Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 37



Agam menautkan kedua alisnya sembari menatap foto yang baru saja dikirimkan Glen ke ponselnya.


Dia jelas mengenali siapa gadis dalam foto tersebut. Bukan hanya satu kampus dengan Arumi, gadis itu bahkan bersahabat dengan Arumi.


"Om, dapat dari mana foto Gea.?" Seru Arumi. Kedua matanya begitu intens menatap layar ponsel di tangan Agam. Arumi tidak bermaksud mengintip, tapi karna posisi duduknya sangat dekat dan nyaris tanpa jarak, Arumi jadi bisa melihat apa yang ada di ponsel Agam. Dia terkejut melihat Agam memiliki foto Gea yang sepertinya di ambil secara diam-diam.


"Kamu masih ingat Glen.?" Tanya Agam. Arumi tampak mengingat sejenak kemudian mengangguk setelah ingat kalau Glen merupakan teman Agam dan dia sudah pernah melihatnya dua kali.


"Temanmu itu mencuri jam tangan milik Glen." Tutur Agam yang tampak tak habis pikir dengan ulah teman baik Arumi. Jam yang di curi oleh Gea tentu bukan jam murahan karna dari brand ternama. Harganya bahkan mencapai 3 digit.


"Apa.?! Bagaimana ceritanya.?" Pekik Arumi kaget. Sulit di percaya kalau Gea benar-benar mencuri jam milik Glen. Sudah lama Arumi mengenal Gea dan sahabatnya itu tidak pernah mengambil barang milik orang lain.


"Mana aku tau." Agam menjawab acuh karna sangat malas untuk menceritakan kronologinya meskipun dia sudah mendengar ceritanya dari Glen.


"Iish.! Mana mungkin Om nggak tau.? Pasti teman Om sudah cerita kan.? Buktinya sampai mengirim foto Gea." Dengus Arumi kesal.


Agam yang pusing mendengarkan ocehan Arumi, seketika menyerahkan ponselnya pada gadis itu dan menyuruh Arumi membaca sendiri chat dari Glen.


Dua bola mata Arumi terbelalak sempurna. Dia tau selama ini Gea memang sudah sering melakukan hubungan s eks, tapi sahabatnya itu mengakui hanya melakukannya dengan kekasihnya saja.


Sedangkan pengakuan Glen cukup mengejutkan untuknya. Arumi tentu bukan gadis polos yang tidak tau hal semacam itu.


Gea telah di bayar oleh Glen untuk memuaskannya. Keduanya pergi ke hotel dan setelah selesai, Gea diam-diam mengambil jam tangan milik Glen sebelum meninggalkan hotel.


"Kamu berteman dengan wanita macam apa.?" Tanya Agam yang terkesan mencibir kelakuan Gea.


"Pantas saja kamu tau banyak teori tentang s eks." Agam mengambil ponselnya dari tangan Arumi dan menyimpannya lagi.


"Glen akan melaporkannya ke polisi, sebaiknya kamu bilang pada temanmu untuk segera mengembalikan jam itu." Ujarnya kemudian beranjak dari sofa dan masuk ke dalam kamarnya.


Arumi kehabisan kata-kata, dia sangat syok mengetahui sekaligus dua fakta buruk tentang sahabatnya sendiri. Mencuri dan menjual tu buhnya.


Sekarang dia mengerti alasan yang membuat Gea pulang tanpa pamit di hari pertunangannya.


Dan wajah Gea yang mendadak pucat saat itu, sudah bisa dipastikan kalau Gea ketakutan melihat keberadaan Glen di sana. Itu sebabnya Gea buru-buru pergi dengan alasan ingin ke toilet. Tapi setelah itu tidak kembali lagi.


20 menit berlalu. Arumi sejak tadi mengirimkan banyak pesan pada Gea dan mencoba untuk menghubunginya. Tapi pesan itu hanya di baca oleh Gea dan panggilan telfonnya selalu di tolak. Kini Gea malah mematikan ponselnya dan membuat Arumi tidak bisa lagi menghubungi wanita itu.


"Astaga Ge,, kenapa kamu menjual diri dan mencuri." Gumamnya tak habis pikir. Arumi sampai memijat kepalanya lantaran merasa pusing memikirkan perbuatan sahabatnya itu.


Agam baru saja selesai mandi, dia keluar dari kamarnya dan membawa map hitam tebal.


Dia menghampiri Arumi dan mengajak gadis itu untuk pulang.


"Nanti aku akan bujuk Gea supaya mengembalikan jam itu." Arumi meyakinkan.


Perbuatan Gea memang salah, tapi Arumi juga tidak ingin melihat sahabatnya di laporkan ke polisi. Masa depan Gea pasti akan hancur kalau Glen benar-benar melaporkan Gea. Selain di keluarkan dari kampus, sudah pasti Gea akan mendekam di penjara.


"Kamu pikir aku punya waktu mengurusi hal receh seperti itu.?" Ucap Agam acuh. Dia melangkah tegap keluar rumah dan membuat Arumi mengejarnya.


"Om,, pleaseee,,," Arumi memohon seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Aku akan memberikan apa saja kalau Om berhasil membujuk Om Glen." Arumi mencoba bernegosiasi dengan Agam demi menyelamatkan masa depan sahabatnya. Tapi dia melupakan sesuatu bahwa orang yang sedang di ajak bernegosiasi adalah pria dewasa dengan otak mesum.


"Apa saja.?" Tanya Agam mengulangi. Sebelah alisnya terangkat. Pria itu tampak tertarik dengan penawaran Arumi. Tatapan matanya yang penuh arti membuat Arumi sadar jika tawarannya akan di manfaatkan oleh Agam.


"Apa yang Om pikiran.?" Arumi mundur satu langkah. Dia bergidik sendiri melihat tatapan mata tajam Agam yang seolah ingin memangsanya bulat-bulat. Walaupun Arumi sangat ingin ber cinta dengan Agam, tapi gadis itu berfikir ulang jika harus melakukannya sebelum menikah. Dia berubah pikiran, takut hal itu hanya akan merugikan dirinya sendiri.


Dia tidak keberatan kalau Agam hanya meminta di puaskan dengan cara lain tanpa harus melakukan penyatuan.


"Biasanya kamu paling tau apa yang ada dalam pikiranku. Kenapa sekarang malah bertanya, hmm.?" Agam mengurai senyum smirk. Dia melangkah maju dan membuat Arumi kembali mundur. Pria itu membuat Arumi tersudut di pintu rumah yang tertutup. Arumi berusaha meraih handle pintu untuk membukanya, tapi saat itu juga langsung di tahan oleh Agam.


"Mau coba-coba ingkar.?" Ujar Agam. Senyumnya membuat Arumi bergidik ngeri.


"Aku akan mempertimbangkan permintaan mu. Kamu ingin temanmu selamat dari laporan Glen kan.?" Agam menggerakkan alisnya. Pria itu membuat Arumi tidak bisa bergerak karna di kunci oleh kedua tangannya yang bertumpu pada pintu.


"Bukan begitu,," Jawab Arumi gugup.


"Aku hanya ingin meralat ucapanku. Apa saja asal jangan ber cinta." Tegasnya.


"Kenapa.? Bukannya kamu ingin tau rasanya seperti apa.?"


"Mau mencobanya sekarang.?" Goda Agam.


"Aku akan menelfon Glen dan memintanya melepaskan Gea kalau kamu setuju." Kini Agam yang mencoba memberikan penawaran pada Arumi. Penawaran yang jelas sangat menguntungkan dirinya. Walaupun Agam tidak terlihat serius untuk melakukan hal itu.


"Tapi aku belum siap menyandang status mantan pe rawan." Jawab Arumi seraya berusaha mendorong dada Agam lantaran wajah pria itu terlalu dekat dengannya.


"Siapa yang akan peduli dengan hal itu.? Kita juga akan menikah nantinya." Agam semakin mendesak Arumi. Dia terus meminta Arumi supaya mau melakukannya meski sebenarnya hanya main-main saja.


"Tapi jangan sekarang, aku benar-benar belum siap. Bagaimana kalau besok.?" Tawar Arumi. Tentu dia hanya berbohong agar Agam mau melepaskannya sekarang.


"Baiklah. Besok setelah pulang kuliah aku tunggu kamu disini." Jawabnya, lalu bergegas keluar dari rumah dan Arumi menyusulnya dengan perasaan yang tidak menentu. Dia merutuki dirinya sendiri lantaran sudah salah bicara.