Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 135



Gea berdiri di depan pintu rumah sederhana yang kini di huni orang tuanya sejak pindah ke Surabaya. Rumah itu jauh dari kata mewah, sangat berbanding terbalik dengan rumah lamanya di Jakarta yang terpaksa harus mereka jual. Kehidupan orang tua Gea benar-benar berubah drastis. Tidak ada lagi yang namanya kemewahan. Mereka juga sengaja membeli rumah sederhana yang harganya murah agar sisa uang yang mereka miliki bisa digunakan untuk memulai usaha baru.


Mata Gea mengembun, terasa perih menahan air matanya. Dadanya sesak dengan keadaan keluarganya, sekarang dia datang untuk menambah beban kedua orang tuanya. Beban yang jauh lebih besar dan memalukan dari sekedar jatuh miskin. Hal itu yang membuat Gea tidak berani mengetuk pintu rumah orang tuanya dan memilih mematung dengan perasaan yang berkecmbuk. Glen juga memilih diam, dia membiarkan Gea menenangkan diri dan siap menemui orang tuanya.


"Ada aku, kita hadapi sama-sama." Glen menggenggam jemari tangan Gea dan menatapnya teduh. Pria itu bisa memahami kekhawatiran dan ketakutan yang Gea rasakan saat ini. Wanita berusia 18 tahun itu sampai ragu untuk mengetuk rumah orang tuanya sendiri.


Gea melirik dengan sorot mata dalam. Melihat keseriusan dan antusias Glen untuk datang ke Surabaya, Gea percaya Glen bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan kedua orang tuanya. Namun Gea tidak yakin kedatangannya dengan Glen akan di sambut baik jika mengetahui fakta tentang kehamilannya.


Glen akhirnya mengetuk pintu, terlalu lama kalau harus menunggu Gea siap bertemu orang tuanya. Glen ingin secepatnya meminta maaf, lalu meminta restu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Gea tampak gelisah saat Glen mengetuk pintu. Telapak tangannya langsung dingin dalam genggaman Glen.


"Tidak usah cemas." Ucap Glen lembut. Gea melirik kesal, Glen terlalu enteng memintanya agar tidak cemas. Jika Glen yang ada di posisinya, belum tentu juga bisa bersikap tenang dalam kondisi seperti ini.


Terdengar suara kunci yang diputar dari dalam dan tak berselang lama pintu di buka. Sosok wanita paruh baya yang membukakan pintu tampak terkejut melihat kedatangan Gea. Senyum di wajahnya mengembang sempurna, sorot matanya berbinar. Dalam sekejap wanita paruh baya itu sudah menarik Gea dalam pelukannya.


"Kenapa tidak bilang kalau mau datang." Ucapnya dan semakin mengeratkan pelukannya untuk melepas rindu yang selama ini tertahan. Jarak yang jauh dan keadaan ekonomi membuat mereka sulit bertemu.


Gea menangis terisak tanpa bisa dibendung. Farah memgusap-usap lembut punggung putrinya yang semakin terisak. Farah pikir, Gea menangis lantaran terharu karna akhirnya mereka bisa bertemu lagi setalah berbulan-bulan lamanyalamanya terpisah oleh jarak. Farah tidak tau kalau tangisan itu mengandung penyesalan dan rasa bersalah dalam diri Gea padanya.


Puas melepas rindu, Farah kemudian melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Gea. Wanita paruh baya itu lantas menoleh ke samping, menatap pria yang datang bersama putrinya. Tadinya Farah ingin langsung bertanya tentang Glen, tapi tidak bisa menahan diri untuk memeluk putrinya karna terlalu rindu.


Mendapat tatapan dari Farah, Glen seketika tersenyum ramah dengan kepala sedikit menunduk.


"Saya Glen tante." Ujarnya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan pada Farah.


Farah terlihat sedikit ragu mengulurkan tangannya pada Glen.


"Temannya Gea.?" Tanya Farah penasaran.


Glen menggelengkan kepala, dia hampir membuka mulut untuk memperkenalkan diri sebagai calon suami Gea. Namun dengan cepat Gea bicara pada Farah seolah sengaja agar Glen tidak langsung buka suara.


"Kita masuk saja ya Mah, bicaranya di dalam saja." Pinta Gea. Farah mengangguk dan mempersilahkan keduanya masuk ke dalam rumah.


"Papa sama adik dimana.?" Gea mengamati keadaan rumah orang tuanya yang tampak sepi.


"Kalau Papa masih di kantor, biasanya jam 5 baru sampai rumah. Nanti Mama telfon supaya pulang sekarang." Farah hendak beranjak untuk mengambil ponselnya di dalam kamar, namun pengakuan Gea membuat Farah kembali duduk.


"Maaf Mah, Gea sudah melakukan kesalahan besar." Suara Gea tercekat di tenggorokan, air matanya kembali mengalir. Dia tidak ingin menutupinya lebih lama, namun takut menyakiti hati sang Mama.


"Sayang, sebenarnya ada apa.?" Farah menggenggam tangan putrinya dengan tatapan cemas karna tiba-tiba meminta maaf sambil menangis dan mengaku telah melakukan kesalahan.


"Maaf tante, sebenarnya saya yang minta diantar kemari untuk menemui Tante dan Om." Glen berbicara tegas. Sebagai pria yang sudah berniat mempertanggungjawabkan perbuatannya, Glen mencoba bersikap gentleman di depan orang tua Gea.


"Memangnya ada apa.?" Hati Farah mendadak gelisah, nalurinya sebagai orang tua seperti sedang di uji. Melihat putrinya yang menangis karna merasa bersalah dan datang kerumah dengan seorang pria, Farah kesulitan berfikir jernih.


"Saya ingin meminta restu dan ijin untuk menikahi Gea dalam waktu dekat." Ucap Glen lantang.


"Gea,," Panggil Farah dengan tatapan nanar pada putrinya.


"Kamu masih 18 tahun, kuliahnya juga masih panjang. Kenapa mendadak mau menikah.?" Farah menatap curiga, namun masih berusaha berfikir positif.


Farah terkejut saat Glen tiba-tiba bersimpuh di kakinya, kepalanya tertunduk penuh sesal.


"Maafkan saya tante, saya,,"


Glen mengakui perbuatannya di depan Farah. Pria itu memberikan pengakuan yang justru menyudutkan dirinya sendiri seolah-olah kehamilan Gea murni kesalahannya. Glen memang sengaja melakukan itu agar kedua orang tua Gea tidak terlalu kecewa dengan putri mereka yang sebenarnya sudah tidak suci lagi saat Glen menyentuhnya.


Glen mengaku kalau dia sengaja menjerat Gea dan memaksa Gea untuk melakukan hubungan se ks dengannya. Walaupun benar kalau kejadian ini memang ada unsur paksaan, tapi semua itu juga bermula dari perbuatan Gea yang telah mencuri jam tangan Glen. Dan setelah itu, Gea dan Glen tampak sama-sama menikmati menjalani hubungan tanpa status tersebut. Jadi tidak sepenuhnya salah Glen.


Farah masih tampak syok. Dia menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa dan nafasnya naik turun. Wanita itu sampai kehabisan kata-kata dan air matanya ketika mendengar kabar kehamilan putri yang dia harapkan bisa sukses dan kembali memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Tapi harapan itu seketika pupus, dihancurkan oleh kabar kehamilan Gea diluar nikah.


"Mama kecewa.!" Pekik Farah dengan hati yang hancur berkeping-keping. Jika diluar sana para nenek akan bahagia ketika menyambut kelahiran cucu pertama, hal berbeda justru dirasakan Farah.


Jangankan bahagia, yang ada malah frustasi karna merasa telah dicoreng dan permalukan harga dirinya karna memiliki anak yang hamil di luar nikah.


Gea hanya bisa terisak dan terus meminta maaf meski tau tidak akan mudah mendapatkan maaf.