Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 43



Tidak cukup sekali. Gea pikir dia akan di ijinkan istirahat di kamarnya setelah melakukan percintaan panas di meja makan. Glen seolah tidak puas, dia menggendong tubuh polos Gea dan membawanya ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar pribadinya.


Keduanya berdiri di bawah shower. Glen menyalakan shower dengan air hangat untuk mengguyur tubuhnya dan Gea.


"Berbalik." Titah Glen seraya mengarahkan tubuh Gea untuk membelakanginya. Dia juga mengarahkan kedua tangan Gea untuk bertumpu pada dinding kamar mandi yang berlapis marmer putih.


Gea yang sudah paham, langsung memposisikan dirinya.


"Pelan-pelan Om." Pintanya lirih. Tenaganya sudah terkuras di permainan pertama, Gea berharap Glen akan lebih santai agar dia bisa mengimbangi permainannya.


Glen hanya berdehem, lalu langsung mengarahkan benda untuk di dorong perlahan agar tenggelam seluruhnya.


Tidak bisa di pungkiri, milik Gea masih sangat sempit meski Glen tau remaja itu sudah tidak pe ra wan lagi.


Dari banyaknya wanita yang pernah menghabiskan malam dengannya, Gea yang paling memberikan sensasi nikmat berbeda. Membuat Glen tak mau jika hanya melakukannya sekali.


"Berapa banyak laki-laki yang sudah memasukimu, hemm.?" Tanya Glen di sela-sela gerakannya yang semakin cepat. Kedua tangannya me re mas dan memainkan bongkahan kenyal yang menggantung dan bergerak liar.


"Om yang kedua." Jawab Gea. Dia kemudian kembali men de sah. Hentakan Glen membuatnya kehilangan akal sehat.


Glen menyeringai tak percaya. Seorang Gea yang dia kenal karna menjual tu buhnya, sulit di percaya kalau dirinya laki-laki kedua yang pernah menyentuhnya.


"Kamu pikir aku aku percaya." Ujar Glen tanpa memperlambat gerakannya. Suara percintaan yang khas itu bahkan menggema di dalam kamar mandi.


"Untuk apa aku bohong. Bukankah Om bisa merasakannya sendiri." Jawabnya dengan nafas yang tersenggal.


"Kamu lupa kalau pernah menjual diri.?" Tanya Glen. Untuk ukuran wanita yang menjual diri, harus sudah banyak laki-laki yang memakainya.


"Mana mungkin aku lupa. Om adalah pelanggan pertamaku." Pengakuan Gea sempat membuat Glen menghentikan gerakannya. Sulit di percaya kalau dia pelanggan pertama.


"Setelah itu aku belum berhubungan dengan pria manapun lagi." Gea lalu bergerak lantaran Glen terdiam.


"Kamu pandai menipu." Kata Glen dan kembali menghentakkan tubuhnya lebih cepat.


"Terserah kalau Om nggak percaya." Jawab Gea acuh. Dia enggan memperpanjang perdebatan yang menurutnya tidak penting itu.


Lagipula pilihan untuk menjual diri juga salah satu keputusan terberatnya. Membahas hal itu hanya akan membuatnya menyesal karna akhirnya terjebak dalam dekapan Glen.


Glen terus memacu Gea, sesekali menyentak kasar hingga membuat Gea mengerang nikmat sekaligus sakit. Namun reaksi itu justru membuat Glen semakin bersemangat.


Dibawah guyuran shower, keduanya terus bergerak liar untuk mengejar kenikmatan yang semakin menjalar ke seluruh tubuh.


De Sa han dan erangan saling bersautan dan menggema di dalam kamar mandi.


Dua sejoli itu sama-sama menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Gea juga tidak mau menampik kenikmatannya luar biasa yang di berikan oleh Glen padanya.


"Om,, aku mau sampai,," Suara Gea tersenggal. Sebelah tangannya meremas kuat tangan Glen yang sedang menangkup daging kenyal miliknya.


"Tahan sebentar lagi." Titah Glen dan pria itu mempercepat gerakannya.


Beberapa saat kemudian, tubuh keduanya tampak menegang. Erangan panjang mereka mengakhiri permainan yang sudah berjalan lebih dari 30 menit itu.


Tubuh Gea merosot. Kedua lututnya terasa lemas hingga tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya.


"Setelah ini aku boleh tidur kan.?" Tanya Gea di sisa-sisa tenaganya yang terkuras habis.


"Hmm,, cepat bersihkan dirimu." Titah Glen. Dia juga membersihkan dirinya dari sisa-sisa cairan di bawah guyuran shower.


...******...


Pagi itu Gea bangun lebih awal untuk membuatkan sarapan. Rupanya selain di manfaatkan untuk memu-askan hasratnya, Glen juga memanfaatkan Gea layaknya seorang asisten rumah tangga yang harus menyiapkan semua keperluan pria dewasa itu. Termasuk memasak dan membersihkan apartemen.


"Pegang kartu ini." Glen menyodorkan kartu ATM pada Gea di atas meja makan.


"Pinnya akan aku kirimkan ke ponselmu."


"Itu untuk belanja kebutuhan makanan kita selama kamu tinggal di sini. Ingat, hanya untuk kebutuhan makan kita. Jangan coba-coba memakainya untuk keperluan pribadimu.!" Tegasnya dan membuat Gea mencebik kesal.


"Perhitungan sekali." Celetuknya seraya mengambil kartu ATM itu.


"Perhitungan kamu bilang.?" Gerutu Glen tak terima.


"Uangku bahkan ada di kamu 190 juta.!" Ucapnya penuh penekanan agar Gea mengingatnya.


"Tapi Om menahan ku selama 5 bulan ke depan." Protes Gea yang juga tak mau kalah.


"Jadi kamu lebih untuk memilih di tahan di penjara.?" Tantang Glen.


"Baik kalau begitu, aku akan,,"


"Jangan.!!" Seru Gea memohon. Gadis itu akhirnya meminta maaf pada Glen dan memintanya agar tidak melaporkan ke polisi.


...*****...


"Om,, kamu harus tanggung jawab.!" Arumi mencebikkan bibirnya sembari menempelkan ponselnya di telinga. Dia sedang menelfon Agam selepas sarapan.


"Aku belum pernah menghamilimu, untuk apa aku harus tanggung jawab.?" Jawab Agam datar. Bibir Arumi makin mencebik. Pria itu memang selalu menyebalkan jika di ajak bicara.


"Om, da -da ku jadi merah-merah. Ini pasti karna minyak baru yang Om oleskan kemarin.!!" Arumi menggerutu kesal.


Tadi pagi saat akan mandi, dia di buat panik lantaran dua daging kenyalnya terdapat ruam merah cukup banyak. Beberapa di antaranya memang ruam buatan karna ulah bibir Agam. Tapi sisanya seperti ruam merah alergi.


"Jangan bercanda. Itu minyak mahal. Lebih mahal dari minyak sebelumnya." Jelas Agam masih dengan nada bicaranya yang datar.


"Om pikir aku bohong.?!" Arumi merengek geram.


"Mana aku tau kamu bohong atau nggak. Coba kamu kirimkan fotonya. Atau ganti dengan panggilan vidio." Perintahnya dengan enteng.


"Apa Om sudah gila. Aku sedang berada di mobil dan sebentar lagi harus berangkat ke kampus." Arumi menolak mentah-mentah. Dia tidak mau kedua orang tua ataupun pekerja di rumahnya ada yang melihatnya membuka baju di dalam mobil.


"Arumi, kamu pasti cukup pintar bukan.?" Nada bicara Agam terdengar mengejek.


"Kamu bisa masuk lagi ke dalam rumahmu, pergi ke kamar, kunci pintu dan foto bagian da -damu itu." Agam mengucapkan kata demi kata dengan intonasi yang lambat. Pria itu seperti sedang mengajari anak balita.


"Aku nggak mau. Nanti siang saja Om lihat sendiri." Ujarnya yang kembali menolak permintaan Agam.


"Ckk.! Bilang saja kamu minta di pijit lagi." Ledek Agam.


"Om.!! Kamu benar-benar sangat menyebalkan.!" Rengek Arumi dan langsung memutuskan sambungan telfonnya.


Bukannya tidak mau mengirimkan foto, Arumi hanya takut mengabadikan tubuh bagian intimnya menggunakan ponsel. Dia ingin menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.