Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 66



Gea mengukir senyum yang tampak menggoda di mata Glen, tanpa Glen ketahui bahwa senyuman itu mengandung makna yang berbeda bagi Gea.


Gadis berusia 18 tahun itu semakin bergerak liar dia atas Glen. Sengaja menunjukkan sisi liarnya untuk menjerat Glen dalam genggaman. Pria seperti Glen pasti tidak akan berpaling jika hasratnya terus tersalurkan dengan baik.


Hal itu yang membuat Gea membuang rasa malunya di hadapan Glen dan berubah semakin liar. Dia akan meracuni isi kepala Glen dengan tubuh seksinya dan permainan panasnya di atas ranjang. Perlahan tapi pasti, Gea akan merebutnya dari Adeline. Kalaupun tidak berhasil mendapatkan Glen, setidaknya Gea bisa membeberkan perbuatan dia dan Glen pada Adeline untuk membuat wanita itu sakit hati.


Suara de Sa han keduanya memenuhi kamar. Goyangan Gea membuat pria berusia 31 tahun itu merem melek di buatnya dan meloloskan de Sa han. Dua bukit besar milik Gea selalu menjadi bulan-bulanan tangan nakal Glen. Dia mere mas dan memainkannya sedikit kasar.


"Lebih cepat sayang,," Titah Glen dengan nafas tersenggal. Gea mengangguk dan mempercepat gerakannya.


Glen sudah sering memanggil Gea dengan sebutan sayang saat mereka sedang ber cinta. Jadi panggilan itu tidak membuat Gea besar kepala. Glen hanya reflek bicara di saat kewarasannya sedang tertutup oleh rasa nikmat yang luar biasa.


"Aku mau keluar Om,," Ujar Gea tesenggal. Nafasnya makin memburu, tangannya mencengkram kuat kedua pergelangan tangan Glen yang sedang memainkan dua bukitnya.


"Tunggu sebentar lagi," Kata Glen dan langsung mengubah posisi hanya dengan sekali gerakan. Kini Glen yang memegang kendi, Gea pasrah saat Glen mulai bergerak cepat. Pria itu menghunjamkan dalam-dalam, mengaduk-aduk liang kenikmatan Gea dengan penuh naf su untuk mendapatkan pelepasan.


Selang beberapa menit, tubuh keduanya terlihat menegang. De Sa han keduanya berubah menjadi erangan panjang penuh kenikmatan.


Glen ambruk di atas tubuh Gea setelah menyiramkan benih di rahim Gea.


Kini suasana berubah hening, hanya terdengar hembusan nafas keduanya yang memburu.


Gea memeluk erat tubuh Glen, membenamkan wajahnya di ceruk leher pria itu.


"Makasih Om,," Sebuah ucapan yang membuat kening Glen berkerut. Sudah beberapa kali Gea mengatakan terimakasih padanya.


Baru kali ini ada orang yang sedang di manfaatkan tapi malah mengucapkan terimakasih. Glen tertawa geli dalam hati. Entah karna terlalu bodoh atau Gea malah menikmati nasibnya sebagai pemuas ranjang selama 5 bulan.


"Kamu nggak salah.?" Tanya Glen seraya bangkit dari atas tubuh Gea. Dia ikut merebahkan diri di samping Gea dengan kedua tangan dijadikan bantal.


Mata Gea langsung melirik pria kekar yang berbaring di sebelahnya. Pemandangan seksi dan hot itu sayang jika harus di lewatkan. Apalagi kalau mengingat permainan Glen. Pria itu memiliki stamina yang luar biasanya. Di bandingkan dengan Sean, jelas Sean tidak ada apa-apanya.


Gea bahkan sudah mendapatkan pelepasan 3 kali di saat Glen baru mencapai pelepasan untuk pertama kalinya. Sedangkan pria itu tidak akan puas kalau hanya melakukannya 1 kali. Jadi tidak heran kalau badan Gea akan terasa babak belur setelah melakukan pergulatan panas dan panjang dengan Glen.


"Memangnya kenapa kalau aku bilang makasih.?" Gea malah balik bertanya. Tanpa ragu merapatkan tubuhnya pada Glen dan memeluknya. Glen menatap heran, tiba-tiba merasa banyak perubahan dari sikap dan cara bicara Gea.


"Om sudah sangat baik padaku. Aku nggak keberatan tinggal lebih lama di sini. Jadi nggak perlu pusing mencari biaya untuk tinggal dan makan." Tuturnya kemudian menyengir kuda.


"Katakan saja apa mau mu." Glen menatap curiga.


Sudah ada belasan bahkan mungkin puluhan wanita yang pernah menjadi partner ranjangnya. Jadi Glen sudah hapal dengan berbagai jenis dan karakter wanita ketika sedang menginginkan sesuatu.


"Hmm,, asal jangan memintaku menikah denganmu. Aku akan menikahi kekasihku 5 bulan lagi." Jawaban Glen mampu memudarkan senyuman di bibir Gea. Senyum itu seketika redup, dia kehilangan kepercayaan dirinya untuk bisa merebut Glen. Ya, mendadak Gea tidak yakin bisa merebut Glen dari Adeline. Sebentar lagi mereka aka menikah, pasti akan sulit untuk membatalkan pernikahan mereka.


"Aku mana berani bermimpi setinggi itu." Gea merendah, namun jemarinya bermain di atas dada bidang Glen.


"Semoga pernikahan kalian berjalan lancar." Ucapnya. Padahal dalam hatinya mendoakan pernikahan mereka batal.


"Tenaga Om kenapa besar sekali." Gea mengalihkan pembicaraan.


"Tadi pagi Arumi sampai curiga padaku karna melihatku kesulitan berjalan." Pura-pura menghela nafas, Gea diam-diam menempelkan dua benda sensitifnya ke tubuh Glen yang masih sama-sama polos.


"Kamu cerita sama Arumi.?" Ekspresi wajah Glen mendadak cemas. Celengan kepala Gea kini membuat pria itu bernafas lega. Dia akan terancam jika sampai Arumi mengetahui semuanya. Arumi pasti akan membuat Gea lepas darinya kalau tau sahabatnya itu sedang di manfaatkan.


"Berhenti menggodaku atau kamu akan kelelahan." Glen menghentikan gerakan tangan Gea di dadanya. Rupanya pria itu sadar kalau Gea sedang berusaha untuk menggodanya.


"Aku habis berendam air hangat, sekarang jadi lebih segar dan berlalu lelah." Sahut Gea. Dengan beraninya langsung naik ke atas tubuh Glen.


Senyum di bibir Gea kembali mengembang saat benda di bawah sana mulai mengeras. Memang tidak mudah untuk membuat Glen terang sang.


"Kamu yang memulai,," Bisikan Glen sambil membalik tubuh Gea. Leher serta bukit besar Gea mejadi sasaran Glen. Tak tanggung-tanggung, Glen sampai meninggalkan banyak tanda kepemilikan di bukit putih itu.


Gea sengaja meloloskan de Sa han untuk membuat Glen semakin terbakar gairah. Kedua tangannya juha menekan kepala Glen agar menye sap pucuk bukitnya lebih kuat.


Menikmati permainan Glen adalah salah satu cara untuk membuat Glen terus terbayang-bayang padanya.


Glen meminta Gea agar berbaring miring, pria itu lantas memposisikan diri di belakang Gea dan mulai mengarahkan batang kokoh itu untuk memasuki liang basah nan hangat itu.


Gea men de sah tertahan ketika Glen mendorongnya lebih dalam.


Glen mulai bergerak teratur. Batangnya seperti di remas-remas di dalam sana. Tidak bisa di pungkiri jika liang kenikmatan Gea membuatnya ketagihan, jadi selalu ingin melakukanya lagi dan lagi.


Percintaan panas itu terus berlanjut. Keduanya sama-sama mengejar kenikmatan yang sudah berada di ujung tanduk.


30 menit berlalu, mereka juga sudah berganti posisi dan berpindah tempat.


Sofa panjang di dalam kamar menjadi saksi bisu percintaan panas dua sejoli tanpa status.


Bertukar peluh dan cairan, tubuh keduanya tampak lemas. Gea memeluk Glen dalam posisi berada di atas pangkuannya.