Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 93



Di antar supir pribadi, Amira mendatangi apartemen wanita yang dia duga sebagai selingkuhan suaminya. Meski Andrew tidak mengakuinya secara terang-terangan, tapi semua bukti sudah cukup menjelaskan di antara mereka berdua memang memiliki hubungan.


"Kamu tunggu di sini saja." Amira berpesan pada supir pribadinya untuk menunggu di lobby apartemen.


"Baik Nyonya." Sang supir tidak membantah, meski terlihat cemas melihat kepergian si majikan. Dia bahkan langsung merogoh ponsel dan menghubungi seseorang.


"Hallo Tuan,, Nyonya datang ke apartemen." Lapornya panik. Amira terlalu percaya pada semua orang sampai tidak tau jika supir pribadinya sudah berada di bawah kuasa Andrew. Dia di tugaskan untuk melaporkan kemanapun Amira pergi.


"Kenapa baru melapor sekarang.?!" Sentak Andrew. Dari nada bicaranya terdengar sangat panik.


"Maaf Tuan. Saat masih di rumah, Nyonya tidak bilang mau kemana." Johan sampai gemetar menjawabnya. Dia takut di marahi, apalagi kalau sampai di pecat.


Tadi saat akan pergi, Amira tidak mengatakan tujuannya. Saat sudah setengah perjalanan, barulah Amira memberitahukan pada si supir kemana tujuannya.


Andrew tampak menghela nafas berat dan mengakhiri panggilan sepihak.


"Ya ampun, rumit sekali kehidupan orang kaya,," Gumam Johan frustasi. Jika nanti terjadi masalah besar, mungkin akan berimbas pada orang kecil sepertinya yang sebenarnya tidak berwenang di beri tugas untuk mencampuri kehidupan pribadi majikannya.


...*****...


Amira berhenti di depan pintu apartemen lantai 8. Sudut bibirnya terangkat, tersenyum kecut ketika mendapati bahwa apartemen yang di tempati wanita itu merupakan salah satu apartemen termewah di gedung itu.


Hal itu membuat Amira semakin muak dengan suami serta selingkuhan suaminya.


Mendapati apartemen mewah itu, darahnya semakin mendidih. Amarahnya pada Andrew dan wanita itu semakin menjadi-jadi. Amira yakin wanita itu sudah melempar tubuhnya pada Andrew hingga di fasilitasi apartemen mewah.


Amira menekan bel apartemen. Kedua tangannya bersilang di dada. Raut wajahnya begitu tegas dengan sorot mata tajam, namun aura kecantikannya tidak luntur sama sekali. Bahkan di saat usianya sudah menginjak lebih dari 40 tahun.


"Mas,, kamu sudah datang sepagi ini,," Pintu belum sepenuhnya terbuka, tapi suara lembut dan manja sudah menyambut Amira dari dalam. Jika bukan suaminya yang di goda oleh wanita itu, mungkin Amira akan mengakui kelembutan wanita itu dari nada bicaranya. Sayangnya wanita itu telah menjadi duri dalam rumah tangganya bersama Andrew, hingga suara lembutnya pun terdengar memuakkan di telinga Amira.


Apalagi mendengar wanita itu memanggil Andrew dengan sebutan Mas. Amira merasakan panas di hatinya.


Kini saat pintu terbuka sempurna, Sofia tercengang melihat sosok wanita yang tanpa sadar sudah dia hancurkan hatinya, tengah berdiri menatapnya penuh amarah.


Amira menatap Sofia dari ujung kaki sampai kepala. Menatap sosok wanita muda yang menjadi penyebab rusaknya rumah tangganya bersama Andrew.


Di lihat secara fisik tubuhnya, Amira mengakui jika tubuh Sofia lebih menggoda dan menantang. Mungkin karna usianya masih sangat muda.


Tapi wajah Sofia terbilang biasa saja, tidak ada yang spesial. Di banding dengan Amira, jauh lebih cantik Amira walaupun usianya tak lagi muda.


"Mba,,,Mba Amira,,," Sofia terbata. Dia memang belum pernah bertemu secara langsung dengan istri pertama suaminya, tapi Andrew beberapa kali menunjukkan foto istri dan anaknya. Bahkan wallpaper di ponsel Andrew adalah foto keluarga mereka bertiga saat liburan di Paris.


"Silahkan masuk Mba,," Sofia sedikit gugup saat memberikan jalan pada Amira untuk masuk ke dalam apartemennya.


Amira menerobos masuk tanpa mengatakan apapun. Sofia bergegas menutup pintu dan mengikuti langkah Amira dengan sedikit gemetar.


"Silahkan duduk Mba, Saya buatkan minum dulu." Sofia hendak beranjak, tapi ucapan Amira membuat langkahnya membeku di tempat.


"Sepertinya kamu cukup pintar menggerogoti harta suami saya." Sinis Amira, namun dengan gayanya yang anggun. Dia mengedarkan pandangan, menatap semua furnitur mahal di dalam apartemen itu.


Sofia tampak menelan ludah dengan susah payah. Sungguh dia tidak ada niatan seperti itu, bahkan sedikitpun tak pernah berfikir untuk menggerogoti harta Andrew. Mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Andrew saja sudah lebih dari cukup bagi Sofia yang kesepian selama bertahun-tahun.


Sudah tidak punya orang tua lagi, bahkan Sofia pernah di per kosa oleh Ayah dan Kakak tirinya. Hingga Sofia yang saat itu berusia 19 tahun mengalami depresi. Dia kemudian melarikan diri ke kota besar, hidup sebatang kara dan tidak berani berteman dengan laki-laki. Susah dia menyembuhkan luka psikis dan traumanya.


Di saat dia bertemu Andrew, pria matang yang dewasa dan penyayang, Sofia merasa menemukan sosok Ayah kandungnya dalam diri Andrew.


"Kamu masih sangat muda, apa sulit mencari laki-laki muda yang masih single.?" Tanya Amira dengan nada sindiran penuh penekanan.


"Kamu pikir bisa selamanya menikmati kemewahan harta suami saya." Amira menatap jijik ke arah Sofia. Sebenarnya dia bisa saja berkata kasar pada wanita yang sudah menggoda suaminya, tapi Amira tak mau gegabah. Dia berusaha bersikap elegan menghadapi Sofia.


"Maaf mba, saya buatkan minum dulu." Sofia memilih berlalu. Bukan untuk menghindari perkataan Amira, tapi untuk menumpahkan air mata yang sudah tidak bisa di bendung lagi.


Ketakutan selamanya ini akhirnya terjadi juga. Dia memang sudah membayangkan hal seperti ini akan terjadi.


Sofia kembali dengan membawa teh hangat setelah menumpahkan air mata kesedihan yang sudah lama tidak membasahi pipinya. Sejak bertemu dengan Andrew, baru kali ini Sofia di landa kesedihan sampai kesulitan membendung air matanya. Karna selama ini Andrew selalu memberikan kebahagiaan untuknya.


Amira sudah duduk di sofa ruang tamu dengan menyilangkan kaki. Kesabarannya benar-benar sedang di uji di hadapan wanita perusak rumah tangganya. Jika mengikuti amarah dan sakit hati, mungkin wajah Sofia sudah memar terkena tamparan darinya.


”Sudah berapa lama kamu dan suami saya berbuat gila.?" Tanya Amira sinis. Dia juga menekankan 2 kata terakhir untuk menyadarkan Sofia bahwa perbuatan mereka keliru dan pantas di sebut gila.


Sofia menundukkan wajah, tak berani melihat mata Amira yang menatapnya dengan tatapan jijik. Tatapan mata seperti itu mengingatkan Sofia pada tatapan mantan kekasihnya setelah tahu dirinya sudah tidak suci lagi karna mendapat pelecehan dari Kakak dan Ayah tirinya.


Selain tak mau menatap Amira, Sofia juga tidak berani melawan Amira karna mengakui bahwa dirinya memang bersalah.


"Saya minta maaf Mba,," Lirih Sofia dengan suara tercekat.


Amira tersenyum kecut, semudah itu Sofia mengatakan maaf setelah merusak keharmonisan rumah tangganya.


"Kamu harus tau satu hal, Andrew akan kehilangan semua asetnya karna sudah melanggar perjanjian pernikahan."


"Kerja kerasnya selama belasan tahun akan sia-sia karna bertemu dengan wanita tak tau diri sepertimu." Tutur Amira geram.