
"Sayang, kamu salah paham." Andrew masih berusaha membujuk Amira. Karna kecerobohannya sendiri, Amira mendengarnya berbicara merah dengan Sofia lewat telfon.
Sekarang Amira sedang marah besar padanya. Menatap penuh kecewa dan kebencian setelah mencurigainya memiliki wanita lain di luar sana.
"Kamu benar. Aku memang salah paham padamu, bahkan selama 19 tahun kita menikah.!" Amira sedikit berteriak. Matanya sudah berkaca-kaca, menahan sesak dan sakit yang menggerogoti hatinya setelah mendengar sangat suami berbicara sangat mesra dan lembut pada wanita lain.
"Amira, bukan begitu maksudku." Andrew menggeleng frustasi. Terlebih Amira selalu menepis tangannya setiap kali akan membujuknya.
"Lalu seperti apa.?!" Serunya.
"Pada kenyataannya memang seperti itu. Aku salah paham dengan perasaanmu, pada perhatian dan sikap romantis mu selama ini yang ternyata palsu.!" Amira menatap tajam. Hatinya hancur karna merasa di khianati oleh suaminya.
Bagaimana bisa Andrew menyebutnya salah paham, ketika bibirnya berucap sayang pada wanita lain. Amira jelas mendengarnya, dia tidak salah dengar, apa lagi salah paham.
"Amira, kita bicarakan baik-baik." Andrew terpaksa mendekat dan membawa Amira dalam dekapannya. Memeluk erat tubuh Amira yang memberontak minta di lepaskan.
"Lepas.!!" Teriaknya meronta. Hatinya justru semakin sakit karna di peluk oleh Andrew.
"Janji dulu kita akan bicara baik-baik setelah ini." Bujuk Andrew memohon.
Dia mencintai Amira, tapi mencintai Sofia juga. Keduanya memiliki ruang dan tempat yang berbeda di hati Andrew. Egois memang. Andrew ingin memiliki keduanya dalam waktu yang bersamaan, bahkan berharap suatu saat Amira bisa menerima kehadiran Sofia sebagai madunya.
Sementara itu, Arumi sengaja berteriak memanggil kedua orang tuanya ketika menaiki tangga.
"Mama,,, Papa,,," Serunya, berharap pertengkaran kedua orang tuanya berakhir setalah tau keberadaannya.
Dan benar saja, keributan di lantai atas sudah tidak terdengar lagi.
"Ya sayang,, sebentar." Sahut Amira.
Dia rupanya mendorong tubuh Andrew dan buru-buru menghampiri putrinya.
Andrew menghela nafas berat. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.
Memang dia sudah memprediksi jika suatu saat hubungannya dengan Sofia akan ketahuan oleh Amira. Karna sepintar-pintarnya dia menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga. Andrew hanya frustasi saja karna tidak menyangka akan ketahuan secepat ini. Itupun karna kecerobohannya sendiri.
Amira menghampiri putrinya, di langsung mendapat tatapan aneh dari sang putri.
"Kamu pulang sendirian.?" Tanya Amira seraya merangkul bahu putrinya dan menutupi kekecewaan dengan senyum lebar. Tapi senyum itu tidak bisa mengelabuhi Arumi. Karna Arumi mendengar pertengkaran mereka meski tidak jelas apa yang mereka ributkan.
"Sama Kak Agam, tapi dia langsung berangkat ke kantor." Jawab Arumi yang sebenarnya tidak fokus. Dia sangat penasaran dengan permasalahan kedua orang tuanya. Permasalahan mereka bukan hal sepele, masalahnya Arumi tau betul karakter kedua orangtuanya. Sekalipun ada masalah, mereka akan bicara baik-baik dengan kepala dingin. Tidak pernah berdebat, apa lagi bertengkar.
"Dimana Papa.?" Tanya Arumi basa basi.
"Siapa yang cari Papa.?" Andrew menghampiri mereka, berdiri di tengah-tengah Arumi dan Amira, lalu merangkul putrinya itu.
"Nanti malam menginap saja disini, kalian masih bingung mau tinggal dimana kan.?" Tutur Andrew.
Amira sedikit bergeser untuk menjaga jarak dengan Andrew. Amarahnya pada Andrew masih meluap-luap, tapi harus menahan diri depan Arumi agar tidak marah.
Arumi menyadari ketika sang Mama menjaga jarak. Belum lagi raut wajah sang Mama yang langsung berubah begitu Andrew datang.
...*****...
Pagi itu Gea terlihat sangat bahagia. Senyumnya merekah dengan langkah kaki yang tampak ringan menuju ke kelasnya.
Glen sudah tidak marah lagi, suasana hatinya sedikit membaik setelah percintaan kemarin saat Glen menyuruhnya masuk ke kamar. Bahkan tadi malam percintaan panas mereka terulang lagi. Glen tampak sangat puas dengan service yang di berikan Gea. Gea memang sengaja berusaha mendominasi permainan dan melakukannya dengan penuh perasaan. Usahanya tidak sia-sia, pria itu mulai kembali bersikap biasanya padanya. Tidak sinis ataupun kasar. Tapi Glen tetap memberikan peringatan pada Gea untuk memblokir nomor Ricko.
Sikap Glen mulai membuat Gea yakin kalau pria itu memang cemburu melihatnya tukar nomor ponsel dengan Ricko. Kecemburuan Glen seperti angin segar bagi Gea. Jalannya akan terlihat mudah untuk menghancurkan hubungan Glen dan Adeline.
"Kenapa senyum-senyum sendiri.?" Tegur Aileen yang berpapasan dengan Gea. Aura kebahagiaan tampak terpancar jelas dari gurat senyum sahabatnya itu. Mirip seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Gea langsung menggeleng, enggan membuat Aileen bertanya lebih jauh.
"Sena sama Arumi belum dateng.?" Dia juga mengalihkan pembicaraan. Sampai detik ini belum ada satupun sahabatnya yang tau tentang hubungan gelapnya dengan Glen.
Selain malu, Gea juga takut ketiga sahabatnya akan menjauhinya. Jika tau dia dan Glen tinggal bersama disaat Glen sudah memiliki calon istri.
"Mereka masih di parkiran." Jawab Aileen, dia kemudian mengajak Gea masuk ke kelas.
...******...
"Ciee pengantin baru,," Ledek ketiga sahabat Arumi begitu mereka keluar dari kelas setelah mata kuliah berakhir. Itupun baru berani meledek Arumi ketika berada di tempat yang sepi agar tidak ada yang mendengarnya.
"Gimana rasanya.? Sakit tapi enak kan.?" Celetuk Aileen yang paling malas menyaring omongan.
"Kayaknya Arumi sudah ketagihan,," Ledek Sena sembari menyenggol lengan Arumi. Wajah Arumi sudah bersemu merah dan mengulum senyum simpul.
"Jangan meledekku. Jauh sebelum aku, kalian sudah merasakan." Sahut Arumi yang enggan bercerita lebih jauh mengenai urusan ranjangnya dengan Agam. Jangan sampai ketiga sahabatnya itu mengagumi Agam setelah tau kalau pria itu sangat hebat di atas ranjang. Itu sebabnya Arumi memilih bungkam, cukup dia saja yang tau bagaimana rasanya ber cinta dengan suaminya yang gagah dan tampan itu.
"Issh.!! Tapi kita juga penasaran. Cepat cerita, bagaimana rasanya.?" Desak Gea penasaran. Dia hanya ingin tau pengalaman pertama Arumi saat ber cinta di malam pertama sebagai suami istri.
"Kalian bayangin sendiri-sendiri saja rasanya." Jawab Arumi sembari terkekeh, lalu pergi untuk menghindari cecaran mereka.
"Byee,, aku duluan,," Arumi tertawa meledek sembari melambaikan tangan.
Ketika sahabat hanya bisa mendengus kecewa karna tidak bisa mendengar kesan Arumi pada malam pertama.
Aku ke kantor Kakak sekarang.
Setelah mengirimkan pesan itu pada Agam, Arumi masuk ke dalam mobilnya.
Baru menyalakan mobil, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Senyum di bibir Arumi merekah kala melihat nama Agam tertera di sana. Dia segera mengangkat panggilan dari Agam.
"Ya Kak,," Seru Arumi.
"Aku ada meeting penting di luar, kamu langsung ke apartemen atau pulang ke rumah saja." Tutur Agam. Senyum Arumi mendadak lenyap, padahal dia ingin sekali bisa berada di dekat Agam meski hanya berdiam diri di ruangan kerjanya. Yang penting bisa dekat dengan Agam.
"Ya sudah, aku langsung pulang saja."
"Semangat meetingnya, i love you." Ujar Arumi malu-malu, lalu mematikan sambungan telfonnya tanpa menunggu jawaban dari Agam.