
Gea sedikit khawatir ketika jemari Ricko menggandeng tangannya dan beriringan memasuki ballroom. Beberapa kali Gea menarik nafas dalam untuk mengurangi kekhawatirannya. Dia siap mendapat hukuman dari Glen jika pria itu marah melihatnya datang bersama Ricko. Bahkan Gea berharap Glen akan menunjukkan kemarahannya di depan Adeline agar wanita itu mencurigai sesuatu di antara dia dan Glen.
"Tanganmu dingin sekali. Kamu sakit.?" Ricko menatap intens wajah. Tidak tau kapan tepatnya tangan Gea berubah dingin. Padahal saat pertama kali menggandeng tangannya, suhu tubuh Gea masih normal.
Gea menggeleng cepat seraya mengukir senyum tipis, ingin menunjukkan pada Ricko kalau dia baik-baik saja.
"Sepertinya gaunku yang terlalu terbuka, ballroomnya cukup dingin." Gea tersenyum kaku karna baru saja berbohong. Gugup dan cemas membuat suhu tubuh Gea berubah dingin. Sejujurnya dia ragu melakukan rencana ini, atau lebih tepatnya tidak tau akan seperti apa hasilnya untuk kelanjutan hubungannya dengan Glen. Tapi setidaknya sudah mencoba untuk membuat kekacauan di acara pertunangan Adeline.
"Pakai jas ku saja,," Ricko hampir melepaskan jas miliknya sebelum akhirnya berhasil di cegah oleh Gea.
"Nggak perlu Kak, nanti juga terbiasa dengan suhu ruangan disini." Tolak Gea.
Ricko mengangguk paham, dia kembali menggandeng Gea dan mengajaknya duduk di salah satu meja yang masih kosong.
Acara sudah di mulai. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Gea bisa melihat pria tampan yang hampir setiap hari menggagahinya. Berbalut setelan jas warna navy dan potongan rambut yang rapi, Glen terlihat jauh lebih gagah dari biasanya.
Di sebelah Glen ada Adeline yang duduk manis dengan balutan gaun elegan dan mahal warna putih.
Rona bahagia di wajah Adeline mampu membakar hati Gea. Entah karna cemburu, atau karna rasa dendamnya pada adik Adeline.
Mengingat Sean membuat Gea reflek mengedarkan pandangan. Gea baru sadar sejak tadi dia belum melihat keberadaan Sean.
"Sean, bagaimana jika aku menghancurkan mimpi indah Kakak mu,," Gumam Gea dalam hati. Tatapan tajam di arahkan pada Adeline seraya tersenyum penuh arti.
Tidak peduli meski Adeline tak bersalah. Yang terpenting masih berkaitan erat dengan kehancuran Sean.
Acara sudah berjalan hampir 30 menit. Tapi sampai saat ini Glen tidak menyadari keberadaan Gea di antara para tamu yang memenuhi ballroom.
"Sayang,, aku sangat gugup." Adeline menggenggam tangan Glen. Mata wanita itu berbinar meski mengaku gugup. Impiannya untuk menikah dengan Glen hampir terwujud.
"Ada aku, tenang saja." Glen mengusap punggung tangan Gea menggunakan satu tangannya lagi.
Di tatapnya intens wajah cantik Adeline yang sebenar lagi akan menjadi tunangannya. Kalau bukan karna wasiat orang tuanya, Glen lebih memilih untuk tidak buru-buru terikat hubungan dengan wanita.
Tapi beberapa minggu terakhir kedekatan dia dan Adeline semakin intens. Kecantikan dan kepribadian Adeline sedikit mengubah cara pandang Glen. Dia mencoba membiasakan diri untuk terikat hubungan dengan wanita cantik itu.
Terlebih Adeline tidak seperti kebanyakan wanita yang dia kenal di luar sana. Gadis itu menolak untuk di sentuh sebelum resmi menikah.
Mengetahui akan menjadi pria pertama bagi Adeline, tentu ada kebanggaan tersendiri dalam diri sang casanova yang sudah menjelajahi banyak lembah.
"Baby,, are you okay.?" Glen menyentuh lembut sebelah pipi Gea karna wanita itu malah melamun dengan tatapan menerawang. Seperti ada hal besar yang sedang menganggu pikirannya.
"Aku harap acaranya berjalan lancar. Tiba-tiba saja aku merasa takut." Genggaman tangan Adeline semakin erat. Glen bisa merasakan tangan putih itu terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Saat itu juga kedua mendapat arahan dari MC untuk berdiri di atas panggung.
Glen berdiri lebih dulu dan menggandeng tangan Adeline. Pria itu membawa calon tunangannya naik ke atas panggung.
Semua mata tertuju pada pasangan yang terlihat sangat serasi itu. Kecuali Gea, dia hanya menatap sekilas dan memilih mengalihkan pandangan karna sesuatu yang tidak nyaman mengusik hatinya.
Gea mungkin benar-benar jatuh hati pada Glen, dia sebenarnya cemburu, namun berusaha untuk menyangkalnya. Bersembunyi di balik kata dendam, tapi sebenarnya sangat menginginkan Glen.
"Mau kemana.?" Tanyanya menatap intens.
"Ke toilet Kak,," Gea ingin menghindari sesi bertukar cincin. Hatinya mungkin tidak akan sanggup.
"Biar aku antar." Ricko sudah berdiri dari duduknya, tapi Gea menolak dan ingin pergi sendiri.
Ricko tidak memaksa meski sebenarnya penasaran. Sejak tadi dia memang merasa kalau Gea menahan sesuatu yang bergejolak di hatinya karna menghadiri acara pertunangan Glen.
Mengingat hubungan Glen dan Gea yang sudah sangat jauh, bahkan sampai nekat bercinta di toilet hotel, gadis yang memiliki ketulusan hati seperti Gea sudah pasti menyimpan rasa untuk Glen.
...******...
Di apartemen,,
Agam membawa Arumi ke kamar selesai percintaan panas mereka di ruang kerja. Keduanya sudah memakai kembali baju mereka meski Agam tidak mengancing kemejanya dan membiarkan dada serta otot-otot di perutnya terekspos.
Dia kemudian membaringkan tubuh Arumi di ranjang.
Arumi sempat melirik jam yang baru menunjukkan pukul setengah 8 malam. Harusnya mereka sudah sampai di hotel setengah jam yang lalu jika dia tidak membuat ulah pada Agam.
"Sayang, sepertinya belum terlambat kalau kita datang ke pertunangan Om Glen." Tutur Arumi seraya menahan dada bidang suaminya karna terlihat ingin menindihnya.
Agam berhenti sejenak untuk melihat arloji di tangannya. Acara baru di mulai 30 menit yang lalu, sebenarnya tidak masalah kalau mereka datang terlambat selagi acaranya masih berlangsung.
Sayangnya Agam sudah tidak minat lagi menghadiri pertunangan Glen. Karna wanita cantik di bawah kungkungannya terus membakar gairah, mengundangnya untuk mengulangi kegiatan panas bertukar peluh dan cairan.
"Aku sudah tidak tertarik datang ke acara Glen. Kamu terlalu menggoda untuk di lewatkan." Bisik Agam dan langsung memberikan serangan mendadak di leher putih Arumi.
"Uuhhh,,, Sayang,,," Arumi melenguh panjang, tubuhnya melengkung akibat ulah bibir Agam di ceruk lehernya. Agam sedang membuat tanda kepemilikan di sana. Tak puas meninggalkan satu jejak di leher jenjang istrinya, Agam membuat lagi di sisi yang lain hingga menciptakan beberapa tanda merah di sana.
Arumi sepertinya tidak sadar kalau di lehernya sudah penuh tanda cinta Agam. Dia sedang fokus menikmati sentuhan jemari Agam di bawah sana yang membuatnya hampir mencapai pelepas lagi.
Tapi tiba-tiba Agam menyingkirkan tangannya dari bawah sana dan memposisikan dirinya setelah melepaskan kain yang melekat di tubuhnya.
Arumi tersentak, teriakannya bercampur rasa nikmat kala Agam mengobrak-abrik intinya dengan gerakan memabukkan. Kehebatannya tidak perlu di ragukan lagi.
Arumi di buat tidak berdaya di bawah kendali Agam. Beberapa kali Agam mengubah posisi, kini dia meminta Arumi yang bekerja.
Selagi wanita cantik itu bergerak teratur di atas, Agam membelai pipi dan mengusap bibir Arumi. Tatapannya begitu dalam dan menghanyutkan.
Agam memasukkan satu jarinya ke dalam mulut Arumi, sedangkan ibu jarinya mengusap bibir Arumi yang basar.
"Lebih cepat sayang,," Pinta Agam. Arumi langsung mempercepat gerakan.
"Aah, ya seperti itu baby, kamu sangat nik mat,," Racau Agam yang sudah menggila karna hampir mencapai puncak.
Keduanya larut dalam percintaan panas yang memabukkan.