Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 124



Glen bergegas menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD. Selama lebih dari 40 menit Glen hanya bisa menunggu di luar dengan perasaan cemas dan kalut. Gea sampai tidak sadarkan diri dalam perjalanan, itu artinya kondisi Gea tidak baik-baik saja dan semua itu akibat perbuatan kasarnya. Wajar kalau Glen merasa panik dan takut, karna jika terjadi sesuatu pada Gea, dia yang harus bertanggungjawab.


"Bagaimana kondisinya Dok.?" Tanya Glen panik.


Dokter perempuan itu tampak menarik nafas dalam. Ada penyesalan bercampur kesedihan dalam sorot matanya. Seketika pikiran Glen semakin kalut karna ekspresi wajah dokter itu tidak bersahabat. Dia berfikir akan mendapatkan kabar buruk tentang kondisi Gea.


"Maaf Pak,, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi,,," Ucapan Dokter itu terjeda karna Glen langsung berteriak.


"Tidak.!! Tidak mungkin.!!" Teriaknya sembari menggoncang kuat kedua bahu dokter itu. Perawat yang baru keluar dari ruang UGD di buat syok dan langsung membatu dokter itu lepas dari cengkraman Glen.


"Menyelamatkan 1 orang saja kalian tidak becus.?!! Dia hanya pingsan, bagaimana bisa nyawanya tidak tertolong.!!" Teriakan Glen semakin menjadi. Wajahnya merah padam dengan sorot mata tajam. Glen terlihat lebih frustasi dari sebelumnya.


Kabar buruk itu membuatnya seperti kehilangan akal. Pot bunga di depan ruang UGD sampai menjadi sasaran. Glen menendangnya hingga berserakan.


Perawat dan dokter itu sampai ketakutan menghadapi kemarahan Glen. Beberapa petugas dan satpam langsung datang ke tempat kejadian dan mengamankan Glen yang hampir menerobos masuk ke ruang UGD.


"Lepas.!! Sialan.!!" Glen memberontak. Tenaganya cukup kuat hingga 3 orang laki-laki kewalahan memeganginya.


"Sabar Pak,, tolong tenang dulu.!!" Teriak dokter wanita itu karna tidak tau lagi harus bagaimana untuk membuat Glen berhenti mengamuk.


"Tenang.?!! Apa kamu sudah tidak waras, hah.?!!" Hardik Glen penuh amarah. Nyawa Gea tidak tertolong, bagaimana bisa seseorang menyuruhnya untuk tenang.


"Istri Bapak baik-baik saja.!! Dia selamat." Serunya kemudian. Detik itu juga Glen berhenti memberontak. Kekuatan dalam dirinya perlahan berkurang, ada perasaan bahagia yang tiba-tiba menyelimuti ketika mengetahui Gea masih bernyawa.


Tanpa bisa di bendung, air mata Glen luruh begitu saja. Ya, itu air mata bahagia dari lubuk hatinya yang terdalam. Glen mungkin tidak menyadari bahwa jauh di lubuk hatinya dia memiliki perasaan pada Gea sampai frustasi ketika mengira nyawa Gea todak tertolong.


"Tolong dengarkan penjelasan kami dulu." Ujar Dokter itu memohon. Dia bisa bicara pelan karna Glen sudah tidak berteriak-teriak seperti tadi.


"Istri Bapak mengalami perdarahan. Kami sudah mengupayakan yang terbaik, tapi salah satu janinnya tidak tertolong." Tuturnya penuh sesal. Meski itu bukan kesalahannya, tapi Dokter itu sangat menyayangkan salah satu dari bayi kembar itu tidak bisa bertahan.


Perdarahan yang dialami Gea cukup serius, sedikit saja terlambat di bawa ke rumah sakit, kemungkinan kedua janin itu tidak selamat dan nyawa Gea juga terancam.


Kabar mengejutkan itu cukup membuat Glen tertegun. Dia sampai kesulitan berkata-kata.


Janin.? Glen hampir tidak percaya kalau ternyata Gea sedang hamil.


Lebih mengejutkan lagi, Gea mengandung 2 anak sekaligus dan akibat perbuatan bodohnya pada Gea, salah satu janin itu harus pergi selamanya.


Perlahan tubuh Glen melemas, dia kehilangan seluruh tenaganya sampai kehilangan keseimbangan. Tubuhnya hampir ambruk ke lantai kalau saja security dan perawat tidak memegangi bahu Glen.


Mereka lalu menuntun Glen untuk duduk di kursi panjang. Pria itu menurut, duduk terdiam dengan tatapan menerawang seperti kehilangan arah.


Segala macam pikiran dan perasaan berkecambuk jadi satu.


Glen masih syok mengetahui Gea sedang hamil. Pasalnya Gea bersikeras mengakui kalau dirinya tidak hamil.


Glen tersenyum getir, sekarang dia tau kalau Gea berusaha menyembunyikan kehamilan itu darinya.


Belum lagi keinginan Gea untuk pergi. Pasti kehamilan itu yang menjadi alasan kenapa Gea ingin buru-buru pergi darinya.


...*****...


3 jam yang lalu Gea sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Selama 3 jam itu, ada sosok pria yang tidak pernah beranjak dari ruangan vip tersebut. Pria yang duduk di samping ranjang pasien sambil terus menggenggam tangan kanan Gea.


Pria dengan raut wajah penuh sesal dan kesedihan. Pria yang baru saja merutuki kebodohannya sendiri sampai mengakibatkan nyawa darah dagingnya melayang.


Pria yang sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menebus semua kesalahannya. Menggantikan kesedihan dengan kebahagiaan selama sisa hidupnya.


Glen terkejut saat merasakan jari-jari Gea bergerak pelan dalam genggamannya. Sudut bibir Glen tanpa sadar terangkat, tentu merasa lega karna Gea sudah sadarkan diri.


Glen buru-buru menekan tombol untuk memanggil dokter.


"Apa ada yang sakit.? Kamu mau minum.?" Cecar Glen dengan tatapan cemas namun penuh perhatian.


Gea yang baru saja membuka mata di buat kebingungan. Terlebih sudah ada di rumah sakit dengan selang infus yang menancap di tangannya. Lalu sikap Glen yang tiba-tiba terlihat sangat lembut dan mencemaskan keadaannya.


Sejenak Gea memikirkan apa yang sebelumnya terjadi padanya. Begitu mengingat kejadian di apartemen, kedua mata Gea langsung membulat sempurna. Dia ingat area intinya mengeluarkan banyak darah setelah Glen menidurinya secara paksa.


Tangan Gea kemuda reflek memegang perut, dia mengkhawatirkan kondisi bayinya. Namun saat menyadari tatapan Glen, Gea buru-buru menyingkirkan tangan dari perutnya karna takut membuat Glen mencurigai kehamilannya.


Tapi Gea juga berfikir mungkin saja Glen sudah tau dari pihak rumah sakit mengenai kondisinya saat ini.


"Apa perutnya sakit.?" Glen reflek menyentuh perut Gea karna tadi sempat melihat Gea menyentuh perut.


Gea menggeleng sembari menyingkirkan tangan Glen dari perutnya.


"Tidak." Jawabnya bohong. Karna sebenarnya Gea merasakan sedikit sakit dan tidak nyaman di perutnya.


"Sebentar lagi Dokter datang. Kamu mau minum dulu.?" Glen bertanya sambil merapikan anak rambut Gea ke belakang telinga. Perlakuan Glen semakin membuat Gea merasa heran dan bertanya-tanya.


Sebenarnya pria itu kenapa.? Apa mungkin karna merasa bersalah setelah berbuat kasar sampai membuatnya masuk ke rumah sakit. Gea hanya bisa menduga-duga tanpa tau kalau Glen sudah membuat salah satu bayinya tidak bisa di selamatkan.


Tak berselang lama seorang dokter beserta perawat masuk ke ruangan. Mereka memeriksa kondisi Gea dan menanyakan apa yang dirasakan oleh wanita berusia 19 tahun itu.


"Hanya pusing dan lemas saja. Perutku juga sedikit sakit." Lirih Gea agar tidak di dengar oleh Glen. Kebetulan Glen sedang menerima telfon, jadi Gea berani mengatakan keluhan pada perutnya.


"Tidak apa, sakitnya akan berangsur-angsur menghilang."


"Kamu harus banyak istirahat agar janin satunya bisa bertahan sampai waktunya dilahirkan." Tutur Dokter seraya tersenyum lembut.


"Janin satunya.? Maksud dokter.?" Gea mengerutkan keningnya. Ucapan dokter itu terdengar ambigu.


"Jadi kamu belum tau kalau sebelum ini ada 2 janin di perutmu.?" Dokter itu juga ikut bingung. Dia pikir Gea sudah tau tentang kehamilan kembarnya.


Gea menggelengkan kepala tanda tidak tau.


Dokter itu kemudian mengatakan kalau sekarang tinggal 1 janin yang masih bertahan dalam rahimnya. Kenyataan itu membuat Gea syok. Matanya sudah berkaca-kaca tapi terlihat berusaha menahan tangis.