Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 58



"Apa untungnya aku bohong padamu.!" Livia menyangkal, meski pada kenyataannya dia akan di untungkan jika Arumi percaya dengan penjelasannya dan berfikir Agam telah berbohong.


"Mana aku tau. Cuma Kak Livia yang tau keuntungannya jika aku lebih percaya penjelasan versi Kakak di banding Kak Agam." Jawab Arumi dengan santainya. Nada bicaranya bahkan terkesan mengejek, tentu saja untuk memancing amarah Livia. Dia akan menunjukkan pada Agam bagaimana sifat Livia yang sebenarnya.


Setelah rekaman suara itu di kirimkan pada Agam, Arumi yakin Agam akan memberikan perhitungan pada wanita serigala berbulu domba itu.


"Kamu pasti tau selama 2 hari ini Agam pergi." Ucapnya. Meski terlihat tenang, tapi amarah dan kebencian terlihat jelas dari sorot mata Livia pada Arumi.


"Ya, aku tau Kak Agam ke luar kota karna urusan pekerjaan. Kemarin malam dia pulang hanya untuk menemui ku dan memberiku kejutan." Jelas Arumi. Dia masih menerka-nerka cerita palsu apa yang akan Livia katakan untuk mengacaukan hubungan dia dengan Agam. Dari gelagat dan perkataan Livia, sudah jelas wanita itu ingin memanipulasi cerita.


"Jadi Agam bilang begitu.?" Tanyanya seraya mengulas senyuman yang terkesan mengejek. Seolah menganggap kalau pengakuan Agam adalah sebuah kebohongan.


"Padahal dua hari terakhir aku dan Agam pergi bersama untuk berlibur." Tuturnya penuh percaya diri. Livia mungkin beranggapan jika Arumi akan dengan mudah percaya ucapannya. Itu sebabnya Livia bicara lantang tanpa keraguan sedikitpun di depan Arumi yang menurutnya masih seperti anak kecil.


"Kamu tau Arumi.? Kami sedang mengenang masa-masa indah saat masih pacaran." Ujarnya lagi.


Arumi memilih mendengarkan sampai Livia puas mengarang cerita. Meski sebenarnya ada kekhawatiran dalam diri Arumi, khawatir jika semua pengakuan Livia adalah kebenaran.


”Kami berdua dulu saling mencintai. Agam laki-laki terbaik yang pernah aku temui. Bahkan sampai detik ini dia masih sama seperti dulu." Mata Livia berbinar, senyumnya terus merekah.


Dia terlihat sangat bangga menceritakan kisah masa lalunya bersama Agam.


Berbeda dengan Arumi, dia malah semakin muak mendengar penuturan Livia yang di pastikan 99 % merupakan cerita palsu.


Arumi menahan diri untuk tidak menyangkal pengakuan Livia. Arumi berencana akan pura-pura percaya pada Livia agar wanita itu merasa puas karna berhasil menciptakan keributan.


"Jadi Kak Agam membohongiku.?" Tanya Arumi. Dia membuat ekspresi wajahnya terlihat sangat menyedihkan untuk membahagiakan Livia.


"Yang jelas aku berkata jujur. Kami berdua memang pergi bersama 2 hari terakhir." Ujar Livia. Senyumnya semakin merekah, mungkin merasa puas karna melihat ekspresi sedih Arumi.


Arumi mengakhiri rekaman suaranya. Dia merasa sudah mendapatkan bukti yang cukup untuk di tunjukkan pada Agam.


Setelah ini Arumi yakin Agam akan meluapkan amarahnya pada Livia karna berani menuduhnya berbohong.


"Kak Agam benar-benar tega.! Bisa-bisanya dia bohong padaku. Aku akan buat perhitungan padanya.!" Seru Arumi yang pura-pura serius.


"Dia pikir aku akan diam saja di perlakuan seperti ini.!"


"Aku bisa menyuruh Papa ku untuk menghancurkan orang-orang yang berani membohongiku.!" Arumi bicara penuh penekanan.


Dia sengaja ingin membuat Livia ketakutan. Dan sepertinya berhasil, terbukti wajah Livia berubah sedikit pucat.


Livia tiba-tiba pamit dengan alasan masih ada urusan di luar. Arumi seketika terkekeh begitu Livia meninggalkan cafe. Nyali wanita itu langsung menciut mendengar ancaman Arumi.


"Ya ampun, dia langsung ketakutan." Seloroh Aileen seraya menghampiri Arumi dan duduk di depannya. Begitu juga dengan Gea dan Sena.


Mereka cukup geram dengan ulah Livia, bahkan Aileen nyaris melabrak Livia saat wanita itu sengaja memanas-manasi Livia dengan cerita palsu. Untung saja ada Gea dan Sena yang menahannya.


"Dasar pembohong, tampangnya aja sok baik kaya ibu peri. Padahal hatinya busuk." Gerutu Sena yang tak kalah geram pada Livia. Arumi dan Gea terkekeh mendengar celotehan lucu Sena.


"Aku tadi merekam percakapannya. Aku ingin lihat bagaimana reaksi Om Agam kalau tau wanita sok baik itu ternyata bermuka dua." Ujar Arumi tak sabar. Dia yakin Agam juga akan terkejut seperti dirinya setelah mengetahui sifat asli Livia.


"Orang seperti itu membahayakan dan perlu di waspadai." Kata Gea tak habis pikir. Dia juga kaget mendengar Livia sengaja memanas-manasi Arumi. Tujuannya tentu saja agar Arumi dan Agam bertengkar.


"Kamu benar Ge. Aku pikir dia wanita baik-baik." Kata Arumi. Beberapa kali bertemu dengan Livia, wanita itu selalu berbicara lembut dan sangat dewasa. Tapi hari ini Livia datang untuk menunjukkan wajah aslinya.


...******...


Agam sudah kembali dari Batam pukul 10 malam. Arumi yang mendapatkan kabar singkat dari Agam, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia terus mengulum senyum ketika bertukar pesan dengan Agam hingga pukul 11 malam.


Mungkin hal seperti itu di anggap sepele bagi pasangan lain di luar sana, tapi tidak bagi Arumi.


Karna ini pertama kalinya Agam memberikan kabar padanya tanpa harus di tanya lebih dulu.


"Nanti siang aku ke kantor Om."


"Kita makan siang di luar ya Om.?"


Itu pesan terakhir yang di kirimkan oleh Arumi pada Agam. Dan pria itu langsung menyetujuinya dengan balasan singkat. Tapi hal itu tak membuat kebahagiaan Arumi berkurang. Setidaknya Agam tidak menolak saat di ajak makan siang berdua.


...******...


"Sorry ya, bukannya aku nggak mau makan bareng kalian. Aku udah janji makan bareng Om Agam dan sekalian mau tunjukin rekamannya nenek gayung." Kata Arumi seraya mengangkat ponsel di tangannya. Dia sudah tidak sabar memutar rekaman itu di depan Agam dan melihat reaksinya. Saking kesalnya pada Livia, Arumi sampai memberinya julukan nenek gayung pada wanita cantik itu.


"Oke, nggak masalah Ar. Lebih cepat lebih baik, tunjukin rekaman itu." Kata Gea. Aileen dan Sena mengangguk setuju. Mereka bahkan berharap Agam akan memberikan pelajaran pada Livia setelah tau kebusukannya.


Arumi kemudian pamit dan lebih dulu meninggalkan kampus. Dia melajukan mobilnya menuju kantor Agam.


Sampainya di sana, Arumi bergegas naik ke ruangan Agam. Di sana dia berpapasan dengan Edwin. Asisten pribadi Agam itu menyapa Arumi, tapi Arumi malah menundukkan pandangan lantaran malu padanya.


"Apa Om Agam ada di dalam.?" Arumi bertanya tanpa menata mata Edwin.


"Ada, tapi sedang ada tamu." Kata Edwin dengan ekspresi dan gelagat yang aneh. Seketika Arumi bisa menebak siapa tamu yang di maksud oleh Edwin.


Kemarin Livia bilang akan datang ke kantor Agam. Wanita itu pasti tidak main-main dengan ucapannya. Terlebih Arumi bisa merasakan jika Livia terlihat sangat terobsesi untuk bisa kembali dengan Agam lagi.


Tanpa pikir panjang, Arumi langsung masuk ke dalam ruangan Agam.