Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 47



"Ge kamu dimana.? Kamar kos kamu nggak pindah kan.? Kenapa ada orang lain disini.?" Arumi langsung mencecar Gea dengan beberapa pertanyaan setelah sambungan telfonnya terhubung.


Arumi yang baru saja pergi ke kantor Agam, memutuskan untuk datang ke kosan Gea sebelum pulang ke rumah. Arumi tidak bertanya pada Gea lebih dulu karna berfikir sahabatnya itu pasti ada di sana. Tapi begitu mengetuk kamar kos Gea, bukan sahabatnya itu yang membukakan pintu, melainkan orang lain.


Sementara itu, di seberang sana Gea tampak panik mendapatkan banyak pertanyaan dari Arumi. Dia mematikan kompor lebih dulu agar makanan yang sedang dia masak tidak hangus.


"Ar,, sebenarnya aku,,," Gea terdiam lantaran ragu untuk menceritakan kebenarannya pada Arumi. Dia belum siap untuk menerima tanggapan Arumi atas keputusan salah yang sudah dia pilih.


Gea mengakui dirinya sudah salah mengambil keputusan, walaupun tidak ada pilihan lain yang bisa dia ambil tanpa harus menyusahkan orang lain. Jika menceritakannya pada Arumi, pasti Arumi akan membantunya agar tidak terjerat pada permainan Glen. Itu sebabnya Gea memilih menerima tawaran Glen agar tidak menyusahkan Arumi.


"Kamu kenapa Ge.? Kamu baik-baik saja kan.?" Nada bicara Arumi sudah terdengar panik.


"Maaf, aku belum bisa cerita sekarang Ar." Jawab Gea yang sebenar enggan menyembunyikan sesuatu dari Arumi.


"Kamu masih ingat ucapanku tadi siang kan.? Aku janji akan cerita semuanya, tapi nggak sekarang." Tuturnya. Terdengar helaan nafas berat di seberang sana dan Arumi mengiyakan.


"Jangan sungkan hubungi aku kalau butuh sesuatu." Ujar Arumi tulus.


"Tentu saja. Makasih banyak Ar. Maaf aku harus menutup telfonnya." Gea langsung memutuskan sambungan telfonnya setelah mendapat respon dari Arumi. Dia lalu melanjutkan memasak untuk makan malamnya dan juga Glen.


"Om tua itu benar-benar menjengkelkan,," Gea menggerutu seraya menghidupkan kembali kompornya.


Ada beberapa menu yang di minta oleh Glen untuk makan malam, dan 2 di antara sangat sulit bagi Gea yang memang tidak begitu mahir dalam memasak.


Membuka kembali aplikasi you tube, Gea melihat resep dan cara memasak lewat vidio di sana.


Hampir 2 jam berkutat di dapur, Gea akhirnya berhasil memasak semua menu yang di minta oleh Glen. Dia lantas menatanya di atas meja makan dan bergegas ke kamarnya untuk mandi.


Glen masuk ke apartemen tak lama setelah Gea menutup pintu kamarnya. Pria yang sibuk dengan pekerjaan tak jelas itu memasuki hunian mewahnya sembari mengedarkan pandangan ke semua sudut apartemen yang tampak lebih rapi dari sebelumnya.


Sudut bibir Glen terangkat, dia mengulas senyum smirk karna merasa di untungkan dengan adanya Gea di apartemennya. Terlebih Glen bisa meniduri Gea kapanpun dia mau, dan akan berlangsung selama 5 bulan ke depan.


Meski harus mengeluarkan uang ratusan juta untuk membeli jam miliknya yang telah di jual oleh Gea, tapi sebanding dengan apa yang bisa dia dapatkan dari Gea.


5 bulan menjadikan Gea sebagai pe muasnya, tentu tidak akan rugi dengan hanya mengeluarkan uang 250 juta. Karna biasanya Glen akan menyewa wanita malam dengan harga 10 juta untuk semalam saja.


Glen secara tidak langsung sudah membodohi Gea. Menahannya di apartemen selama 5 bulan, sudah pasti Glen bisa melakukannya sesering mungkin tanpa harus mengeluarkan uang lagi.


"Kemana gadis itu." Glen menatap meja makan yang sudah penuh dengan hidangan makan malam, tapi tidak melihat keberadaan Gea sejak masuk ke apartemen.


Mendadak senyum di bibir Glen mengembang. Kedua manik matanya langsung melirik pintu kamar Gea yang tertutup.


"Ada hidangan pembuka sebelum makan malam." Gumamnya seraya mengukir senyum mesum. Dia lantas buru-buru masuk ke kamar Gea tanpa mengetuknya lebih dulu. Suara gemercik air dari kamar mandi membuat pikiran Glen semakin berkelana. Dia membayangkan tubuh seksi Gea dalam keadaan polos di bawah guyuran shower.


Glen mendekat ke arah kamar mandi, dengan perlahan dia memegang handle pintu dan membukanya.


Tubuh polos Gea langsung terlihat saat pintu terbuka. Glen langsung menelan saliva melihat gerakan tangan Gea yang sedang mengusapkan spons mandi di kedua benda kenyalnya.


Ukurannya cukup besar untuk remaja 18 tahun itu.


"Butuh bantuan.?" Suara Glen sontak membuat Gea terbelalak. Dia reflek menutupi dua benda sensitifnya menggunakan tangan.


"Om.!! Kenapa masuk.?" Gea melangkah mundur lantaran Glen berjalan mendekat.


"Aku pikir kamu sengaja tidak kunci pintu agar aku bisa masuk." Jawab Glen santai. Tangannya mulai melepaskan kancing kemejanya sendiri.


Hal itu membuat Gea semakin gusar karna alarm bahaya sudah berbunyi. Glen pasti akan meminta jatah lagi padanya. Pria itu seolah tidak pernah puas mencicipi tubuhnya.


"Jangan di tutup,," Glen menyingkirkan kedua tangan Gea hingga kedua benda itu terlihat seluruhnya.


"Tapi Om,,,"


"Kamu sangat seksi dan menggoda." Bisik Glen tepat di telinga Gea. Pujian itu seketika membuat Gea mengulum senyum dan merasa percaya diri. Dia juga tidak berkutik saat tangan Glen menangkup bukit kenyalnya.


Siapa yang tidak melayang mendapatkan pujian dari pria tampan dan seorang casanova itu.


Meski sadar dia salah dan di manfaatkan oleh Glen, tapi Gea juga tidak bisa menyangkal kalau sebenarnya dia menikmati apa yang di lakukan oleh Glen atas tubuhnya.


"Omm,, Eughh,," De sa han tertahan keluar dari bibir Gea saat jemari Glen menyusup ke dalam area intinya.


"Kamu menyukainya.?" Tanya Glen, dia sengaja mempercepat gerakan tangannya di bawah sana dan membuat tubuh Gea semakin menegang.


Gea menganggukan kepala sebagai jawaban. Pikirannya sudah melayang entah kemana. Glen terus memberikan rangsangan di setiap titik sensitifnya dan membuatnya terus mengeluarkan de sa han.


Tubuh Gea semakin menegang, tak lama dia mengerang panjang seraya mencengram kuat lengan Glen hingga meninggalkan bekas merah.


Gadis itu baru saja mendapatkan pelepasan hanya dengan ulah jemari Glen yang begitu lihai.


Glen tersenyum puas melihat bagaimana raut wajah Gea ketika sedang mendapatkan pelepasan. Hal itu tentu membuatnya semakin terangsang.


Dalam keadaan tubuh yang masih lemas, Glen menggiring Gea ke arah closet. Pria itu duduk di atas closet dan mengarahkan Gea untuk duduk di pangkuannya. Gea hanya pasrah saat Glen mengarahkan benda tegak itu ke dalam tubuhnya.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan sakit sekaligus nikmat saat benda besar itu mulai melesak kedalam.


"Kamu sangat sempit." Racau Glen dengan kedua tangan me re mas kuat beda kenyal Gea dari belakang.


Gea tampak bersemangat mendengarnya, dia lantas menggerakkan tubuhnya di atas pangkuan Glen.


Suara khas percintaan itu menggema di dalam kamar mandi, di iringi dengan de sa han yang bersautan. Keduanya sama-sama mengejar kenikmatan.