Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 62



"Tadi ada yang telfon." Suara Gea membuyarkan lamunan Glen. Pria yang sejak tadi memaku di tempat, kini berjalan ke arah nakas dan mengambil ponselnya untuk mengecek panggilan masuk, walaupun ponselnya sudah tidak berdering lagi.


Glen tampak mengetik sesuatu di ponselnya sebelum meletakkan kembali ponsel itu di tempat semula.


Dia baru saja mengirimkan pesan pada kekasihnya, lalu sengaja mematikan ponselnya agar nantinya tidak ada panggilan masuk lagi. Pria itu enggan mendapatkan gangguan karna ingin menghabiskan malam panas dengan Gea.


Glen tak menutup mata kalau perbuatannya akan sangat menyakiti hati kekasihnya jika mengetahui semuanya. Kekasihnya itu pasti akan menganggapnya berselingkuh meski sebenarnya dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Gea. Glen hanya mencoba mengambil keuntungan atas perbuatan Gea yang sudah mencuri jamnya, tanpa berniat mengkhianati kekasihnya.


Bahkan jika Glen di minta untuk memilih antara Gea dan kekasihnya, tentu saja dia akan memilih kekasihnya. Terlebih wanita itu memiliki asal usul yang jelas, lahir dari keluarga baik-baik dan pandai menjaga diri. Sangat berbanding terbalik dengan Gea. Bahkan di usianya yang baru 18 tahun, Gea sudah kehilangan kesuciannya dan sempat menjual diri. Hal itu membuat Gea terlihat buruk di mata Glen.


"Om nggak capek.? Mau di pijat.?" Tawar Gea penuh perhatian. Terlihat sangat tulus sampai Glen tidak tau kalau Gea hanya pura-pura agar menarik perhatiannya.


"Badanku akan remuk kalau kamu salah pijat." Sahutnya dingin. Glen menolak secara tidak langsung. Dia meragukan kemampuan Gea dalam memijat. Pria itu tidak yakin Gea bisa memijat badannya dengan benar. Meski begitu, Gea sangat lihai memijat batang. Kemampuan Gea yang satu itu tidak perlu di ragukan lagi. Glen mengakui keterampilan tangan tangan Gea ketika memijat batangnya.


"Coba dulu saja. Aku sudah sering memijat Mama. Sampai sekarang Mama ku baik-baik saja." Tutur Gea untuk membujuk Glen agar mau di pijat.


Glen beberapa kali berusaha menolak, tapi Gea tidak berhenti begitu saja untuk terus membujuk Glen. Sampai akhirnya pria itu mengangguk Setuju dan Gea tersenyum senang dalam hati.


Dia lantas buru-buru ke kamarnya untuk mengambil body lotion miliknya dan segera kembali lagi ke kamar Glen.


Gea lantas menghampiri Glen di ranjang.


"Sini biar aku saja yang buka." Gea langsung mengambil alih gerakan tangan tangan Glen yang hampir melepaskan kancing kemejanya.


Glen awalnya tampak bingung dan hampir menepis tangan Gea, tapi mendadak berubah pasrah ketika jemari Gea menyentuh dadanya.


Dengan lihai, Gea membuka satu persatu kancing kemeja yang melekat di tubuh atletis Glen. Sesekali menatap lekat wajah pria itu dan mengulum senyum manis yang menggoda.


"Om langsung tengkurap sana." Gea menginterupsi Glen setelah berhasil melepaskan kemejanya. Dia meminta Glen berbaring di ranjang dengan posisi tengkurap.


Biasanya Glen selalu memberikan interupsi dan memaksa Gea untuk berubah posisi ataupun melakukan apa Glen inginkan, tapi kali ini giliran Gea yang memegang kendali. Dan Glen langsung menurut tanpa protes sedikitpun.


Hanya berbalut celana pendek, Glen lantas tengkurap di atas ranjang sesuai perintah Gea.


"Jangan sampai badanku semakin pegal." Glen memberikan peringatan saat Gea baru menuangkan body lotion di punggung lebar Glen.


"Om tenang saja, aku jamin Om akan ketagihan di pijat." Jawabnya dan mulai menggerakkan tangan di atas punggung Glen. Gea lebih dulu memijat bagian bahu Glen, dia memijat pelan namun cukup membuat Glen menikmatinya. Pria itu bahkan sampai memejamkan mata karna pijatan Gea langsung membuat otot-ototnya menjadi rileks.


Baru 10 menit Gea memijat punggung Glen, agaknya pria itu sudah tidak bisa menahan diri. Burung di dalam sangkar sudah meronta sejak tadi, minta untuk keluar dan berpindah tempat.


Di tambah gerakan tangan Gea pada punggungnya, meski tujuan Gea memijat punggungnya, tapi Glen justru merasa sedang di goda oleh remaja itu. Gerakan tangan Gea hanya membuat kepala atas dan bawah berdenyut.


Dalam hitungan detik, Glen sudah berbalik badan. Pria itu merebahkan tubuh Gea, membuat Gea berbaring di bawah kungkungannya.


"Kamu lanjut lagi memijat ku setelah ber cinta. Batang ku sudah minta di pijat." Bisik Glen vul gar. Tak lupa memberikan gigitan kecil di kuping Gea.


Senyum di bibir Gea merekah, dia pasrah saja dengan perbuatan Glen padanya. Tangannya bahkan melingkar di leher Glen, menahan tubuh kekar itu agar tetap menempel padanya.


Percintaan keduanya semakin panas. Gea tidak lagi pasif seperti biasanya, dia berani berekspresi dan membuat kedudukan mereka sama.


Glen mungkin akan bertanya-tanya dengan perubahan sikap Gea. Tapi saat ini dia lebih fokus menikmati percintaan panasnya besama Gea.


...******...


Di kampus,,


Arumi memarkirkan mobilnya di parkiran kampus, dia lalu bergegas turun dari mobil untuk pergi ke kelasnya. Tapi baru beberapa langkah dari sana, tubuh Arumi terhuyung ke depan lantaran seseorang tidak sengaja menabraknya saat berlari.


beruntung ada orang yang dengan sigap menangkap tubuh Arumi sebelum gadis cantik itu terjatuh.


"Maaf,, nggak sengaja." Wanita itu pergi begitu saja setelah menabrak Arumi.


Sedangkan Arumi masih memaku dengan kedua tangan berpegangan pada bahu pria yang menolongnya. Laki-laki itu menahan tubuh Arumi, memegangi pinggang Arumi dengan kedua tangannya.


"Are you okay.?" Suara berat itu membuyarkan lamunan Arumi. Dia segera menyeimbangkan tubuhnya dan berdiri tegak, kemudian sedikit mundur untuk menjaga jarak.


"Makasih Kak,," Ucap Arumi.


Pria itu malah terkekeh kecil mendengar Arumi berterima kasih padanya. Membuat Arumi menatapnya heran.


"Apa saya semuda itu sampai kamu mengira saya senior disini.?" Tanyanya dengan menahan senyum. Wajah maskulinnya semakin berkharisma ketika tersenyum.


"Saya dosen baru disini." Jelasnya kemudian.


Arumi mendadak tersenyum kikuk menahan malu.


Dia malu lantaran mengira dosen itu adalah seniornya, bahkan memanggilku dosen itu dengan sebutan Kak.


"Ma,maaf Pak,, saya pikir,,,"


"Nggak masalah. Lain kali hati-hati." Potongnya cepat. Dosen yang masih terlihat sangat muda itu kemudian berlalu dari hadapan Arumi.


"Arumi,," Sena menyenggol Arumi dan gadis itu sedikit tersentak kaget.


"Kamu bikin kaget aja.!" Arumi balas menyenggol lengan Sena, sahabatnya itu hanya terkekeh kecil.


"Tadi siapa Ar.? Sumpah ganteng banget." Ujar Sena dengan tatapan mata mengarah pada dosen itu yang semakin menjauh.


"Nggak kenal, dia bilang katanya dosen baru disini." Jawab Arumi, seketika mata Sena berbinar senyumnya mengembang penuh arti.


"Ingat, kamu masih punya Marshel." Cibir Arumi mengingatkan. Bibir Sena mencebik kesal, dia harus menahan diri agar tidak tergoda dengan laki-laki lain karna masih memiliki kekasih.