Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 92



Pagi itu Arumi di bangunkan paksa oleh Agam. Pria itu seperti tidak ada puasnya untuk menyentuh sang istri. Baru bangun tidur saja langsung on ketika melihat tubuh seksi Arumi masih berbalut kostum semalam, dia jadi merasa di goda melihat pemandangan menggiurkan itu. Padahal Agam sendiri yang melarang Arumi supaya tidak mengganti baju.


"Sayang aku masih ngantuk,," Arumi malah memejamkan mata dalam gendongan Agam. Tangannya melingkar erat di leher Agam.


Dia sedikit kesal pada Agam karna tiba-tiba membangunkannya dan menggendong tubuhnya tanpa permisi.


"Jangan khawatir, setelah ini rasa kantukmu akan hilang." Jawab Agam dengan seringai mesum. Memiliki istri cantik dan seksi seperti Arumi, rugi kalau dibiarkan begitu saja. Selagi ada waktu dan kesempatan, Agam tak mau menyia-nyiakannya.


Masuk ke kamar mandi, Agam mendudukkan Arumi di atas wastafel. Arumi yang masih sangat mengantuk, hanya bisa menuruti perkataan Agam. Termasuk saat Agam memintanya membuka paha lebar-lebar. Arumi menurut begitu saja, kedua tangannya menopang tubuh ke belakang dan mata yang di biarkan terpejam.


"Ahh,,," Arumi reflek mende sah dengan kedua mata yang kini terbuka sempurna. Dia kaget ketika sesuatu yang hangat menyapu benda sensitifnya di bawah sana.


Begitu menundukkan kepala, Arumi melihat Agam sedang berlutut di depannya dengan kepala yang terbenam di antara kedua pahanya.


"Kak, sedang apa.?" Pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut Arumi, padahal dia sudah tau kalau Agam sedang mengasah kehebatan lidahnya untuk membuat wanita lemah tak berdaya.


Mungkin karna terlalu tiba-tiba, jadi Arumi kaget melihatnya. Tadi dia hanya berfikir Agam membawanya ke kamar mandi supaya membersihkan diri, tapi rupanya dia malah di buat kotor dengan cairan-cairan yang sudah mulai keluar di bawah sana. Hanya dengan sapuan lidah saja mampu membuat Arumi ter rang sang.


"Nikmati saja." Jawab Agam, dia malam semakin membenamkan wajahnya dan menusuk- usuk benda inti itu dengan lidahnya.


Arumi berteriak, mende sah kencang saking enak nya permainan Agam. Sedotan dan tusukan benda lunak di bawah sana memberikan sensasi nikmat yang menjalar sampai ke ubun-ubun.


Arumi merasakan tubuhnya sudah bereaksi. Mendadak tubuhnya terasa panas akibat terbakar gairah.


Tanpa sadar, Arumi malah menekan kepala Agam agar lebih dalam. Dia terus meracau tidak jelas akibat sapuan lidah Agam yang semakin liar. Begitu juga dengan Hi Sa pannya, seolah menye-dot sampai ke ujung kepala.


Benda di balik celana da- lam Agam semakin terlihat penuh. Jika tidak ada kain yang menghalanginya, mungkin sudah mengacungkan tegak dan gagah. Siap untuk bertempur dan mengalahkan lawan mainnya hingga kehabisan tenaga.


"Sayang, aku mau sampai,,," Arumi meremas kuat rambut Agam sembari menekan kepalanya. Seperti kode agar Agam semakin liar.


Tanpa kode dari Arumi pun, Agam sudah paham apa yang harus dia lakukan. Gerakan lidahnya semakin cepat, setelah itu menye dot kuat saat benda itu menyemburkan cairan hangat. Agam menye sapnya tanpa sisa, membuat Arumi mengerang panjang dengan tubuh menegang.


Tidak puas membuat Arumi merasakan pelepasan 1 kali, Agam menggendong Arumi di bawah guyuran shower menggempurnya dengan beberapa gaya.


Pria itu seperti tidak kenal lelah, padahal tadi malam sudah bekerja keras sampai larut malam.


Staminanya patut di acungi jempol.


...******...


Karna tadi malam Gea tidak sengaja mendengar obrolan Glen dan Adeline di telfon. Mereka akan pergi pukul 11 siang nanti. Mungkin untuk memastikan persiapan acara pertunangan mereka nanti malam. Tentu saja Gea akan menghalangi jalan Glen agar tidak bertemu dengan Adeline.


Berbalut tanktop ketat dan celana pendek, Gea berdiri menggoda di depan pintu kamar Glen.


Tak lama Glen membuka pintu, dia masih memakai baju santai yang di pakai sejak tadi malam. Sepertinya pria itu baru bangun.


"Sarapannya sudah siap Om, ayo makan." Gea menggandeng tangan Glen. Terlihat reflek di mata Glen, padahal Gea memang sengaja melakukan kontak fisik untuk menggodanya.


"Duluan saja, aku harus menelfon seseorang." Glen tidak beranjak dari tepatnya berdiri, Gea terpaksa melepaskan tangan Glen lantaran tidak mau mengikutinya ke dapur.


"Ini sudah jam 8 lewat, Om bisa sakit kalau telat sarapan. Telfonnya nanti saja setelah sarapan." Tak mau menyerah, Gea masih berusaha membujuknya. Meski belum menemukan cara untuk menggagalkan pertunangan Glen, setidaknya Gea bisa menahan Glen agar intensitas bertemunya dengan Adeline berkurang.


"Bawakan saja ke kamarku." Titah Glen lalu masuk kembali ke dalam kamar.


Gea menarik nafas berat, dia benar-benar kesulitan memahami Glen. Terkadang bersikap baik dan lembut, tapi tak jarang bersikap acuh seperti tadi. Pakaian minim yang membalut tubuhnya juga tampak tidak menarik di mata Glen.


Gea mengetuk pintu dan masuk ke kamar, dia membawa nampan berisi sarapan dan kopi untuk Glen. Di sana Glen tampak sedang serius berbicara dengan seseorang lewat telfon. Duduk di sofa dan ada laptop di atas meja. Rupanya Glen menelfon seseorang karna urusan pekerjaan. Tapi Gea sempat mengira kalau Glen akan menelfon Adeline.


Tak mau menimbulkan suara bising, Gea membungkuk di depan Glen dan meletakkan nampan dengan hati-hati di atas meja. Kedua manik mata Glen sempat menatap dua bongkahan besar yang mengintip di balik tanktop Gea ketika sedang menunduk. Tapi kemudian perhatiannya beralih ke bagian perut Gea. Tanktopnya terlihat basah seperti ketumpahan air.


"Tadi tersiram air panas saat membuat kopi." Tutur Gea lirih. Dia seakan tau arti tatapan Glen yang tertuju pada bagian perutnya.


Glen menautkan kedua alisnya, tatapannya berubah tajam seolah menyalahkan kecerobohan Gea.


"Nanti aku telfon lagi." Tegas Glen kemudian memutuskan sambungan telfonnya. Dia meletakkan ponsel di atas meja dan kembali menatap Gea.


"Duduk disitu." Titah Glen sembari beranjak dari duduknya. Gea hanya menurut, tidak mau protes meski bingung apa yang akan di lakukan Glen padanya. Melihat perhatian Glen tertuju padanya sampai mengakhiri telfon, itu sudah cukup membuat Gea merasa menang. Dia yakin setelah ini bisa menahan Glen lebih lama lagi di dalam. apartemen.


Glen kembali dengan membawa kotak obat di tangannya, dia lantas duduk di sebelah Gea.


"Angkat bajumu." Titahnya datar. Seperti mendapat ide, bukannya mengangkat baju seperti perintah Glen, Gea justru melepaskan bajunya. Membuat tubuh bagian atasnya hanya berbalut br-a hitam yang tidak cukup menampung dua bukit besar itu.


"Angkat, bukan di lepas." Protes Glen.


Gea tersenyum kikuk.


"Bajunya basah dan masih sedikit panas. Kalau begitu aku ambil baju ganti dulu," Hendak berdiri dari duduknya, tapi Glen malah menahan tangan Gea dan memintanya tetap duduk di sana.