
"Untung saja aku menguncinya,," Gumamnya setelah ketukan pintu itu tidak terdengar lagi.
Dia lantas melanjutkan mandinya dan baru keluar 20 menit kemudian.
"Ya ampun.!!" Pekik Gea kaget. Dia sampai mundur lagi karna melihat Glen berdiri di depan pintu kamar mandi dengan menyilangkan kedua tangan di atas dada.
Gea pikir Glen sudah keluar dari kamarnya karna tidak ada suara lagi, tapi rupanya masih berada di kamarnya.
"Sengaja mengabaikanku, hmm.?!" Glen meraih dagu Gea dan mencengkramnya.
"Sakit Om,," Gea meringis menahan sakit, dia berusaha menyingkirkan tangan Glen, tapi cengkraman Glen justru semakin kuat.
"Ini belum seberapa, biar aku tunjukkan rasa sakit yang sebenarnya." Glen menarik kasar handuk yang melilit di tubuh Gea, membuat tubuhnya tidak tertutup apapun.
"Om.!" Pekik Gea geram. Dia hendak meraih handuk di lantai, tapi Glen malah menyerangnya dengan sebuah ciuman cukup kasar.