
"Tapi pelan-pelan,," Rengek Arumi. Dia terpaksa harus siapa, daripada membiarkan Agam merasakan liang lain di luaran sana.
"Hmm." Agam hanya berdehem.
Dia berusaha mencobanya lagi. Arumi terlihat memejamkan mata dengan kening berkerut dan menggigit bibir bawahnya.
Setiap kali Agam mencoba mendorongnya, Arumi akan berteriak kencang dan mendorong tubuh Agam hingga menjauh. Begitu seterusnya sampai Agam mengumpat geram karna Arumi selalu menggagalkannya.
"Sepertinya harus di ikat." Ujar Agam. Dia turun dari ranjang dan mengambil dasi miliknya di atas sofa. Arumi menggelengkan kepala dan menatap memelas, karna dai paham hal buruk apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Aku nggak mau di ikat Om. Om pikir kita sedang membuat film po rno.!" Protes Arumi sembari menyembunyikan tangannya di balik punggung.
"Kalau tanganmu nggak di ikat, sepertinya sampai aniversary kita, kamu masih tetap jadi pera wan.!" sahut Agam sewot. Dia menarik paksa tangan Arumi, tidak peduli meski Arumi memberontak.
Setelah berhasil mendapatkan kedua tangan Arumi, Agam menyatukan tangan Arumi ke atas kepala dan mengikatnya.
"Om tega sekali.!" Gerutu Arumi. Matanya tempak berkaca-kaca. Dia tidak akan bisa lagi mendorong tubuh Agam setelah ini.
"Sekalian saja ikat kakiku juga.!" Arumi membuang muka, enggan untuk menatap Agam.
"Ide bagus sayang. Aku akan mencari tali lagi." Agam malah menganggap serius perkataan Arumi. Dia hendak turun dari ranjang untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan mengingat, tapi Arumi berteriak dan melarang Agam agar tidak mengikat kakinya.
"Kalau begitu jangan memberontak, tahan saja sakitnya dan nikmati setelah itu." Ujar Agam, lalu kembali memposisikan diri.
Arumi sampai keringat dingin. Dia tau ber cinta akan memberikan kenikmatan yang jauh lebih besar, tapi mengetahui jika pertama kali melakukannya akan terasa sakit, jelas Arumi ketakutan. Liangnya bahkan masih terasa perih setelah Agam mencoba memasukkan batang itu tanpa memberitahunya lebih dulu.
"Pelan-pelan Om, please,," Arumi memelas. Dia sampai tidak berani membuka matanya ketika liangnya kembali bersentuhan dengan ujung batang tumpul Agam.
Agam membuang nafas berat. Melewati malam pertama dengan gadis pera wan ternyata tidak semudah bayangan.
Terlalu banyak rintangan, juga teriakan kesakitan dari lawan mainnya.
"Tahan sedikit Arumi,," Agam masih menuntun batangnya, satu tangannya dia gunakan untuk me re mas bukit agar Arumi tetap bisa merasakan nikmat di tengah-tengah rasa sakitnya.
Arumi tidak menjawab, dia sedang merasakan sakit di liangnya karna tekanan Agam semakin kuat. Suaminya itu benar-benar ingin memaksa masuk meskipun tau jalannya sangat sempit.
Dan dalam hitungan ke tiga, Agam menghentakkan pinggangnya saat kepala batang itu sudah tenggelam.
"Aaaahhh sakit banget Om.!! Lepasin,,!!" Tubuh Arumi menggeliat, dia meronta tanpa bisa menyentuh Agam karna kedua tangannya di ikat.
Benar-benar tragis momen malam pertamanya, meski menurut Agam cara itu bisa mempercepat proses penyatuan dan memberikan sensasi tersendiri.
"Hanya sebentar sayang, tahan sedikit." Ucap Agam lembut. Dia sedang merasakan nikmat luar biasa meski hanya mendiamkan batang itu di dalam sana.
Arumi tampak meneteskan air mata akibat rasa sakit dan perih yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Melihat Arumi menangis, Agam segera mengusap air matanya. Lalu membiarkan telapak tangannya mengusap lembut pipi Arumi seraya menatapnya dalam. Tak lupa mengukir senyum penuh damba padanya. Agam merasa puas sekaligus bangga karna menjadi laki-laki pertama bagi Arumi.
Agam menunduk, dia meraih bibir Arumi untuk di lu mat. Berniat mengurangi rasa sakit yang tengah di rasakan oleh Arumi, tapi istrinya itu malah enggan merespon. Sepertinya masih kesal pada Agam.
Tapi Arumi merasa kalau Agam melakukannya dengan kasar, apalagi sampai mengikat tangannya. Sepertinya adegan pemer ko saan di film-film dewasa saja.
"Marah.?" Tanya Agam setelah melepaskan pagutan bibirnya. Merasa tidak ada respon dan Arumi terus memejamkan matanya saat di cium, Agam mengerti kalau Arumi marah padanya.
"Rasanya sangat sakit, sepertinya robek.!" Keluh Arumi.
Kesal pada Agam, Arumi sampai membuang muka dan enggan menatapnya. Dia harus menahan sakit yang luar biasa di bawah sana, tapi Agam masih saja membenamkan batang itu dan tidak ada tanda-tanda akan mencabutnya lagi.
"Sudah aku bilang hanya sebentar sakitnya. Percaya padaku." Agam meraih pipi Arumi agar menatapnya.
"Setelah ini pasti nikmat." Tuturnya tanpa di gubris oleh Arumi. Gadis itu tidak yakin akan merasakan nikmat setelah ini, mengingat liangnya sangat perih dan nyeri. Membayangkan Agam bergerak saja sudah membuat liangnya ngilu.
"Lepaskan dulu ikatannya." Pinta Arumi sedikit memaksa.
"No. Aku suka melihatmu seperti itu, lebih seksi." Sahut Agam. Fantasinya sedikit berbeda ketika bermain dengan Arumi. Padahal sebelumnya Agam lebih suka melihat lawan mainnya mendominasi permainan.
"Ini nggak nyaman Om, aku,,," Agam langsung membungkam bibir Arumi dengan sebuah ciuman panas sebelum istrinya itu selesai bicara.
Agam sengaja melakukannya karna sudah siap untuk mengarungi lautan penuh kenikmatan.
Perlahan tapi pasti, Agam mulai bergerak pelan. Dia membiarkan Arumi beradaptasi lebih dulu.
Gadis dalam kungkungan terus memberontak dengan gerakan tubuh. Tapi tak membuat Agam berhenti. Dia sudah terlanjur hanyut dan menikmati sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya ketika ber cinta dengan wanita lain.
Agam bahkan sampai mengerang, merasakan nikmat yang berpusat pada batangnya dan menjalar ke seluruh tubuh.
Selang beberapa menit, tubuh Arumi tidak lagi memberontak. Agam bisa merasakan tubuh istrinya mulai rileks.
Agam melepaskan ciumannya, lalu menatap lekat wajah Arumi. Ekspresinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Mungkin rasa sakitnya mulai berkurang, atau bisa jadi tertutup oleh rasa nikmat.
"Masih sakit.?" Tanya Agam untuk memastikan. Dia akan mempercepat temponya jika Arumi sudah tidak merasakan sakit lagi.
"Sedikit,," Nada bicara Arumi mulai melunak.
Agam tersenyum senang mendengarnya. Dia langsung mempercepat gerakannya tanpa memberitau Arumi lebih dulu. Gadis itu sempat berteriak, mungkin karna kaget dan kembali merasakan sakit. Tapi setelah itu, Arumi malah meloloskan de sa han tertahan.
Dia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa nikmat bercampur sakit. Tentu saja rasa nikmat yang baru pertama kali dia rasakan.
"Jangan di tahan, ayo mende sah lagi." Pinta Agam.
Kedua tangannya sejak tadi aktif memainkan dua bukit yang bergerak bebas.
Wajah Arumi merona menahan malu. Dia tadi sempat kesal dan marah-marah pada Agam, sekarang malah menikmati permainannya dan tidak bisa menyangkal kenikmatan yang luar biasa itu.
Pada akhirnya rasa nikmat mampu menutupi rasa malu. Arumi tidak lagi menahan de sa han. Dia meloloskan de sa han begitu saja, bahkan suara de sa han nya sampai memenuhi kamar. Hal itu justru membuat Agam semakin semangat bercocok tanam dan menunjukkan kehebatannya pada Arumi.