
Agam melirik arloji di pergelangan tangannya. Setiap 1 jam sekali dia masuk ke kamar untuk melihat Arumi. Istrinya itu masih tidur lelap meski sekarang sudah pukul 4 sore. Agam lantas membereskan meja kerjanya dan pergi ke kamar.
Begitu masuk, tatapan matanya langsung beradu dengan Arumi. Istrinya itu terlihat baru saja bangun tidur dan masih berbaring di atas ranjang dengan posisi menyamping.
Arumi mendadak membuang muka. Dia terlihat masih kesal pada suaminya karna kejadian memalukan beberapa jam yang lalu. Masih untung cuma Glen yang memergoki mereka, di pastikan Glen bisa menjaga rahasia dan tidak mengatakannya pada siapapun. Arumi tidak bisa membayangkan jika orang itu adalah karyawan lain, dia yakin seratus persen detik itu juga akan ada gosip panas di kantor.
Tapi meski yakin Glen tidak akan bercerita pada siapapun, Arumi tetap saja sangat malu. Dia bahkan sengaja bersembunyi di kamar saat tau Agam harus berbicara dengan Glen. Mau ditaruh dimana mukanya kalau harus bertemu dengan Glen. Aksinya yang sedang bergerak liar di pangkuan Agam pasti terekam jelas di ingatan Glen. Benar-benar menyebalkan. Arumi semakin kesal karna suaminya sangat ceroboh. Pintu tidak di kunci tapi berani-beraninya meminta ber cinta.
Sadar jika istrinya masih marah padanya, Agam segera menghampiri Arumi dan duduk di tepi ranjang. Posisi Arumi membelakanginya.
"Masih kesal.?" Tanyanya lembut, Agam juga mengusap pucuk kepala Arumi.
"Aku sangat malu dengan Om Glen.!" Keluhnya merengek. Entah dia harus bersikap seperti apa jika dikemudian hari bertemu dengan Glen. Pria yang sama mesumnya dengan suaminya itu pasti akan terbayang-bayang adegan ganasnya.
"Aku sudah bilang padanya agar melupakan kejadian tadi dan menganggap tidak melihat apapun." Ujar Agam dengan entengnya. Memangnya kalau diminta melupakan dan di iyakan oleh Glen, pria itu tidak akan mengingatnya lagi jika bertemu dengan Arumi.?
Sedangkan ingatan pria sangat tajam jika berhubungan dengan hal-hal berbau sek-s. Apalagi melihatnya secara live. Pasti melekat di ingatan.
"Mana mungkin bisa lupa.! Pria mesum seperti Om Glen dan Kak Agam pasti sulit melupakan kejadian seperti tadi." Ujar Arumi sewot.
Agam menelan kasar ludahnya, namanya jadi ikut terseret. Sepertinya Arumi belum puas menyalahkannya sampai di samakan dengan Glen untuk mencari celah agar bisa punya alasan untuk marah padanya.
"Maaf sayang, aku janji tidak akan ceroboh lagi." Pinta Agam memohon. Dia selalu meminta maaf dan menurunkan egonya jika Arumi sedang marah. Jika tidak, kemarahan Arumi akan terus berlanjut sampai berhari-hari. Agam tidak tahan kalau seperti itu. Maksudnya tidak tahan karna otomatis jatahnya akan libur.
Arumi malah mendengus kesal dan menepis tangan Agam yang masih mengusap-usap pucuk kepalanya.
"Sayang, apa kamu sudah tau kalau 2 hari lagi Glen akan menikah.?" Tanya Agam sengaja mengalihkan pembicaraan agar Arumi lupa dengan masalah mereka.
"Mana aku tau. Aku juga tidak mau tau, bukan urusanku.!" Sahut Arumi sewot. Dia terlalu kesal sampai tidak menyadari sesuatu. Tapi detik berikutnya dia langsung berbalik badan untuk menatap Agam. Kedua matanya membulat sempurna seperti terkejut.
"Menikah.?! Siapa calon istrinya.?" Tanya Arumi penasaran.
Beberapa hari yang lalu dia sempat menasehati Gea agar mau menikah dengan Glen, namun Gea tampak tidak mau menikah dengan pria itu lantaran kecewa dan sakit hati padanya.
Kini disaat mendengar Glen akan menikah, Arumi langsung cemas memikirkan Gea. Arumi khawatir jika bukan Gea yang dinikahi Glen, entah akan seperti apa nasib sahabatnya itu.
"Siapa lagi kalau bukan Gea. Kecuali kalau ada wanita lain yang mengandung anak Glen juga." Sahut Agam.
Arumi reflek memukul pelan lengan Agam. Seenaknya saja bicara sembarangan. Lalu bagaimana nasib Gea kalau benar-benar ada wanita lain yang sedang mengandung anak Glen juga.
"Sepertinya mendadak. Glen juga tidak mengundangku."
"Acaranya di Surabaya." Tutur Agam menjelaskan.
Tidak puas dengan informasi setengah-setengah, Arumi mengambil ponsel dan menelfon Gea untuk bertanya langsung padanya.
******
2 hari kemudian,,
Di ballroom hotel bintang 4, acara pernikahan Gea dan Glen digelar sederhana. Dengan dihadiri oleh keluarga besar orang tua Gea dan teman-temannya, acara pernikahan itu berlangsung hidmat dan lancar. Meski banyak desas desus di belakang pengantin ataupun keluarga pengantin karna pernikahan yang terkesan mendadak, namun tidak mengganggu jalannya acaranya.
Di tambah dengan kehadiran Arumi dan Agam, membuat Gea dan Glen terharu memiliki sahabat seperti mereka yang selalu ada disaat suka maupun duka.
Gea juga sangat bersyukur memiliki Arumi di sampingnya. Berkat Arumi juga, Gea akhirnya memberanikan diri mengambil keputusan untuk menerima Glen.
"Selamat Ge, aku ikut bahagia. Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat." Bisik Arumi sembari memeluk Gea dan kedua tangannya mengusap-usap punggung Gea.
"Makasih Ar. Semoga kamu selalu bahagia,," Lirih Gea dengan suara tercekat. Air matanya menetes begitu saja. Memiliki sahabat yang tulus memang anugerah terbesar, bahkan tidak semua orang bisa memiliki sahabat seperti Arumi.
...******...
Glen memegangi gaun pengantin Gea. Keduanya sedang menuju ke kamar pengantin setelah 4 jam berdiri di pelaminan.
Glen sengaja menyewa kamar untuk bermalam selama 2 hari sebelum kembali ke Jakarta. Tujuannya hanya satu, Glen ingin berusaha memperbaiki hubungannya dengan Gea.
Glen merasa kalau dia dan Gea bisa bicara dari hati ke hati jika lebih banyak menghabiskan waktu berdua tanpa ada orang lain.
Sampainya di depan kamar hotel, Glen membukakan pintu dan menuntun Gea masuk ke dalam.
"Kamu ganti baju dulu sebelum istirahat, ada piyama di dalam koper." Kata Glen seraya menarik koper ke arah ranjang. Tadinya koper itu hanya diletakkan di dekat pintu.
"Aku mau menemui Agam sebentar. Kamu jangan kemana-mana," Ujar Glen seraya mengacak pelan pucuk kepala Gea dan keluar di kamar.
Gea sejak tadi hanya diam, sama sekali tidak merespon ucapan Glen. Hatinya belum benar-benar bisa menerima Glen, masih di bayang-bayangi kekecewaan dan sakit hati.
Tidak mau larut dalam kesedihan, Gea memilih mengganti gaunnya dengan piyama agar bisa langsung tidur sebelum Glen kembali ke kamar.