Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 67



Agam membuang nafas kasar. Panggilan telfonnya sudah di tolak berkali-kali oleh Arumi, sekarang nomor ponsel Arumi malah tidak aktif.


Agam juga beberapa kali mengirim pesan pada Arumi untuk meminta maaf dan menyuruhnya mengangkat telfon, tapi pesan yang Agam kirimkan hanya di baca saja.


Arumi sedang menunjukkan kekecewaannya pada Agam lantaran dituduh dan dipaksa mengakui perbuatan yang tidak pernah dia lakukan.


Pria itu kini sudah menyadari kesalahannya, terlebih setelah mengetahui siapa orang yang mengirimkan foto-foto Arumi bersama laki-laki lain.


Melupakan sejenak permasalahannya dengan Arumi, Agam kembali sibuk berkutat di depan laptopnya. Pekerjaan yang menumpuk memaksa Agam tetap berada di kantor, alih-alih pergi ke rumah Arumi untuk membujuk gadis itu supaya tidak marah lagi padanya.


Dia bukannya tidak peduli dengan kekecewaan Arumi, hanya saja pekerjaannya harus segera di selesaikan hari ini.


Ponsel milik Agam berdering. Pri itu melirik ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja kerjanya.


Dia lantas menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.


"Hallo,,," Suara lembut seorang wanita langsung menyapa di seberang sana. Agam dulu mengagumi kelembutan sikap dan nada bicaranya, tapi kini tidak lagi. Kekaguman itu mulai sirna sejak Arumi menunjukkan rekaman suara mereka berdua.


"Maaf tadi nggak angkat telfon kamu. Aku baru selesai meeting." Tuturnya sedikit cemas, seolah takut Agam akan marah karna tidak menerima telfonnya 1 jam yang lalu. Padahal Agam juga tidak akan peduli dengan alasan yang dia berikan.


"Besok temui aku di restoran xxx jam 12 siang. Jangan sampai terlambat." Agam berucap datar, padahal sedang menahan amarahnya. Sebenarnya Agam bisa saja memberikan teguran saat ini juga melalui sambungan telfon, tapi dia lebih tertarik untuk menegurnya secara langsung.


"Besok.? Kenapa mendadak sekali." Serunya. Dari nada bicaranya, dia tampak terkejut sekaligus senang. Dia mungkin tidak menyangka Agam masih mau bertemu dengannya, bahkan mengajaknya bertemu di restoran pada jam makan siang.


"Baiklah, aku akan datang tepat waktu." Ucapnya tak berselang lama.


Agam lalu mengakhiri panggilan telfonnya secara sepihak. Dia juga tidak memberikan respon apapun padanya.


...*****...


Agam melirik arloji di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan dia baru menyelesaikan semua pekerjaan.


Bergegas merapikan meja kerjanya, Agam kemudian meninggalkan kantor untuk pergi ke rumah Arumi.


Masalahnya dengan gadis itu harus segera di selesaikan malam ini juga. Jangan sampai Arumi mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan mereka yang sudah di depan mata.


Apalagi kalau sampai Arumi mengadu pada orang tua mereka, sudah pasti Agam akan mendapat masalah besar.


"Eh,, Tuan Agam. Saya pikir Tuan dan Nyonya Andrew kembali lagi." Ujar asisten rumah tangga yang membukakan pintu.


Kening Agam sampai berkerut lantaran ART itu mengira kedua orang tua Arumi yang datang.


"Iya Tuan, baru 10 menit yang lalu. Mereka ke bandara, katanya ada urusan mendadak di luar kota." Tuturnya sembari membuka pintu lebih lebar dan memberikan ruang pada Agam supaya bisa lewat.


"Silakan masuk Tuan. Nona Arumi baru saja pergi ke kamarnya."


Agam mengangguk kecil dan melangkah ke dalam.


Pria itu menolak saat ART akan memanggilkan Arumi. Dia malah meminta ijin untuk menemui Arumi di kamarnya. ART itu mana berani melarang Agam menemui Arumi. Meskipun dia tau tidak baik jika seorang laki-laki menghampiri perempuan ke dalam kamarnya, karna takut terjadi sesuatu yang meresahkan sebelum waktunya.


ART itu hanya bisa memperhatikan langkah Agam ketika sedang menaiki tangga untuk pergi ke kamar Arumi. Pikirannya jadi ke sana kemari. Mengingat kembali kalau Agam seorang duda dan pria dewasa. Walaupun dia tau betul kalau anak majikannya itu sangat polos dan yakin tidak akan berani berbuat sesuatu di luar batas, tapi dia tidak yakin Agam bisa menahan diri ketika hanya sedang berdua dengan gadis cantik di dalam kamar. Apalagi ART itu terakhir kali melihat Arumi memakai mini dress tanpa lengan.


Seketika dia menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran buruk tentang Agam dan anak majikannya itu.


Lagipula apapun yang akan mereka lakukan di dalam kamar itu, sama sekali tidak ada hubungannya dan tidak merugikannya. Dia justru khawatir di pecat kalau ikut campur urusan mereka.


"Pacarannya anak muda jaman sekarang, bikin orang tua was-was." Gumamnya kemudian berlalu ke dapur.


Kalau Andrew dan Amira tau hal itu, mungkin reaksinya akan jauh lebih mengejutkan.


Sementara itu, Agam membuka pintu kamar Arumi setelah mengetuknya 3 kali. Dia tidak butuh jawaban / ijin dari Arumi, karna akan tetap masuk ke dalam kamar sekalipun tidak ada sahutan dari dalam.


"Om,,!" Arumi terperanjat kaget. Dia langsung menutupi dadanya dan menaikan kembali dressnya setelah melepaskan br -a. Akibat ukuran da -danya bertambah, sekarang Arumi wajib melepaskan br -a sebelum tidur. Karna jika tidur dalam keadaan masih memakai br-a, dia tidak akan bisa tidur nyenyak lantaran merasakan sesak dan sakit di bagian da -danya.


"Lagi ngapain kamu.?" Tatapan Agam penuh kecurigaan. Arumi jadi terlihat malu sekaligus takut, dia yakin Agam sedang berfikir macam-macam padanya karna melihatnya dalam keadaan setengah te lanjang. Pria yang memiliki tingkat kemesuman cukup tinggi itu, sudah pasti berfikir yang tidak-tidak.


"Aku kesulitan tidur kalau memakai ku-tang." Sahut Arumi.


"Om mau ngapain datang kesini.? Kenapa juga masuk ke kamarku." Tatapan mata Arumi berubah malas, nada bicaranya juga ikut sinis. Rupanya rasa kesalnya pada Agam belum berkurang. Tapi tidak tau beberapa menit ke depan setelah Agam membujuknya dan memanfaatkan situasi yang sepi. Bisa saja nanti Arumi kembali luluh seperti yang sudah-sudah. Karna pada dasarnya Arumi memiliki hati yang lembut, dia sangat mudah memaafkan dan tidak bisa benar-benar membenci seseorang.


"Berhenti marah padaku. Kita bicarakan masalah ini baik-baik." Pinta Agam tanpa bersikap dingin seperti biasanya. Dia lebih santai dan bicara sedikit lembut karna sedang membujuk Arumi.


”Om sendiri yang membuat masalah." Arumi melirik malas.


"Hanya karna melihat sebuah foto yang di ambil pada saat-saat tertentu, Om sampai menuduhku." Arumi menyambar cardigan, bermaksud akan keluar dari kamar agar Agam ikut keluar dan tidak berduaan di dalam kamar.


Arumi seperti menyadari kelemahannya. Dia lebih baik mengantisipasi sejak awal, dan tidak memberikan peluang pada Agam untuk berbuat aneh-aneh padanya.


"Mau kemana.? Kita bicara disini saja. Jangan sampai pekerja di sini melihat kita sedang berdebat." Agam menahan pergelangan tangan Arumi. Gadis itu bahkan belum beranjak, tapi Agam seperti tau kalau Arumi akan keluar dari kamar.