Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 95



"Amira, aku mohon pikirkan baik-baik." Andrew menghalangi jalan istrinya yang hendak keluar dari kamar dengan menarik koper besar.


Amira sudah meminta Andrew untuk meninggalkan rumah, meminta Andrew agar tinggal bersama Sofia. Namun Andrew menolak, dia bersikeras tetap tinggal bersama mereka tanpa mau melepaskan Sofia.


Amira tidak punya pilihan lagi selain meninggalkan rumah penuh kenangan itu untuk sementara waktu, setidaknya sampai Andrew tidak memiliki hak lagi atas rumah tersebut.


Dalam perjanjian pernikahan yang sudah mereka tanda tangani di atas materai, di sebutkan bahwa Andrew harus keluar dari rumah utama jika terbukti selingkuh.


"Apa kamu juga memikirkan baik-baik saat memutuskan menikahi wanita sialan itu.?!" Teriak Amira penuh amarah. Sekarang dia bisa leluasa membentak dan meluapkan amarahnya di depan Andrew. Tak perlu menahan amarah lagi seperti di depan Sofia.


Bagi Amira, membentak dan meluapkan amarah di depan selingkuhan suaminya, hanya akan membuat wanita itu menertawakannya dalam hati.


"Jawab Andrew.!!" Sentaknya seraya menepis kasar tangan Andrew dari bahunya.


"Alih-alih mempertahankan rumah tangga kita, kamu malah ingin mempertahankan wanita itu.!" Kemarahan Amira semakin meluap.


Batas kekecewaannya sudah tidak bisa tolerir lagi.


19 tahun menikah, dengan mudahnya Andrew memasukkan wanita lain dalam rumah tangga mereka. Amira hampir tidak mengenali suaminya.


Mengingat Andrew selalu bersikap lembut dan romantis padanya, sulit di percaya kalau Andrew benar-benar selingkuh.


"Amira,, tidak bisakah kamu berbagi.? Sofia sangat rapuh, dia hanya menggantungkan hidupnya padaku." Tutur Andrew memohon.


Amira menggeleng heran sembari terkekeh miris. Hatinya seperti di cabik-cabik mendengar Andrew begitu membela Sofia, bahkan sampai memintanya untuk berbagi suami, perhatian dan harta.


"Apa wanita itu bersedia menjadi maduku.?" Amira mengukir senyum sinis. Andrew menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Ya ampun,,, apa aku harus berterimakasih padanya karna dia tidak menyuruhmu untuk menceraikanku.?" Seru Amira mengejek. Dia lantas tertawa geli.


"Bilang padanya, aku tidak sudi berbagi dengan wanita murahan." Bisik Amira serius, dia menyentuh pundak Andrew dan menepuknya pelan seolah sedang membersihkan jas Andrew dari debu. Amira kemudian berlalu, tapi Andrew kembali menahannya di ambang pintu.


"Tunggu Amira, aku belum selesai bicara." Andrew terlihat sangat frustasi karna kesulitan membujuk Amira. Dia juga sedang berada pada pilihan yang sulit. Dia mencintai Amira dan mengakui bahwa Amira berperan penting dalam kesuksesan yang dia dapatkan saat ini.


Dulu perusahaannya tidak sebesar ini ketika belum menikah dengan Amira. Wanita itu selalu memberikan support dan membantunya di kala kesulitan mengelola perusahaan.


Mengingat Amira juga berasal dari keluarga pebisnis, jadi Amira sedikit banyak mengetahui dunia bisnis.


"Semuanya sudah selesai Andrew.! Apa lagi yang mau di bicarakan.?" Ketusnya.


"Pada intinya kamu berselingkuh, mengkhianati aku dan pernikahan kita.! Aku memilih mundur, kita selesaikan di pengadilan saja.!" Amira berucap tegas penuh penekanan.


Tidak ada yang bisa mengubah keputusannya saat ini. Bercerai adalah keputusan terbaik untuk lepas dari pengkhianat. Bahkan sekalipun Andrew berjanji akan mengakhiri hubungannya dengan Sofia, keputusan Amira akan tetap sama. Berpisah adalah jalan terbaik untuk ketenangan hati dan pikirannya.


"Amira,,," Suara Andrew tercekat. Dia mengusap kasar wajahnya. Pada kenyataannya dia juga terluka jika rumah tangganya bersama Amira harus berantakan seperti ini.


"Aku mohon beri aku kesempatan. Aku akan mengakhiri hubungan dengan Sofia, tapi butuh waktu untuk menjelaskan padanya." Pintanya memelas.


Amira menatap geram. Semakin lama bicara dengan Andrew, kekecewaannya pada pria itu justru semakin bertambah. Secara tidak langsung Andrew lebih condong dan berat melepaskan Sofia.


"Percuma saja kalau kamu berat melepaskan wanita itu. Lagipula aku tidak akan berubah pikiran." Amira menjawab ketus dan buru-buru keluar dari kamar.


Langkahnya terhenti ketika melihat Arumi berdiri di depan kamarnya dengan pipi yang sudah basah karna air mata.


Andrew yang mendengar Amira menyebutkan nama putri mereka, kini ikut keluar dari kamar dan sama terkejutnya seperti Amira.


"Jadi Papa selingkuh.?" Suara Arumi tercekat dan bergetar menahan kehancuran di hatinya setelah mengetahui fakta buruk tentang sang Papa.


Sudah lebih dari 15 menit Arumi berdiri di depan kamar orang tuanya yang mungkin lupa menutup pintu. Arumi dengan jelas mendengar semua pembicaraan kedua orang tuanya.


Tatapan mata Arumi yang dulunya penuh kekaguman dan kebanggaan pada sosok sang Papa, kini berubah 180 derajat. Tatapan kekaguman itu berubah menjadi kekecewaan dan amarah yang mendalam.


Seketika dia menjadi benci pada Andrew. Selain karna perbuatan buruk Andrew tidak patut di contoh, Arumi juga ikut sakit hati melihat sang Mama di perlakuan seperti itu.


"Sayang,, Papa minta maaf." Andrew berjalan mendekati putrinya.


Arumi malah menghindar dengan berjalan mundur sembari mengusap air matanya.


"Papa keterlaluan, aku benci Papa.!!" Teriak Arumi dan langsung pergi dengan membawa luka di hatinya.


"Arumi,,, sayang,,, tunggu nak." Amira mengejar putrinya, begitu juga dengan Andrew.


Arumi tidak menghiraukan mereka, dia berlari cepat keluar dari rumah dan masuk lagi ke dalam mobilnya.


Andrew berdiri di depan mobil putrinya, dia menghalangi Arumi karna khawatir melihat kondisi Arumi yang tengah menangis.


"Keluar sayang, jangan menyetir dalam keadaan seperti ini." Teriak Andrew memohon.


Arumi tidak menggubris, meski Amira juga ikut membujuknya di sisi pintu kemudi. Meminta Arumi agar membuka pintu.


Arumi sudah terlalu kecewa, dia tidak mau mendengarkan kedua orang tuanya karna ingin buru-buru pergi dari sana.


Berkali-kali Arumi membunyikan klakson, meminta kedua orang tuanya agar tidak menghalangi jalannya.


Cukup lama Arumi di tahan oleh kedua orang tuanya, sampai akhirnya mereka menyerah karna Arumi tidak mau keluar.


Arumi melajukan mobilnya menuju kantor Agam. Saat ini dia butuh pelukan seseorang untuk menumpahkan kekecewaan dan kesedihan yang dia rasakan.


Begitu sampai di kantor, Arumi langsung ke meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan suaminya. Setelah tau Agam ada di ruangan kerjanya, Arumi buru-buru pergi ke sana.


Dia mengetuk pintu Agam sebelum membuka pintu dan masuk begitu saja ke ruangan sang suami tanpa memperhatikan kalau di dalam sedang ada rapat.


Arumi baru sadar ada beberapa orang di sana ketika dia sudah menghampiri Agam. Kepalang tanggung, dadanya juga sudah sangat sesak, ingin menangis dalam pelukan Agam.


Saat itu juga Arumi langsung menghambur ke pelukan Agam. Tidak peduli dengan pandangan karyawan Agam yang sudah pasti menatap bingung.


"Arumi,, ada apa.?" Agam tertegun sejenak karna masih kaget lantaran tiba-tiba Arumi datang dan langsung memeluknya erat. Kini istrinya itu tampak sedang menangis tanpa suara.


Tidak ada jawaban, tubuh Arumi justru semakin bergetar dalam dekapan Agam.


"Kita lanjut rapatnya besok pagi, kalian bisa kembali keruangan masing-masing dan melanjutkan pekerjaan." Titah Agam pada 5 orang karyawannya.


"Baik Tuan, kami permisi." Ucap Edwin mewakili rekan kerjanya yang lain. Agam mengangguk kecil dan mengisyaratkan pada mereka untuk segera keluar ruangan.