
Agam melirik Arumi, istrinya itu sejak tadi fokus pada ponselnya. Sekalinya berhenti mengotak atik layar ponsel, Arumi malah meluruskan pandangan dengan tatapan menerawang.
Tidak ada obrolan sama sekali sejak keluar dari apartemen. Suasana di dalam mobil jadi hening sepanjang perjalanan menuju tempat tinggal Amira.
"Kamu mencurigaiku.?" Agam akhirnya meloloskan pertanyaan yang sejak tadi sudah dia tahan-tahan. Dia sebenarnya enggan bertanya seperti itu, takut akan menimbulkan permasalahan yang tidak penting. Tapi perubahan sikap dan raut wajah Arumi jelas membuat Agam merasa terpojok.
Arumi menoleh seraya menggelengkan kepala.
"Tidak,," Jawabnya namun Arumi sendiri tidak yakin.
Jujur saja perselingkuhan yang di lakukan oleh sang Papa, menimbulkan trauma tersendiri bagi Arumi. Dia selalu terusik dan dihantui ketakutan.
"Arumi,," Agam menatap dalam.
"Ya.?" Arumi menjawab dengan tatapan mata menunduk.
"Lihat aku,," Agam mengangkat pelan dagu Arumi agar menatapnya. Pria itu sampai harus menepikan mobilnya karna merasa harus mengakhiri kekhawatiran Arumi.
Sebenarnya Agam tidak akan rugi meski di curigai oleh Arumi, justru Arumi sendiri yang akan rugi karna harus bergulat dengan pikiran dan hatinya sendiri. Hal itu tentu bisa mempengaruhi suasana hati Arumi, membuatnya tidak tenang menjalani hidup.
Mau tidak mau, Arumi harus menatap Agam. Perasaannya semakin kalut, membayangkan jika Agam berbuat hal yang sama seperti sang Papa. Tidak bisa di bayangkan akan sehancur apa hatinya jika itu benar-benar terjadi.
"Apa yang kamu curigai dariku.?" Agam bertanya lembut, dia ingin Arumi lebih terbuka tentang perasaannya agar tidak membuat asumsi sendiri.
"Apa kamu pernah melihatku menghubungi seseorang diam-diam.? Atau menyembunyikan ponselku darimu.?" Tanyanya masih dengan nada rendah.
Arumi menggelengkan kepala. Dia memang tidak pernah memergoki Agam menelfon diam-diam di belakangnya. Jika ada yang menelfon, Agam bahkan tak sungkan mengangkatnya di depan Arumi. Agam juga selalu membiarkan ponselnya tergeletak dimanapun, tidak di sembunyikan darinya. Yang artinya, Agam memang tidak menyembunyikan apapun dari Arumi.
Tanpa harus khawatir ponselnya akan di lihat oleh Arumi.
"Aku hanya takut hal itu terjadi padaku." Arumi tiba-tiba mendekat dan memeluk erat lengan Agam. Dia membenamkan wajah di da-da bidang suaminya dan mulai terisak.
"Jika aku tidak sempurna menjadi seorang istri, tolong beri tau aku. Aku bersedia memperbaikinya asal jangan mencari kesempurnaan itu pada wanita lain." Tutur Arumi dengan suara tercekat.
Perbuatan Andrew telah menimbulkan efek buruk yang cukup besar pada psikis Arumi. Dia bukan hanya terguncang melihat kehancuran rumah tangga orang tuanya, tapi juga trauma mendalam akan sebuah pengkhianatan. Terlebih pengkhianatan itu di lakukan oleh seseorang yang Arumi tau memiliki kepribadian sangat baik, penuh cinta dan memprioritaskan keluarga di atas segalanya.
Hal itu membuat Arumi berfikir bahwa perselingkuhan dapat di lakukan oleh siapapun, meski memiliki kepribadian yang sangat baik.
"Kamu bicara apa. Aku cuma butuh kamu, tidak butuh yang lain."
"Cukup kamu untuk menjadi teman hidup dan ibu dari anak-anakku." Agam mengusap lembut punggung Arumi, dia juga mendaratkan kecupan di pucuk kelapa Arumi dengan penuh sayang.
Arumi sedikit lega mendengar pengakuan Agam. Perlahan dia mendongakkan wajahnya untuk menatap Agam.
"Apa aku bisa memegang ucapanmu.?" Tanya Arumi memastikan.
"Tentu saja. Kamu ingin bukti apa.?"
"Aku bisa mengalihkan semua asetku atas nama kamu. Jika aku macam-macam, aku akan jadi gembel." Agam terkekeh kecil, dia malah mengajak Arumi bercanda. Tidak heran kalau Arumi mencubit perutnya.
"Aku serius.!" Protes Arumi kesal.
"Tidak mau. Kamu sangat pintar berbisnis, sekalipun jadi gembel, pasti bisa merintis bisnis lagi dari bawah." Arumi mencebik kesal. Penawaran Agam sama sekali tidak membuatnya tenang. Harta bisa di cari dengan mudah oleh Agam. Rasanya tidak akan efektif untuk membuat Agam tidak berulah di luar sana.
Agam terkekeh mendengar ucapan Arumi. Dia malah mencubit gemas hidung istrinya.
"Lalu dengan apa.? Kamu tidak akan mengancamku untuk memotong burung kan.? Itu benda kesayanganmu." Bisik Agam dengan candaan. Wajah Arumi langsung bersemu merah, dia memukul lengan Agam dan menjauh dari suaminya.
"Cepat jalan, Mama sudah menunggu." Arumi mengalihkan pembicaraan, dia di buat malu karna ucapan Agam.
"Sesuai perintah Nyonya." Sahut Agam dan kembali melajukan mobilnya. Arumi sempat memukul pelan lengan Agam karna suaminya itu kembali bercanda.
Tapi meski begitu, Arumi sedikit terhibur. Biasanya Agam selalu memasang wajah datar dan acuh. Jangankan bicara panjang lebar, bercanda pun sepertinya tidak pernah di lakukan sebelumnya.
...******...
Gea kewalahan di bawah kungkungan Glen. Nafasnya tersengal seiring dengan gerakan Glen yang makin menggila. Pria dewasa yang kerap dia panggil Om itu seolah tidak ada puasnya menggagahi tubuhnya.
Padahal sebelum sarapan mereka sudah melakukannya. Tapi setelah sarapan, Glen membawanya ke kamar dan mengulangi percintaan panas lagi yang entah sudah berapa kali. Tenaga Glen seperti tidak ada habisnya.
Tak mau mengecewakan Glen, Gea berusaha untuk mengimbanginya. Lagipula balas dendamnya belum tercapai, jadi tidak ada alasan untuk berhenti menarik perhatian Glen.
"Aku mau di atas,," Bisik Gea menggoda. Tak mau membuang kesempatan, Glen mengubah posisi dengan sekali gerakan.
Glen menatap dengan mata berkabut gairah, terlebih saat Gea tersenyum menggoda dan mulai bergerak.
Glen meracau, tak jarang melontarkan pujian sensual pada Gea. Dari kata-kata yang keluar dari mulutnya, Glen seolah sangat mendambakan Gea sebagai partner ranjangnya.
"Ya seperti itu baby, kamu sangat hebat,," Glen meraih tengkuk Gea dan menciumnya dalam. Mengabsen setiap rongga mulut Gea dengan gairah yang menggebu.
Tubuh Gea ambruk di atas Glen setelah bergerak hampir 30 menit tanpa henti. Keduanya terkulai lemas setelah berkali-kali mencapai pelepasan.
Keduanya memejamkan mata, menikmati sisa-sisa percintaan dan mengatur nafasnya yang memburu.
"Om,,," Panggil Gea seraya memainkan jemarinya di dada Glen. Dia masih betah merebahkan diri di dada bidang Glen.
"Hemm,,," Sahut Glen tanpa membuka mata.
"Kebersamaan kita sisa 1 bulan lagi. Bagaimana perasaan Om Glen padaku setelah hampir 4 bulan bersama.?" Gea berucap lirih. Jemarinya masih menari-nari di atas dada Glen.
"Perasaan apa.? Kita tidak lebih dari sekedar partner di atas ranjang." Jawaban Glen cukup menusuk hati Gea, dia sampai tersenyum getir tanpa di ketahui oleh Glen.
"Bagaimana kalau aku bilang 'aku jatuh cinta pada Om'. Apa Om percaya.?" Entah keberanian dari mana, Gea mengatakannya tanpa ragu.
Glen bergerak, dia menggulingkan Gea ke samping hingga posisi mereka saling berhadapan.
"are you kidding me.?" Tanya Glen tak percaya.
Gea menggeleng cepat.
"I love you, i love you Om." Gea mendekat dan memagut bibir Glen. Meski awalnya kaget, tapi Glen langsung membalas ciumannya. Sampai akhirnya percintaan itu kembali terjadi untuk kesekian kalinya. Namun kali ini sedikit berbeda, Gea jelas merasakannya. Tapi dia belum tau apa yang membuat percintaannya berbeda dan terasa lebih berkesan.