Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 117



Pagi itu tidur Arumi sedikit terusik ketika merasakan pergerakan cepat di atas ranjang. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, Arumi bisa melihat suaminya menyibak selimut dengan kasar dan melompat turun dari ranjang.


Agam sedikit berlari menuju ke kamar mandi, sontak Arumi merasa panik dan akhirnya ikut bangun menyusul suaminya ke kamar mandi.


"Sayang kamu,,,"


Belum sempat meneruskan ucapannya, suara di kamar mandi cukup membuatnya cemas.


"Hueekk,,, hueekk,,,"


Arumi masuk ke dalam kamar mandi tanpa pikir panjang. Dia mendekati Agam yang tengah berdiri di depan wastafel dengan keadaan sedang mengeluarkan isi perutnya. Tanpa rasa jijik sedikitpun, Arumi mengusap-usap tengkuk suaminya. Agam sempat melirik, namun tidak memberikan respon apapun karna perutnya sedang bergejolak hebat. Sesuatu di dalam perut memaksa ingin keluar dan itu membuatnya lemas.


"Sepertinya kamu sakit. Sebaiknya kita pergi ke dokter setelah ini." Ujar Arumi cemas. Dia masih setia di samping Agam karna belum selesai mengeluarkan isi perutnya. Wajah suaminya semakin lama terlihat makin pucat. Menambah kecemasan Arumi yang tidak bisa dia sembunyikan.


"Aku telfon dokter saja." Ujar Agam selesai mencuci wajah dan mulutnya. Pria dengan tubuh tinggi dan tegap itu tidak lagi terlihat kuat. Sepertinya 60 persen tenaganya habis terkuras setelah memuntahkan isi perut.


Arumi mengangguk setuju, itu jauh lebih baik daripada membiarkan Agam menyetir sendiri menuju rumah sakit.


Arumi kemudian menuntun Agam keluar kamar mandi dan mengajaknya duduk di tepi ranjang.


"Bisa buatkan teh hangat.?" Pinta Agam lirih.


Arumi mengangguk cepat seraya beranjak dari duduknya.


"Tentu saja. Tunggu disini, aku segera bawakan teh hangat." Arumi bergegas keluar kamar sembari menggulung asal rambut panjangnya dan mengikatnya ke atas. Dia bahkan belum mencuci muka setelah bangun tidur. Lebih tepatnya tidak sempat berfikir untuk membersihkan diri karna terlalu panik melihat Agam muntah-muntah.


Arumi kembali dengan secangkir teh hangat di tangannya. Agam telihat sedang bersandar di kepala ranjang dan memijat pelipisnya ketika Arumi masuk ke dalam kamar.


"Minum dulu. Sini biar aku yang pijat." Arumi memberikan teh itu pada Agam, setelahnya naik ke atas ranjang untuk memberikan pijatan di pelipis suaminya.


"Sudah telfon dokternya.?" Tanya Arumi.


Agam menjawab dengan anggukan. Dia sedang menikmati menyesap teh hangat dan pijatan di pelipisnya. Teh hangat dan pijatan itu lumayan mengurangi rasa tidak nyaman di perut dan rasa pusing di kepala.


Agam tidak pernah muntah-muntah sebelumnya. Apalagi kondisinya sejak kemarin juga termasuk cukup sehat. Jadi merasa aneh ketika tadi merasakan perutnya seperti di kocok-kocok.


...*****...


"Silahkan masuk Dok,," Ajak Arumi pada dokter yang tak lain adalah teman suaminya.


Setelah menunggu 30 menit, akhirnya dokter itu datang juga.


"Agam tidak pernah sakit sampai harus memanggilku sebelumnya, sebenarnya dia sakit apa.?"Tanyanya bingung.


Arumi menutup pintu lebih dulu setelah dokter itu masuk.


"Tadi saat bangun tidur, dia muntah-muntah.


Selain itu, tidak ada keluhan lain." Tutur Arumi mejelaskan.


"Sebelumnya tidak pernah muntah-muntah seperti ini." Ujarnya cemas.


Dokter itu tampak mengangguk-anggukan kepala, dia seolah paham apa yang sebenarnya terjadi pada temannya itu. Apalagi temannya itu baru saja menikah beberapa bulan lalu.


Arumi membuka pintu perlahan, tadi suaminya itu tidur lagi sekitar 20 menit yang lalu. Mungkin kelelahan setelah muntah-muntah, jadi di serang kantuk.


"Sayang,, Dokternya sudah sampai." Lirih Arumi sambil mengusap pelan rahang tegas suaminya.


Tak butuh waktu lama, Agam sudah membuka matanya.


"Tidak usah banyak bicara, lakukan saja tugasmu.!" Sahut Agam sewot.


Leo menggeleng tak habis pikir. Sedang lemah saja masih bisa bersikap ketus.


"Oke,, oke. Jadi apa keluhanmu.?" Ujarnya sembari mengeluarkan tensimeter untuk mengukur tekanan darah. Leo juga mengeluarkan stetoskop.


Agam hanya menjelaskan singkat mengenai keluhannya.


"Normal, semuanya normal. Kamu baik-baik saja." Jelas Leo selesai memeriksa Agam.


Pria yang baru saja di periksa itu langsung membulatkan matanya, melotot tajam pada Leo seakan ingin memakannya hidup-hidup.


Bagaimana bisa Leo mengatakan dia baik-baik saja setelah mengalami mual dan muntah-muntah hingga membuat tubuhnya lemas.


"Kamu bosan jadi Dokter ya.?!" Ketus Agam sewot. Dia jadi menyesal sudah menghubungi Leo di antara beberapa temannya yang menjadi Dokter.


"Lihat saja, kamu bahkan masih bisa bersikap ketus seperti ini. Itu artinya kamu sehat-sehat saja." Sahut Leo. Dia seperti sengaja ingin membuat Agam semakin murka.


Benar saja, pria itu langsung mengambil bantal di sampingnya dan hendak melemparnya pada Leo.


Untung saja ada Arumi yang sigap menahan tangan Agam.


"Sayang,, jangan begitu." Pinta Arumi lembut, dengan usapan di lengan Agam dan membuat amarah pria itu sedikit menurun.


"Tolong kamu bawa dia keluar dari disini, sama sekali tidak berguna. Aku akan panggil dokter yang lain." Agam melirik malas ke arah Leo.


"Sialan, bisa-bisanya kamu menjatuhkan harga diriku di depan istrimu."


"Aku dokter terbaik di rumah sakit terbesar di kota ini, kalau kamu lupa.!" Seru Leo mengingatkan.


Ya, Agam tidak menutup mata akan hal itu. Leo memang cukup terkenal dengan keahliannya sebagai dokter. Tidak heran dia menjadi dokter terbaik.


"Kamu memang baik-baik saja, tidak ada penyakit serius yang membutuhkan penanganan khusus." Tutur Leo berusaha meyakinkan.


"Aku sarankan, sebaiknya istri kamu yang di periksa." Sambungnya seraya melirik Arumi.


Agam mengambil bantal lagi dan dengan cepat melemparnya ke wajah Leo. Tidak ada yang bisa mencegahnya karna gerakan Agam sangat cepat dan tiba-tiba.


Leo mengumpat kesal karna bantal itu mengenai wajahnya.


"Bilang saja kamu ingin mencari kesempatan untuk memeriksa istriku.!" Gerutu Agam sewot.


"Astaga,,, kau itu benar-benar menyebalkan."


"Istrimu bisa kabur kalau sikapmu masih seperti ini." Cibir Leo tak kalah sewot.


"Aku menyuruh istrimu di periksa karna aku menduga dia sedang hamil. Kamu sepertinya mengalami syndrom couvade atau kehamilan simpatik. Jadi suami mengalami mual dan muntah seperti wanita yang sedang hamil." Jelas Leo panjang lebar. Tangannya sembari memasukkan alat-alatnya kedalam tas dan beranjak dari duduknya.


"Aku pulang dulu, jangan lupa bayarannya. Rekening ku tidak berubah.!" Serunya kemudian berlalu begitu saja dari kamar.


Meninggalkan sepasang suami-istri yang memaku di tempat dan saling menatap tak percaya.


Hamil.??? Benarkah istrinya itu hamil.??


Agam bertanya-tanya dalam hati. Antara percaya dan tidak dengan perkataan Leo. Tapi entah kenapa dia lebih mempercayai ucapan Leo alih-alih tidak yakin.


Tak mau di hantui rasa penasaran, Agam langsung mengambil ponsel untuk membeli 5 alat tes kehamilan.