
Arumi keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk kimono yang membalut tubuh polosnya. Dia sengaja tidak memakai pakaian da- lam karna sudah di janjikan oleh Agam akan mengulangi percintaan panasnya lagi setelah mandi dan sarapan yang kesiangan.
Arumi menghampiri Agam ke ruang kerja yang ada di kamar hotel itu. 30 menit yang lalu, supir Agam mengantarkan laptop ke kamar hotel mereka. Agam yang memintanya karna dia harus menyelesaikan pekerjaan yang harus segera di selesaikan 2 hari kedepan.
"Kita bahkan baru menikah kemarin malam, Om sibuk sekali." Komentar Arumi. Dia sudah berdiri di samping Agam dan memperhatikan suaminya sangat fokus pada laptop dengan jari-jari yang bergerak lincah di atas keyboard.
Arumi mungkin harus membiasakan diri dengan hal itu. Agam mungkin akan selalu disibukkan dengan urusan kantor. Meskipun dia memiliki banyak bawahan, tapi tetap saja Agam yang harus bekerja keras untuk mengurus dan mencari ide agar perusahaan tetap di puncak kejayaan.
"Pekerjaanku harus selesai. Kamu sarapan duluan saja. Makanannya sudah datang." Mata Agam bahkan tidak menatap Arumi saat bicara padanya.
"Lalu Om hanya minum kopi saja.?" Arumi tampak tidak menyukai ada secangkir kopi di samping laptop. Masalahnya lambung Agam belum disini makanan, tapi malah di siram kopi. Jelas itu tidak baik untuk kesehatan. Padahal Agam telihat sangat menjaga bentuk tubuh dan otot-ototnya.
"Aku akan makan setelah ini." Agam baru menatap Arumi, itupun karna mendengar nada bicara Arumi yang sedikit menahan kesal.
Arumi malah pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi. Dia berniat membawa makanannya ke ruang kerja dan makan bersama dengan Agam. tidak masalah kalau harus menyuapinya.
Tapi Agam malah ikut beranjak setelah Arumi keluar dari ruang kerja. Dia mengamankan data lebih dulu sebelum menyusul Arumi ke kamar.
Sepertinya Agam mengira kalau Arumi marah padanya. Itu sebabnya dia menyusul untuk membujuk Arumi agar tidak marah.
Agam sampai merasa heran, tiba-tiba saja dia menjadi lebih peka dan berusaha menjaga perasaan Arumi.
Arumi mengambil satu porsi makanan dan segelas minuman dari atas meja. Ketika berbalik badan, Agam sudah berdiri di depannya.
"Bukannya harus menyelesaikan pekerjaan.?" Tanya Arumi. Tadi Agam sempat menolak di ajak sarapan berdua, sekarang malah menyusulnya.
"Bisa aku lanjut setelah sarapan. Ayo duduk." Agam lebih dulu duduk di kursi, sedangkan Arumi masih berdiri di tempat sembari mengulum senyum simpul. Perasaannya tiba-tiba menghangat ketika Agam mau mendengarkan perkataannya.
Begitu tersadar dari lamunan, Arumi buru-buru duduk di depan Agam dan menikmati sarapan bersama.
"Nanti sore kita pulang ke rumah dulu ya Om, aku nggak punya baju ganti selain yang ada di koper." Arumi membuka obrolan setelah sarapan.
"Kenapa harus repot-repot pulang ke rumah, beli saja atau minta orang rumah untuk mengantarkan kesini." Ujarnya memberi saran. Lagipula Agam sedang banyak pekerjaan, waktunya akan terbuang sia-sia di jalan kalau harus bolak-balik dari hotel ke rumah.
"Tapi Om, aku juga ingin mengambil kado dari sahabat-sahabatku. Semua kado dari tamu undangan sudah di bawa pulang semua ke rumahku." Arumi sangat penasaran dengan isi kado dari ketiga sahabatnya.
Mereka bilang kado itu akan membuat hubungannya dengan Agam semakin lengket dan panas.
"Kalau begitu telfon orang rumah untuk mencari kadonya dan kirim ke sini. Aku sedang banyak pekerjaan Arumi." Agam sedikit menekankan kalimatnya, namun dia bicara dengan nada rendah.
"Kamu pikir Mama dan Papa mu akan membiarkan kita langsung kembali ke hotel setelah kamu pulang. Mereka mungkin akan menahan kita untuk sekedar mengobrol. Aku benar-benar sedang sibuk sekarang." Agam menatap Arumi dengan tatapan dalam, dia berharap Arumi bisa mengerti kesibukannya saat ini.
Jika pekerjaan itu tidak mendesak, jangankan pulang sebentar ke rumah, Agam bahkan tidak keberatan kalau Arumi ingin jalan-jalan.
"Ya sudah, aku telfon orang rumah saja." Kali ini Arumi tidak mendesak lagi. Dia beranjak untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Amira agar menyiapkan beberapa baju ganti dan kado.
Sebelum itu, Agam sudah memastikan kalau Arumi tidak marah dengan penolakannya yang enggan mengantarnya pulang.
Arumi menyusul Agam ke ruang kerja setelah menelfon sang Mama. Dia menghampiri suaminya, Agam terlihat sangat serius di depan laptop. Arumi sampai menarik nafas panjang, berusaha mengerti dan memahami jika nantinya Agam akan selalu di sibukkan dengan pekerjaan.
Waktu untuk quality time berdua mungkin tidak banyak meski kini sudah menikah dan tinggal bersama.
"Aku boleh duduk disini.?" Arumi sampai meminta ijin saking takutnya mengganggu konsentrasi Agam. Lagipula dia juga bingung harus melakukan apa kalau sendirian di kamar, sementara Agam ada di ruangan lain.
Agam menoleh, dia mengangguk seraya tersenyum tipis. Dia sebenarnya tidak tega melihat raut wajah Arumi. Meski Arumi tidak mengatakan apapun, tapi Agam tau kalau sebenarnya Arumi kecewa karna melihatnya lebih sibuk dengan pekerjaan di banding menyibukkan diri dengan istrinya sendiri.
"Kamu kapan libur semester.?" Tanya Agam.
"Mungkin 2 bulan lagi. Memangnya kenapa.?" Arumi pura-pura bertanya, padahal sudah bisa menebak arah pembicaraan Agam selanjutnya.
"Mau liburan ke Eropa.? Kita akan berangkat saat kamu libur semester." Tawar Agam. Dia merasa bersalah pada Arumi karna menduakannya dengan pekerjaan di saat belum genap 1 hari menikah.
"Nggak usah menjanjikan sesuatu. Kalau nanti ternyata Om banyak pekerjaan dan nggak bisa pergi, aku pasti akan kecewa karna sudah terlalu berharap." Tutur Arumi seraya tersenyum santai.
Arumi harus membiasakan diri untuk tidak banyak berharap ketika Agam menjanjikan sesuatu padanya. Harus sadar kalau suaminya adalah seorang pengusaha yang sudah pasti banyak kesibukan.
...******...
Di apartemen,,,
Glen tidak menampakkan diri lagi setelah kejadian tadi pagi. Gea sampai tak habis pikir di buatnya.
Disini Gea yang mendapat perlakuan buruk dan kasar dari Glen, tapi Glen bersikap seolah-olah menjadi korban sampai enggan keluar dari kamar.
Sekarang bahkan sudah pukul 8 malam. Pria itu membiarkan makan malamnya tak tersentuh di atas meja makan. Padahal Gea sudah susah payah membuat makan malam delam keadaan menahan sakit di daerah intinya.
"Menyebalkan.! Harusnya aku yang marah karna diperlakukan sangat buruk tadi pagi." Gea menggerutu di dekat pintu kamar Glen.
Seburuk apapun perlakuan Glen padanya, Gea tetap harus bersikap sopan padanya karna masih terikat perjanjian.
Gea memberanikan diri mengetuk pintu kamar Glen dan memanggilnya agar keluar kamar.
"Makan dulu Om,,!" Gea sedikit berteriak agar suaranya terdengar sampai ke dalam kamar.
Tak berselang lama Glen membuka pintu dan keluar dari kamar. Tatapan matanya masih sinis dan penuh amarah seperti tadi pagi. Gea bahkan bingung kenapa Glen sangat marah padanya hanya karna memberikan nomor ponselnya pada Ricko.
"Minggir.!" Glen mendorong Gea ke samping dan pergi begitu saja.
"Aku akan menghancurkan hubunganmu dengan Adeline." Gumam Gea lirih. Tekatnya semakin bulat untuk membalas dendam pada Sean dan juga Glen karna sama-sama sudah melukai perasaannya.