
Gea memilih masuk lagi ke kamarnya karna Glrn masih bersikap kasar padanya. Alasan Glen bersikap kasar padanya sangat tidak masuk akal. Hanya karna Gea memberikan nomor ponsel pada Ricko, Glen langsung gelap mata seolah kekasihnya yang sedang bertukar nomor ponsel dengan pria lagi.
Gea tersenyum kecut, sempat terlintas di pikirannya kalau kemarahan Glen dipicu oleh perasaan cemburu. Tapi mengingat statusnya yang hanya di jadikan pemuas ranjang, Gea tidak yakin Glen sampai menaruh cemburu padanya.
Apalagi Glen dan Adeline akan segera bertunangan.
"Bagaimana aku bisa merebutnya kalau seperti ini." Gea memutar otak, dia tidak mau merasakan sakit hati dan kehancuran sendirian. Sebelum Sean mendapat balasan atas perbuatannya, dia tidak akan bisa tenang melanjutkan hidupnya.
Tidak peduli meski harus membalasnya pada Adeline, salama masih ada kaitannya dengan Sean.
Tapi yang menjadi masalah, saat ini Glen marah padanya. Melihat sifat dan kemarahan Glen, sepertinya kemarahan Glen padanya akan bertahan lama.
Pria itu bahkan sulit untuk di bujuk meski Gea sudah bicara baik-baik setelah percintaan tadi pagi.
"Maaf Kak Adeline, aku benar-benar akan merebut Om Glen dirimu." Gumamnya dengan seulas senyum penuh arti.
Perbuatan Sean terlalu menyakitkan, itu yang membuat Gea sakit hati sampai menjadi orang pendendam.
Gea tidak mempermasalahkan kesuciannya yang sudah di renggut oleh Sean, meski dulu Sean memintanya dengan cara memaksa. Tapi setelah kejadian itu, mereka mengulanginya lagi atas dasar sama-sama mau dan menyukainya.
Yang membuat Gea sakit hati adalah perselingkuhan Sean. Gea bahkan sudah di bohongi selama berbulan-bulan. Dan ketika diminta memilih, Sean langsung memilih selingkuhannya tanpa memikirkannya lebih dulu.
Bagaimana Gea tidak sakit hati. Dia merasa di campakkan setelah bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya.
Tanpa ada rasa iba sedikitpun, Sean begitu tega meninggalkannya demi wanita yang baru hadir dalam kehidupannya.
Kenangan indah bersamanya selama ini seolah tidak ada artinya bagi Sean.
...*****...
Di saat Gea sedang meratapi nasibnya dan bingung memikirkan langkah selanjutnya untuk balas dendam, sahabatnya justru sedang bahagia merasakan nikmatnya menjadi pengantin baru.
Malam itu kamar hotel yang di tempati Agam dan Arumi kembali panas. Suara des-sa-han dan jeritan kenikmatan menggema di kamar berukuran besar itu.
Arumi meracau dalam dekapan suaminya. Pria yang berdiri di belakangnya itu terus bergerak teratur, membuat bibir sensual Arumi terus mengeluarkan de sa-han, bahkan sampai memohon pada Agam agar mempercepat gerakannya.
Agam tampak begitu bangga menggagahi istrinya yang masih sangat muda itu. Mendengar de sa-han dan jeritan Arumi yang keenakan, dia jadi sombong karna merasa miliknya sangat gagah dan kuat.
Dua insan itu seperti gak mengenal lelah. Sang istri sudah menjemput kenikmatan hingga 4 kali, dan Agam sudah mendapatkannya 2 kali. Tapi hingga pukul 11 malam, mereka masih bergerak mencari keringat. Padahal mereka memulainya dari pukul 7 malam. Mereka berhenti hanya untuk istirahat sejak dan mengumpulkan tenaga, setelah itu kembali bertempur.
Agam sampai meminta Arumi mengeksplor apa saja yang dia ketahui tentang gaya percintaan. Jadi pertempuran kali ini lebih di dominasi oleh Arumi. Agam hanya memberikan arahan saja karna bagaimanapun Arumi belum berpengalaman, meski istrinya itu mengaku sudah sering menonton vidio pertarungan panas di ponselnya.
"Aku mau sampai Om,, lebih cepat,,," Racau Arumi. Dalam keadaan seperti itu, dia tidak ingat kalau memiliki rasa malu. Yang terpenting adalah bisa merasakan kenikmatan.
"Tunggu sebentar sayang, aku hampir sampai." Agam tidan mengijinkan Arumi mencapai ******* sendirian. Dia ingin mencapainya bersama.
"Ya ampun, ternyata seenak ini. Pantas saja mereka ketagihan,," Arumi bergumam sendiri sembari menatap langit-langit kamar.
Dia mungkin masih setengah sadar setelah di ajak Agam terbang ke langit ke tujuh untuk menjemput kenikmatan.
"Tergantung siapa lawan mainnya dan sehebat apa juniornya." Ujar Agam menimpali. Dia makin besar kepala saja mendengar kejujuran Arumi.
Arumi langsung melirik Agam, sadar jika suaminya itu jadi gede rasa karna ucapannya.
"Besok kita pulang saja ya Om, aku bosan di dalam kamar hotel terus." Arumi mengalihkan pembicaraan, tidak mau membuat Agam semakin bangga.
"Hmm,, aku juga harus bertemu Edwin dan Gina untuk membahas pekerjaan besok siang." Agam langsung menyetujuinya, Arumi pikir dia akan kesulitan keluar dari kamar hotel ini karna disandera oleh Agam untuk terus memuaskannya.
Mungkin karna Agam ada keperluan, jika tidak, sudah pasti Agam menolak untuk pulang.
"Mau bertemu dimana.? Apa aku boleh ikut.?" Arumu memiringkan tubuhnya, dia juga meletakkan satu tangan di atas da-da polos Agam.
"Di restoran." Jawab Agam datar.
"Untuk apa.? Kamu akan bosan di sana." Agam tampak tidak setuju jika Arumi ikut dengannya. Masalahnya jika sudah membahas tentang pekerjaan, pasti akan memakan banyak waktu.
"Nggak masalah, aku bisa menunggu sampai Om selesai." Arumi kekeuh ingin ikut, entah kenapa dia khawatir membiarkan suami tampannya berkeliaran seorang diri tanpa di dampingi. Di luar sana pasti banyak wanita cantik dan seksi yang berpotensi menjadi pelakor, mengingat Agam cukup tampan, berkharisma dan tentunya kaya raya. Wanita mana yang tidak akan tertarik padanya.
"Terserah kamu saja, asal jangan panggil aku Om lagi di depan mereka. Harga diriku bisa jatuh di depan mereka." Tutur Agam. Arumi mengangguk paham dan berjanji tidak akan memanggil Agam dengan sebutan Om lagi jika di ada orang lain.
Dan sepertinya Arumi juga sudah mulai memikirkan untuk membiasakan diri memanggil Agam dengan panggilan yang lebih pantas, mengingat mereka sudah sah menjadi suami istri.
Malam itu Arumi tidur nyenyak dalam pelukan Agam. Sepertinya dia juga akan menjadi kebiasaan bagi Arumi, tidur sambil berpelukan dengan sang suami.
...******...
Pagi itu Gea bangun lebih awal karna ada janji dengan Sena dan Aileen. Dia juga baru selesai memasak dan saat ini sedang menata sarapan di atas meja makan. Tidak peduli Glen mau memakan masakannya atau tidak, Gea hanya melakukan apa yang sudah menjadi perjanjian mereka di awal.
Gea beranjak dari ruang makan untuk memanggil Glen, tapi pria itu rupanya sudah keluar dari kamar dan kini ada di hadapannya.
"Sarapannya sudah siap Om. Aku mau mandi dulu,," Gea berniat pamit, tapi pria itu malah menghalangi jalannya.
"Ikut ke kamarku." Titah Glen dingin. Tapi sorot matanya terus mengarah pada dua bongkahan yang terlihat sangat besar dari balik tanktop warna putih.
Gea rupanya cukup peka, dia tau kalau Glen sedang menginginkan sesuatu darinya.
Pria itu kemudian berlalu, jalan lebih dulu menuju kamarnya. Gea bernafas lega lantaran Glen tidak menyeretnya lagi seperti kemarin. Dia seperti mendapat angin segar, merasa jika amarah Glen sudah mulai mereda. Tak mau membuat amarah Glen kembali membara, Gea segera mengikuti langkah Glen. Dia berniat mendominasi permainan agar Glen melupakan amarahnya.