Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 56



"Aku harus ke bandara sekarang." Ujar Agam setelah melihat arloji di tangannya.


Gadis yang tengah duduk di pangkuannya itu langsung mencebikan bibir. Terlihat tidak rela kalau Agam pergi.


"Apa aku boleh ikut.?" Arumi merengek manja. Kedua tangannya bertengger di leher Agam dengan mesra. Tadi dia sempat kesal pada Agam, tapi karna sebuah ciuman lembut, Arumi mendadak luluh lagi.


"Bukannya kamu akan kuliah."


"Lagipula nanti malam aku sudah kembali." Agam menolak permintaan Arumi secara halus. Sayangnya hal itu tak membuat Arumi berhenti merengek. Gadis itu masih berusaha membujuk Agam supaya mengijinkannya ikut ke Batam.


"Kamu akan membuatku dalam masalah kalau ikut. Cepat turun, aku sudah terlambat." Usaha Arumi untuk membujuk Agam tidak berhasil. Pria itu berusaha menurunkan Arumi dari pangkuannya. Sudah hampir 30 menit dia berada di kamar Arumi. Entah berapa kali mereka bertukar saliva, hanya sebatas ciuman pelepas rindu.


"Baiklah, tapi berikan nomor ponsel Kak Livia."


"Aku akan menyuruhnya mengembalikan jaket Om padaku." Arumi bersedia tidak ikut dengan mengajukan persyaratan pada Agam.


Tadi mereka sempat membahas lagi perihal jaket yang di pinjamkan Agam pada Livia. Arumi sempat menuduh Agam akan bertemu dengan Livia, karna pesan dari Livia kemarin malam yang mengatakan jika hari ini dia akan mengembalikan jaket Agam. Tapi rupanya Agam membalas pesan dari Livia, dia menyuruh Livia agar tidak perlu mengembalikan jaketnya.


"Jangan mencari masalah. Lagipula itu jaket murah." Agam jelas tidak setuju dengan rencana Arumi. Apalagi gadis itu cukup sensitif dan mudah cemburu. Bertemu Livia pasti hanya akan membuat perasaan Arumi tidak tenang.


Belum lagi obrolan random wanita yang bisa saja membahas tentang masa lalu.


"Om, aku nggak mau Kak Livia menggunakan segala cara untuk bertemu Om dengan alasan ingin mengembalikan jaket itu."


"Aku yakin Kak Livia akan terus menghubungi Om selama dia masih punya alasan. Aku hanya ingin mengambil alasan itu agar Kaka Livia berhenti menghubungi Om.!" Arumi bicara panjang lebar dengan kilat amarah sekaligus cemburu dari sorot matanya.


Arumi tipe orang yang justru akan semakin mempertahankan miliknya jika ada seseorang yang berusaha untuk mengambilnya. Gadis itu seolah bisa membaca niat buruk Livia yang ingin merebut Agam.


"Aku hanya perlu memblokir nomornya kalau kamu mengkhawatirkan hal seperti itu." Ujar Agam. Dia tak menanggapi serius firasat Arumi karna sangat yakin jika Livia tidak akan berbuat macam-macam.


"Kak Livia akan mengganti nomor baru, semudah itu untuk bisa menghubungi Om lagi." Ucapan telak Arumi membuat Agam tak bisa menjawab lagi. Pada akhirnya dia memberikan nomor Livia pada Arumi.


...******...


Pagi itu seperti biasa, Gea akan pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Wajahnya tampak lesu dan kedua mata yang tidak terbuka sempurna. Gea jelas masih terlihat sangat mengantuk dan kelelahan. Glen tentu saja penyebabnya.


Semalam saat Gea baru saja pulang dari acara ulang tahun Arumi, Glen tiba-tiba masuk ke kamar Gea dan meminta haknya seperti biasa. Glen seolah tidak pernah kehabisan tenaga jika menyangkut soal merengkuh kenikmatan. Dia menggempur Gea habis-habisan, membuat remaja berusia 18 tahun itu mendapatkan pelepasan hingga berkali-kali dan tidak berdaya di bawah kungkungan Glen.


"Pria tua itu benar-benar sudah gila." Gea menggerutu kesal. Meski terkadang mengagumi kegagahan Glen yang terbukti cukup kuat sampai membuat Gea selalu tak berdaya, tapi tetap saja Gea kesal karna hal itu di lakukan setiap hari.


"Aku nggak yakin masih sanggup selama 5 bulan ke depan." Keluhnya frustasi. Entah kapan kegilaan Glen sedikit berkurang. Gea berharap Glen hanya melakukan seminggu 2 sampai 3 kali saja, bukan setiap hari dan menjadi rutinitas wajib.


"Nggak sanggup kenapa.?" Suara berat Glen mengagetkan Gea. Dia hampir menjatuhkan piring di tangannya, namun Glen dengan sigap memegangi piring di tangan Gea.


"Apa sekarang kamu menyesal karna menyetujui persyaratan dariku.?" Tanya Glen. Manik matanya terus memantau pergerakan Gea yang sedang sibuk menata makanan di atas meja makan.


"Aku nggak punya pilihan lain." Gea menjawab santai. Kalau Glen mau memberinya kesempatan untuk mencicil sisa uangnya, semua itu pasti tidak akan berakhir di atas ranjang.


Glen tak menanggapi. Pria yang sudah rapi dengan celana dan kemeja lengan panjang itu duduk di depan meja makan.


Gea kemudian menyendokan makanan ke dalam piring Glen. Pria itu di layani oleh Gea layaknya pasangannya.


"Selama 3 hari ke depan aku nggak pulang ke apartemen." Tutur Glen di sela-sela menyantap sarapannya.


Gea langsung mengangkat wajah untuk menatap Glen yang duduk di seberangnya.


"Om mau pergi kemana.?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Gea. Tapi kemudian Gea menjadi salah tingkah lantaran sadar kalau seharusnya pertanyaan seperti itu tidak perlu di lontarkan pada Glen.


Mereka tidak memiliki hubungan apapun. kedekatan mereka tak lebih dari sebatas partner di atas ranjang.


Rasanya aneh jika tiba-tiba Gea menanyakan hal itu pada Glen. Seolah-olah Gea ingin tau urusan pribadi Glen.


"Bukan urusan kamu." Jawab Glen acuh.


"ingat, jangan coba-coba kabur ataupun berhubungan dengan pria lain selama aku pergi.!" Tegasnya penuh penekanan. Tidak hanya sekali Glen memberikan peringatan seperti itu pada Gea.


Glen selalu menekankan Gea untuk tidak dekat dengan pria manapun selama perjanjian mereka belum berakhir.


"Kaburpun percuma saja." Jawab Gea. Dia tidak punya kekuatan untuk melawan Glen. Mau kabur kemanapun, Gea yakin Glen akan menemukannya dengan uang yang dia miliki.


Buktinya Glen bisa mendapatkan identitas asli Gea setelah pencurian jam tangan itu.


Padahal saat Gea menjual diri, dia menggunakan nama palsu.


"Bagus kalau kamu tau." Ujar Glen. Dia tampak buru-buru menghabis sarapannya. Setelah menyesap kopi, Glen beranjak dari meja makan tanpa mengatakan apapun pada Gea.


Gadis itu menghela nafas pelan, dia tidak meneruskan makannya dan ikut beranjak dari sana untuk pergi ke kamarnya. Saat akan masuk ke kamar, Gea tak sengaja melihat Agam keluar dari kamar sembari menarik koper kecil.


Gea tampak mematung di tempat. Dia menebak jika Glen akan pergi ke luar kota karna pria itu membawa koper. Ada perasaan aneh yang sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata, hingga membuat Gea hanya terdiam dan menatap Glen semakin dalam.


Banyak orang yang bilang kalau cinta bisa datang karna terbiasa. Gea mungkin sedang berada di posisi itu, namun dia tidak menyadarinya.


Tinggal bersama dengan Glen, berinteraksi setiap hari dan melakukan beberapa aktivitas bersama, bahkan tak pernah absen untuk ber cinta. Mustahil jika tidak ada benih-benih cinta yang tumbuh.


Entah hanya di rasakan oleh Gea saja, atau mungkin pada keduanya.