
"4 hari lagi Om menikah kan.?" Gea akhir buka suara setelah cukup lama menahan diri dalam keheningan di meja makan. Dia sebenarnya ingin bertanya sejak tadi, tapi menunggu waktu yang tepat karna Glen sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.
Glen mengangguk singkat setelah mengalihkan pandangannya pada Gea sekilas. Sepertinya Glen tidak berniat memberikan respon lebih selain anggukan kepala. Ekspresi wajahnya yang berubah saat di tanya seperti itu, sudah cukup menunjukkan kalau Glen tidak berminat membahasnya.
"Apa aku sudah boleh pergi.?" Lirih Gea ragu. Jantungnya berdetak kencang, terlebih saat Glen kembali menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa. Sorot matanya sangat tajam, menunjukkan ketidak sukaannya atas perkataan Gea.
Gea menelan ludah susah payah, tatapan Glen seperti ingin memakannya hidup-hidup. Padahal dia merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya. Glen sebentar lagi akan menikah, bukankah sudah seharusnya mereka mengakhiri hubungan terlarang ini. Tapi kenapa reaksi Glen seolah menunjukkan kalau dia enggan membiarkan Gea pergi.
"Kamu lupa dengan perjanjiannya.?" Ujar Glen penuh penekanan.
Kalau mengikuti aturan surat perjanjian yang sudah Gea sepakati, artinya 2 bulan lagi Gea harus berada di samping Glen untuk menjadi partner ranjangnya.
Gea menggeleng pelan. Mana mungkin dia lupa kalau harus menjadi pemuas ranjang Glen selama 5 bulan. Dia dalam keadaan sadar saat menyetujui surat perjanjian itu.
Tapi saat ini posisinya cukup rumit karna menyembunyikan kehamilan. Ditambah Glen yang sebentar lagi akan menikah dengan Adeline, Gea yakin setelah ini Glen tidak akan membutuhkannya lagi karna sudah ada Adeline.
"Sudah ada Adeline, aku pikir Om tidak akan membutuhkanku lagi. Jadi biarkan aku,,"
Braakk.!!!
Glen menggebrak meja makan menggunakan dua tangannya.
Gea tersentak kaget dan langsung menutup mulut rapat-rapat. Reaksi Glen cukup membuat Gea terkejut. Entah apa yang membuat Glen sampai terlihat semarah itu padanya hanya karna dia pamit ingin pergi.
"Apa selama ini aku terlalu baik padamu, hah.?!" Bentak Glen seraya beranjak dari duduknya dan berjalan mengitari meja makan untuk menghampiri Gea.
Tatapan tajamnya tak beralih sedikitpun dari Gea, membuat Gea ketakutan sampai tidak berani mengangkat wajahnya.
"Sakit Om,," Gea meringis saat lengannya tiba-tiba di cengkram kuat oleh Glen. Dia berusaha melepaskan tangan Glen, namun cengkeramannya justru semakin kita.
"Sepertinya selama ini aku memang terlalu baik padamu.!" Seru Glen dingin. Dia menyeret kasar tubuh Gea, menarik lengannya hingga kursi yang tadi di duduki Gea jatuh terbalik.
"Om,, sakit,,," Rintih Gea dengan mata yang berkaca-kaca.
Dia di seret paksa oleh Glen, membuatnya jalan terseok-seok mengikuti langkah lebar Glen. Pria itu tidak memberikan Gea kesempatan untuk berjalan dengan benar. Malah terlihat sengaja ingin membuat Gea terseret.
Rintihan Gea tak membuat Glen iba sedikitpun. Dia semakin cepat menyeret tubuh Gea dan membawanya ke kamar.
Tangis Gea tidak terbendung saat Glen melempar kasar tubuhnya di atas ranjang. Kedua tangan Gea memeluk perutnya, berusaha melindungi janinnya agar tidak terkena benturan.
Gea meringkuk di atas ranjang, di depannya ada Glen yang masih berdiri sembari membuka satu persatu kancing kemejanya. Tatapan matanya tak beralih sedikitpun dari Gea.
Melihat Glen sudah menanggalkan semua baju yang melekat di tubuhnya, Gea hanya bisa pasrah dan memejamkan mata rapat-rapat. Dia sudah tau apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Terlebih saat merasakan pergerakan di atas ranjang. Gea tau Glen sudah berada di atas tubuhnya.
"Aku mohon pelan-pelan, perutku tidak baik-baik saja." Lirih Gea disaat salah satu tangan Glen mulai menjamah kasar tubuhnya.
Gea tidak berniat membuka mata, dia takut akan terluka melihat perlakuan kasar Glen padanya. Jadi dia hanya bisa memohon, meminta Glen agar tidak bermain kasar.
"Jangan mencari alasan.!" Sahut Glen sinis.
Permintaan Gea seperti angin lalu, Glen sama tidak menggubrisnya. Dia mempermainkan tubuh Gea sesuka hati layaknya benda mati. Melakukannya dengan kasar karna dalam posisi tersulut amarah.
1 jam berlalu, Gea terlihat sangat lemas. Air matanya tampak mengering setelah menangis 1 jam lamanya tanpa henti.
Untuk pertama kalinya Glen memperlakukannya dnegan sangat buruk dan kasar.
"Jangan berfikir bisa pergi sebelum perjanjian berakhir.!" Cibir Glen seraya menyingkir dari atas tubuh Gea.
"Sakit Om,,," Lirih Gea dengan suara tercekat. Kedua tangannya reflek memegangi perutnya. Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menjalar setelah Glen melepaskan penyatuan.
Glen yang tadinya akan ke kamar mandi, kini berbalik badan menatap Gea.
Matanya membulat sempurna melihat seprei putih itu berlumuran noda merah.
Jantung Glen berdetak kencang, wajahnya berubah panik. Dia langsung menyambar baju miliknya, buru-buru memakai bajunya dan. setelah itu memakai baju milik Gea.
Kondisi Gea sangat lemah dengan mata yang terus terpejam, dia tidak mengatakan apapun lagi dan hanya memegangi perutnya.
"Maaf,, maafkan aku,," Bisikan Glen seraya menggendong tubuh Gea dan membawanya keluar dari kamar.
Kini Glen sudah berada di rumah sakit. Dia mondar-mandir di depan ruang UGD dengan wajah cemas. Gea tadi tidak sadarkan diri dalam perjalanan ke rumah sakit. Itu yang membuat Glen tidak bisa tenang. Doa dihantui rasa takut dan bersalah. Apa yang terjadi pada Gea saat ini karna perbuatannya.
Glen tidak menyangka perbuatannya pada Gea akan berakibat fatal sampai membuat Gea mengalami pendarahan hebat.
Seandainya Glen tau bahwa Gea sedang mengandung anaknya, dia mungkin akan semakin frustasi karna tanpa sadar sudah mencelakai darah dagingnya sendiri.