
"Sayang,, ada yang telfon." Seru seorang wanita muda yang sedang bergerak liar dia atas tubuh pria paruh baya berusia 45 tahun. Namun wajah serta fisiknya yang gagah, membuat orang tidak akan percaya jika usianya hampir setengah abad.
"Lanjutkan saja, kamu sangat nikmat sayang." Puji pria itu dengan tatapan penuh cinta dan gairah yang membara. Sudah memiliki anak dan Masih memiliki istri, dia telah mengkhianati janji suci pernikahannya yang kini sudah berjalan 19 tahun.
Selama 4 bulan terakhir, dia terpikat pada wanita muda berusia 25 tahun. Usianya terpaut 20 tahun dengannya. Perbedaan usia keduanya cukup jauh, tapi tidak bisa dipungkiri jika keduanya saling mencintai.
"As you wish hubby,,," Sahut sang istri keduanya dengan senang hati. Dia mempercepat gerakkan hingga membuat suaminya menge rang kenikmatan.
Ya, keduanya telah resmi menjadi pasangan suami istri sejak 2 bulan terakhir. Walaupun pernikahan mereka tidak terdaftar secara hukum. Mereka berdua juga sama-sama kompak menutupi kebenaran di depan keluarga wanita, tentang status si pria yang masih memiliki istri sah.
Keduanya mengerang panjang. Peluh bercucuran di tubuh polos keduanya. Bercampur peluh, bertukar cairan dan saliva, mereka merengkuh nikmatnya surga dunia tanpa memikirkan ada hati yang akan terluka jika mengetahui hubungan mereka.
Baik dan romatis, tidak menjamin seseorang bisa setia hanya dengan satu pasangan.
Mereka bisa membuka hati dan memberikan celah pada seseorang untuk masuk dalam kehidupannya dan menghancurkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Keduanya terlihat lemas dengan nafas tak beraturan. Berbaring tanpa jarak, mereka saling memeluk satu sama lain.
Kebahagiaan dan kepuasan terpancar dari raut wajah keduanya meski terlihat sangat lelah sehabis ber cinta.
"Pasti Mba Amira yang telfon. Mas Andrew belum mengabarinya lagi.?" Ujarnya dalam dekapan sang suami. Dia memeluk erat, seakan enggan melepaskannya. Jarang bertemu membuatnya tak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menempel pada sang suami dan bermanja seperti pasangan pengantin baru pada umumnya.
Statusnya hanya sebagai istri kedua yang di rahasiakan, dia bisa memahami kenapa sang suami hanya bisa menemuinya seminggu sekali ataupun dua kali. Dia enggan menuntut lebih, bisa bertemu seminggu sekali saja sudah cukup baginya.
Cinta memang buta, tidak memandang usia dan status. Penyesalan dan rasa bersalah tentu ada, tapi cinta di hatinya pada suami orang sudah terpatri, tak bisa jika harus berpisah. Meski harus menjadi istri rahasia, tidak jadi masalah untuknya.
Pernah mendapatkan pengalaman buruk dan trauma mendalam, membuatnya begitu nyaman ketika ada seseorang dengan tulus memberikan perhatian padanya layaknya seorang ayah pada anaknya. Cinta datang tiba-tiba, dia tidak bisa mengelak. Cinta itu semakin tubuh dan segar ketika di sambut.
"Sepertinya aku harus pulang sekarang,," Andrew melonggarkan dekapannya pada si istri muda. Istrinya itu tampak berat melepaskan pelukannya.
Andrew lantas mengangkup pipi sang istri dan mengurai tatapan teduh. Pria itu cukup dewasa, penuh kelembutan dan perhatian, perlakuannya cukup manis, bagaimana wanita lain tidak terpikat padanya. Usia bukan masalah. Andrew bahkan masih terlihat gagah dengan postur tubuh ideal.
"Sofia,, aku akan kemari lagi minggu depan." Bujuk Andrew lirih. Dia tau istri keduanya selalu menahan kesedihan setiap kali harus berpisah.
"Kapan aku pernah menahan kamu, Mas." Jawab Sofia lantas mengurai senyum tipis. Barulah dia melepaskan dekapannya.
Sekalipun berat harus berpisah dan baru bisa bertemu lagi 3 atau 1 minggu lagi, Sofia tak pernah menghalangi jalan Andrew untuk pulang ke rumah utama.
"Terimakasih sudah mengerti." Andrew mendaratkan kecupan singkat di bibir Sofia, lalu turun dari ranjang untuk membersihkan diri dan pulang ke rumah dimana seharusnya dia tinggal.
Sofia hanya bisa menatap sendu punggung suaminya yang kini sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
...******...
"Sayang,, aku minta maaf. Aku janji nggak akan mengulangi lagi." Arumi merengek, tatapannya memohon agar Agam mengasihaninya dan membebaskan dia dari hukuman.
"Nikmati saja hukumnya, kamu pasti suka." Agam tersenyum devil. Senyum yang mengerikan dan membuat Arumi gelisah tak karuan.
Meski tau jika suaminya tidak akan memberikan hukuman yang bisa menimbulkan luka fisik, tapi tetap saja Arumi cemas menyambut hukuman dari Agam. Terlebih pria itu membawanya pulang ke apartemen, bukan ke salah satu rumah orang tua mereka.
"Ayo masuk,,," Agam memaksa Arumi masuk ke apartemen setelah membuka pintu.
Tapi tanpa Arumi sadari, dia malah semakin membuat Agam kesal setelah mendengar kata Bima dari bibir sang istri.
"Hukumanmu akan di tambah." Seru Agam tegas.
Arumi melongo tak percaya, bagaimana bisa sebuah penjelasan yang bertujuan untuk meringankan hukuman, malah membuat hukumannya semakin di tambah.
"Sayang,,, kenapa malah di tambah.? Harusnya aku terbebas dari hukuman karna sudah memberikan penjelasan yang sebenarnya. Paling tidak, aku dikasih keringanan." Protes Arumi dengan wajah memelas dan mengiba.
Agam menahan tawa melihat ekspresi wajah Arumi. Istrinya itu benar-benar ketakutan, seperti akan di beri hukuman berat saja.
"Kamu pikir ini sidang, bisa di negosiasi pengakuan." Celetuk Agam.
Tangannya tak melepaskan genggaman di pergelangan Arumi, menuntun Arumi ke kamar utama.
Arumi hanya bisa pasrah saat di giring ke dalam kamar. Arumi tau kalau hukuman yang di berikan oleh Agam pasti tidak jauh dari urusan burung.
Tapi dia khawatir Agam memiliki fantasi berbeda saat menghukumnya nanti.
Pria itu bahkan sudah beberapa kali mengikat kedua tangannya ketika ber cinta, membuat Arumi sangat tersiksa karna tidak bisa mengekspresikan diri ataupun balas menyentuh Agam.
"Hukumannya ber cinta kan.?" Tanya Arumi memastikan.
"Ya sudah aku pasrah saja. Tapi jangan ikat tanganku." Pinta Arumi, Agam bahkan belum merespon pertanyaan.
Kalau hukumnya ber cinta, Arumi tidak akan rugi walapun pasrah. Tapi dia hanya khawatir Agam melakukannya dengan cara tidak biasa.
Meski sering melihat tontonan dengan berbagai gaya dan fantasi liar, Arumi belum bisa mengimbangi Agam. Dia masih amatir soal ber cinta.
"Sebenarnya yang mau di hukum siapa.? Kenapa kamu yang ngatur." Agam melirik malas. Dia menutup pintu setelah masuk ke kamar.
Meletakkan tas berisi laptop dan berkas-berkas di atas meja, Agam juga mengeluarkan ponselnya untuk di letakan di setelah tasnya.
"Tunggu disini, jangan coba-coba kabur." Ancamnya sebelum meninggalkan Arumi ke walk in closet.
Arumi membuang nafas berat. Feelingnya mengatakan kalau Agam akan mengambil alat tempur. Sejak awal Arumi sudah menduga hukumannya akan seperti ini.
Arumi tidak kaget ketika Agam kembali dengan dasi dan lingerie di tangannya. Arumi hanya penasaran dari mana Agam mendapatkan lingerie itu. Jangan sampai itu lingerie bekas milik mantan istrinya atapun mantan kekasihnya.
"Ganti bajumu pakai ini. Ganti di kamar mandi." Titah Agam dan memberikan lingerie itu pada Arumi.
"Milik siapa.?" Tanya Arumi sembari mengangkat lingerie di tangannya.
"Yang pasti bukan milikku." Sahut Agam datar. Arumi jadi ingin menggigit bu rung Agam saking kesalnya mendengar jawaban Agam.
"Isshh.!!" Arumi hanya bisa bersedis kesal.
"Sudah jangan banyak protes. Itu lingerie baru." Agam mendorong pelan bahu Arumi agar beranjak. ke kamar mandi dan memakai lingerie itu.