
Pada kenyataannya fantasi Agam dalam ber cinta memang sedikit berubah ketika melakukan malam pertama dengan istri belianya.
Awalnya Agam hanya ingin mengikat kedua tangan Arumi supaya tidak menghambat aksinya untuk menembus keper-awanan Arumi. Tapi tindakannya itu justru menciptakan sensasi berbeda yang sebelumnya tidak pernah dia dapatkan dari siapapun saat ber cinta.
Melihat Arumi meronta dan tidak berdaya dalam keadaan kedua tangan yang terikat keatas, gairah Agam malah semakin menyala. Ada kepuasan tersendiri dan membuatnya merasa ketagihan untuk mengulangi hal yang sama.
"Sayang,, kamu benar-benar tega.!" Ketus Arumi. Bibirnya mencebik sejak keluar dari kamar mandi, karna saat itu juga Agam langsung mengikat kedua tangannya dan kini menghimpit tubuhnya di dinding kamar.
"Kamu akan di beri kenikmatan, seharusnya jangan cemberut seperti ini." Sahut Agam sambil mengecup singkat bibir Arumi. Gadis itu hanya pasrah, tak bisa berkutik karna kedua tangannya di letakan di atas kepala dalam keadaan di ikat.
Tapi sekalipun menggerutu, Arumi tidak membantah perintah Agam. Istrinya itu bersedia mengganti baju dengan lingerie dan tidak memberontak ketika tangannya di ikat. Meskipun bibirnya mencebik kesal dan menggerutu selama Agam mengikat tangannya.
"Aku nggak bisa mengimbangi permainan kalau di ikat seperti ini.!" Gerutu Arumi yang tampak semakin mengerucutkan bibirnya saja.
"Aku nggak minta kamu mengimbangi, cukup nikmati saja selagi aku masih berbaik hati." Ujar Agam. Kedua tangannya sudah menyusup di balik lingerie, meraih pinggang ramping Arumi dan menangkup salah satu daging kenyal di balik sana.
Sentuhan Agam mampu membuat tubuh Arumi menegang. Apalagi ketika Agam mencium bibirnya sembari merapatkan tubuhnya hingga tanpa jarak, membuat punggung Arumi semakin menempel pada dinding.
Tadi sempat protes dengan gaya ber cinta Agam, tapi tubuhnya malah merespon setiap sentuhan yang diberikan oleh Agam di semua titik sensitifnya. Kehebatan Agam dalam ber cinta memang tidak perlu di ragukan lagi. Wanita manapun pasti akan hanyut dan tenggelam dalam pusara kenikmatan yang diciptakan oleh pria dewasa itu.
Arumi meloloskan de sahan tertahan. Berusaha menahan de sa han dengan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tapi lolos juga marna tidak tahan dengan permainan Agam di lehernya dan re ma san di salah satu bukit kenyal itu.
Agam tersenyum puas melihat reaksi Arumi. Terlebih sudah tidak memberikan protes lagi. Justru de Sa han Arumi semakin cepat dan memenuhi kamar.
Tubuh Arumi sudah mulai menegang akibat perbuatan Agam. Lebih dari 20 menit dia memberikan kenikmatan pada Arumi tanpa penyatuan.
Arumi masih berdiri di posisi semula, hanya saja posisi Agam sudah berjongkok di depan Arumi.
Sebelah kaki Arumi berada di pundak Agam, dan pria itu membenamkan wajahnya di bawah sana.
Arumi di buat melayang, permainan Agam di bawah saja terasa sangat nikmat sampai naik ke ubun-ubun.
Tak berselang lama, Arumi menge -rang panjang. Agam bisa merasakan kehangatan cairan dari bawah sana.
Dia menghentikan kegiatannya dan mendongak untuk menatap wajah seksi Arumi saat mendapatkan pelepasan.
"Giliran kamu yang harus memuaskan ku." Agam berbisik tepat di telinga Arumi sembari melepaskan ikatan di tangan Arumi.
Arumi mengangguk patuh, dia tidak mau menjadi istri durhaka karena menolak kewajibannya sebagai istri. Belum lagi rasa nikmat yang akan dia dapatkan jika memenuhi kewajibannya. Tentu Arumi tidak akan menolak, selama di lakukan dengan cara yang wajar.
...*****...
"Aku besok sudah mulai mulai kuliah lagi. Berangkat jam 9." Arumi menatap lekat wajah tampan Agam. Dia ingat dengan permainan mereka tadi siang. Agam sempat berbisik kata I love you di akhir pertempuran panas itu.
"Hmm,, besok aku antar kamu ke rumah dulu." Agam bicara datar tanpa menatap Arumi. Dia sedang fokus dengan makan malamnya, terkadang melihat ponsel ketika ada bunyi notifikasi.
Selesai makan malam, Agam menyuruh Arumi tidur lebih dulu. Dan Agam malam masuk ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan.
Besok paginya mereka pergi ke rumah orang tua Arumi setelah sarapan. Saat baru sampai, keduanya di sambut dengan suara gaduh dari lantai atas. Arumi mendengar suara Mamanya yang sedang bicara nada tinggi penuh kekesalan.
Selama belasan tahun, baru kali ini Arumi mendengar sang Mama bicara sekencang itu hingga terdengar sampai ke lantai bawah.
"Maaf Nona,, sepertinya Nyonya sedang marah sama Tuan." Tutur asisten rumah tangga yang tadi membukakan pintu untuk Arumi.
Arumi langsung menatap Agam, ada kecemasan dan ketakutan dari sorot mata Arumi. Wajar karna ini pertama kalinya dia mengedar orang tuanya bertengkar.
"Kak Agam mau langsung ke kantor.? Aku harus ke atas." Arumi malah menawarkan suaminya berangkat ke kantor lebih dulu. Arumi tidak mau membiarkan Agam mendengar pertengkaran mertuanya, dia malu pada suaminya. Takut Agam mengira kalau kedua orang tuanya sudah sering bertengkar, bukan hanya hari ini saja.
"Kamu langsung ke kamar saja, siap-siap ke kampus. Jangan campuri urusan orang dewasa." Tegur Agam melarang. Dia sudah tau tujuan Arumi menyuruhnya buru-buru ke kantor.
Sebagai seorang anak, Arumi pasti akan melerai pertengkaran orang tuanya. Agam bukan senang membiarkan kedua orang tua Arumi bertengkar, tapi mereka berdua bukan anak kecil lagi, pasti bisa menyelesaikan permasalahan tanpa harus melibatkan orang lain.
"Tapi mereka bertengkar, Kak Agam nggak dengar Mama sampai teriak-teriak.?" Arumi sedikit menatap kecewa.
"Arumi, dalam menjalani kehidupan rumah tangga nggak selamanya berjalan mulus. Pertengkaran seperti itu wajar. Menyatukan dua kepala nggak mudah akan ada perbedaan pendapat dan sebagainya." Agam menjelaskan dengan lembut dan tatapan teduh. Agam sedang menjadi penasehat yang baik di mata Arumi.
"Selama tidak melakukan kekerasan fisik, kamu cukup diam dan pura-pura tidak tau." Ujarnya lagi.
Arumi menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Dia benar-benar tidak bisa membiarkan kedua orang tuanya bertengkar seperti itu.
Pasti ada masalah besar yang membuat mereka bertengkar. Karna selama ini hubungan orang tuanya sangat romantis.
"Jangan membantah perkataanku. Sudah sana masuk ke kamar. Aku berangkat dulu." Agam mengusap pipi Arumi penuh kelembutan dan mencuri ciuman di bibir Arumi, setelah itu pergi begitu saja.
Pipi Arumi sampai merona dengan perlakuan Agam yang menurutnya cukup romantis.
Wajahnya mungkin sudah berseri-seri saat ini. Arumi jadi melupakan sejenak pertengkaran kedua orang tuanya.
Dia lantas pergi ke atas. Meski sebenarnya ingin melerai pertengkaran kedua orang tuanya, namun Arumi mengurungkan niatnya setelah di beri nasehat dan pengertian oleh Agam.
Tapi nanti dia akan meminta penjelasan pada kedua orang tuanya.