Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 91



"Sayang sudah, aku sangat lelah." Pinta Arumi dengan sisa-sisa tenaganya yang hampir terkuras habis karna terus di serang oleh Agam.


Arumi jadi sedikit menyesal sudah memberikan kejutan untuk suaminya dengan cosplay menjadi suster Jepang. Agam menggempurnya tanpa lelah, tidak ada jeda untuk beristirahat sejenak.


Kostum yang Arumi pakai seperti memberikan energi lebih bagi Agam, sampai tidak ada kata lelah untuk mengulangi percintaan panas mereka.


"Aku belum selesai sayang, nikmati saja." Agam menjawab sambil terus menggempur Arumi di bawah kungkungannya. Hasratnya begitu menggebu-gebu melihat baju yang di pakai Arumi. Baju itu bahkan dibiarkan melekat di tubuh sang istri, Agam tidak berniat melepas baju itu karna terlihat sangat seksi dan menggoda di tubuh Arumi.


Dia hanya menyingkirkan kain segitiga agar batang kokohnya bisa menembus kenikmatan di dalam sana.


Agam tak henti-hentinya mengerang, batang kokoh itu seperti di pijat dan di urut karna liang yang terlalu sempit.


Bercinta dengan Arumi membuatnya lupa segalanya. Bahkan lupa bagaimana rasanya bercinta dengan wanita lain sebelum Arumi.


Liang itu seakan menjadi candu bagi Agam. Semakin sering merasakannya, Agam merasa semakin kecanduan dan terbayang-bayang bagaimana rasanya.


Agam mempercepat gerakkannya dan menyemburkan sesuatu yang hangat di dalam sana. Arumi menggigit bibir bawahnya dan mencengkram kuat bahu Agam seiring dengan rasa nikmat yang juga ikut menjalar ke seluruh tubuhnya.


Peluh bercucuran di tubuh keduanya, nafas tampak memburu dengan detak jantung yang tidak beraturan setelah mengejar kenikmatan.


Berakhir dengan Agam yang merebahkan tubuh polosnya di samping Arumi.


"Akan aku buang baju tempur ini,," Gumam Arumi. Sepertinya dia sangat menyesal memakai baju haram itu di depan suaminya. Akibatnya benar-benar sangat fatal. Untung saja kondisi kesehatan Arumi sedang cukup baik. Kalau tidak, mungkin Arumi sudah pingsan sejak tadi akibat gempuran Agam tanpa jeda.


"Kenapa.?" Agam melirik tanpa rasa salah sedikitpun, dia memang tidak sadar sudah membuat Arumi tak berdaya hingga nyaris menyerah melayani hawa naf-sunya.


"Astaga, Kakak masih tanya kenapa.?" Pekik Arumi tak habis pikir. Matanya melotot sempurna, Arumi tak habis pikir Agam bertanya seperti itu di saat Agam jelas-jelas melihat kondisinya sudah tak berdaya dan nyaris pingsan.


"Aku hampir pingsan karna benda ini.!" Arumi memukul pelan batang yang sudah melemas itu. Walaupun hanya main-main, tapi membuat Agam sampai meringis ngilu karna kepala batangnya mendapat tinjuan.


"Jangan sembarangan memukul, kamu juga yang rugi kalau benda ini kehilangan fungsinya." Ujar Agam santai. Arumi mencebikkan bibir.


"Darimana kamu dapat baju seperti ini.?" Agam menatap penasaran. Mengingat istrinya yang belum berpengalaman, Agam tidak yakin kalau Arumi sendiri yang berinisiatif membeli dan memakai baju seksi itu. Pasti ada seseorang yang mendukung Arumi memakainya. Dan Agam akan sangat berterimakasih, bahkan berniat mentraktir orang yang sudah membuat Arumi mau memakai baju itu.


"Ckk,, darimana lagi kalau bukan 3 sahabatku.!" Arumi menggerutu kesal. Dia berniat akan memarahi mereka bertiga besok pagi. Meminta pertanggungjawaban pada mereka, karna gara-gara hadiah dari mereka, Agam sampai menggempurnya habis-habisan.


"Besok ajak mereka makan siang di restoran Jepang dekat kantor, aku yang traktir." Tutur Agam dan Arumi melongo di buatnya. Arumi sedang kesal pada mereka bertiga, tapi Agam malah akan mentraktir mereka.


...******...


"Amira, kita bisa bicara baik-baik." Berkali-kali Andrew berusaha membujuk istrinya, berharap Amira mau berbicara dengan kepala dingin dan menyelesaikan permasalahan mereka secara baik-baik. Sayangnya Andrew tidak sadar kalau perbuatannya sudah sangat melukai hati Amira.


"Untuk apa.? Kamu mau mengelak lagi.?!" Amira berucap sinis. Dia sudah melempar bukti-bukti perselingkuhan suaminya yang menemui wanita lain di sebuah apartemen mewah kemarin siang.


"Apa semua bukti-bukti yang aku dapatkan belum cukup.?! Kamu pikir aku sebodoh itu.?!" Suara Amira semakin meninggi karna terlalu kecewa dan marah pada Andrew.


Pagi itu kamar mereka sudah di bumbui suara pertengkaran sejak 20 menit yang lalu. Amira menyodorkan bukti-bukti yang dia dapatkan dari orang suruhannya.


Walaupun sejak beberapa hari kemarin sudah di curigai, tapi tadi siang Andrew masih sempat menemui wanita simpanannya dan pergi ke pusat perbelanjaan berdua.


Hal itu yang membuat darah Amira semakin mendidih dan tak habis pikir dengan isi kepala suaminya.


"Secepatnya aku akan mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan. Aku harap kamu masih ingat perjanjian pernikahan kita di atas kertas.!" Tegas Amira penuh penekan.


Seketika Andrew tercengang, wajahnya berubah pucat karna di ingatkan tentang perjanjian pernikahannya dengan Amira yang sudah dia lupakan sejak lama.


Perjanjian yang menyebutkan 50 persen kekayaannya akan jatuh pada pasangannya jika di antara mereka ada yang berselingkuh.


Dan 40 persen akan di berikan pada anak mereka.


Itu artinya, Andrew akan kehilangan 90 persen harta kekayaan miliknya yang dulu dia dapatnya dengan usaha dan keringatnya sendiri.


"Amira, maafkan aku. Kita bisa perbaiki semuanya demi Arumi." Pinta Andrew sambil menggenggam kuat tangan Amira dan menatap memohon.


"Perbaiki semuanya.? Kenapa harus mengajakku untuk memperbaiki semuanya.?! Kamu yang sudah menciptakan kehancuranmu sendiri Andrew.! Jangan berharap aku sudi ikut memperbaiki kesalahan yang kamu buat sendiri."


"Dengan kamu berkhianat, artinya aku dan pernikahan ini sama sekali tidak ada artinya untukmu." Nafas Amira menggebu. Sakit dan marah melebur jadi satu. Kekecewaannya pada sang suami sudah tidak bisa di toleransi lagi. Kesalahan Andrew cukup fatal. Sejak awal Amira tidak bisa menerima pengkhianatan, apalagi memberi kesempatan pada pengkhianat.


"Aku akan melepaskan mu untuk ja-lang itu.!" Seru Amira penuh amarah.


"Amira,," Tegur Andrew. Amira tersenyum sinis pada suaminya, dalam keadaan seperti ini, Andrew malah menunjukkan kepeduliannya pada wanita itu. Andrew terlihat tidak terima wanita simpanannya di sebut ja-lang oleh Amira.


"Sepertinya kamu sangat mencintai ja-lang itu." Sinis Amira kecut.


"Wanita yang mengobral selang-kangannya pada suami orang, bukankah itu ja-lang.?" Amira menatap suaminya dengan jijik. Entah bagaimana bisa Andrew terjerat wanita murahan di luar sana.


"Aku yang salah, aku sudah memaksanya." Andrew menunduk penuh sesal. Bukannya menerima pengakuan Andrew atupun berhenti menyalahkan wanita itu, Amira justru semakin muak dengan mereka berdua.


Tidak ada kata khilaf, Amira bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka sama-sama sadar melakukan perselingkuhan itu. Keduanya tau jika ada hati yang akan terluka atas perbuatan mereka, tapi dengan kesadaran penuh, mereka justru melanjutkannya sampai detik ini.