Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 64



"Jawab Arumi.!" Sentak Agam. Nada bicaranya mulai sedikit meninggi.


"Apa kamu juga sama seperti teman-temanmu.? Sudah pernah tidur dengan laki-laki lain." Tuduhnya.


"Di antara mereka berdua, siapa yang sudah pernah menidurimu.?" Agam melirik foto-foto itu sekilas dan kembali menatap Arumi. Dia beranggapan jika salah satu di antara laki-laki itu sudah pernah melakukan hubungan terlarang dengan Arumi.


"Om.!!" Pekik Arumi, matanya berkaca-kaca dengan suara bergetar menahan tangis.


Perkataan Agam cukup membuat hatinya berdenyut nyeri. Di tuduh tidur dengan Zayn dan laki-laki yang bahkan baru pertama kali dia lihat tadi pagi, Arumi sampai tidak bisa berkata-kata.


"Jawab saja pertanyaan ku.!" Sentaknya lagi. Tanpa peduli meski raut wajah Arumi berubah sendu dan kecewa, Agam terus mendesak Arumi untuk mengakui hal yang tidak pernah dia lakukan.


"Om mau jawaban seperti apa.?! Aku bahkan nggak punya hubungan apa-apa sama mereka." Tegas Arumi. Dia berusaha menahan rasa sakit dan tangisnya di depan Agam.


"Dan pria ini.! Aku baru bertemu dengannya tadi pagi di kampus, namanya saja aku nggak tau." Tutur Arumi sembari menunjuk foto dosen baru itu.


"Jangan bohong kamu.! Aku juga sudah sering mendapat foto kamu dengan laki-laki ini.!" Agam mengambil foto Zayn yang tengah memegang tangan Arumi.


"Untuk apa aku bohong.?" Arumi menghela nafas berat. Dia tak habis pikir kenapa ada orang yang memotret dirinya dan mengirimkan semua foto-foto itu pada Agam. Entah siapa yang melakukannya, yang jelas orang itu pasti punya tujuan tertentu. Dia pasti ingin merusak hubungan Arumi dengan Agam.


"Ini pasti ulah wanita itu. Apa dia yang sudah mengirim foto-foto ini sama Om.?" Tanya Arumi sedikit emosi. Selama ini hanya Livia yang masih berusaha mendekati Agam. Jadi bukan tanpa alasan jika Arumi menaruh curiga pada wanita itu.


Livia pasti sengaja ingin menghasut Agam agar membenci Arumi.


"Jangan melempar kesalahan pada orang lain. Untuk apa Livia melakukan semua ini." Agam malah semakin menatap tajam Arumi. Dia malah semakin kecewa karna Arumi menuduh orang lain.


"Jadi Om lebih percaya foto-foto ini dan menganggap ku pernah tidur dengan salah satu dari mereka.?!"


"Bukan tanpa alasan aku mencurigai Livia, dia masih berharap Om kembali padanya. Kalau bukan dia yang mengambil foto-foto ini, lalu siapa lagi.?"


"Seseorang melakukan hal ini karna punya tujuan, jadi nggak mungkin kalau orang asing yang melakukannya.!" Arumi beranjak dari duduknya. Amarahnya akan semakin menjadi-jadi kalau terus berdebat dengan Agam yang tidak mau percaya padanya.


"Mau kemana kamu.?!" Agam mencekal pergelangan tangan Arumi karna melihat gelagat Arumi yang akan pergi.


"Aku mau pulang, percuma saja menjelaskan. panjang lebar kalau Om lebih percaya dengan foto-foto itu.!"


"Terserah Om mau berfikir aku tidur dengan siapapun, aku nggak peduli lagi Om.! Aku cape.!!" Teriak Arumi seraya menarik tangannya dari genggaman Agam.


"Om bahkan nggak berusaha membalas perasaanku. Disini cuma aku yang punya cinta. Tapi sekarang Om malah menuduhku tidur dengan laki-laki lain hanya karna foto sampah seperti ini.!" Arumi mengambil dan membuang semua foto-foto itu ke lantai.


"Pernikahan kita 4 hari lagi, masih ada waktu kalau Om mau membatalkannya. Aku nggak peduli lagi dengan semua itu.!" Arumi berlalu, dia meneteskan air matanya setelah berbalik membelakangi Agam dan pergi dari ruangan itu tanpa di cegah oleh Agam.


Tangis Arumi semakin menjadi setelah keluar dari ruangan Agam. Dia berbelok ke toilet untuk meredakan tangis dan mengusap air matanya.


Karyawan di kantor ini pasti akan heboh dan menyebarkan gosip yang tidak-tidak jika melihat Arumi menangis setelah bertemu dengan Agam.


Sementara itu, Agam tampak mengusap kasar wajahnya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa bisa menuduh Arumi. Melihat foto-foto Arumi dengan dua laki-laki itu membuat hatinya panas dan tersulut emosi.


Apalagi saat ingat kalau teman dekat Arumi memiliki pergaulan yang bebas. Tiba-tiba saja Agam berfikir kalau Arumi juga seperti mereka.


Bergegas keluar dari ruangannya, Agam mencari keberadaan Arumi untuk menahannya dan membahas masalah itu lagi dengan kepala dingin.


Agam sedikit ragu menghampiri resepsionis untuk bertanya padanya. Arumi sudah pasti melewati meja resepsionis saat masuk dan keluar kantor. Agam hanya ingin memastikan kalau Arumi memang sudah meninggalkan kantor.


"Apa Arumi sudah keluar.?" Tanyanya.


"Saya belum lihat Nona Arumi keluar Pak."


Agam mendengus kasar dan pergi begitu saja hingga membuat resepsionis itu merasa heran dan seketika menduga kalau pasangan itu sedang bertengkar.


Masuk ke dalam lift, Agam kembali naik ke ruangannya. Saat keluar dari lift, dia melihat Arumi akan masuk ke lift karyawan. Mata keduanya sempat bertemu beberapa detik, sebelum Arumi memalingkan wajahnya.


"Arumi.!" Agam memanggilnya setengah berteriak karna jaraknya lumayan jauh. Arumi tidak menoleh meski sebenarnya dia mendengar Agam memanggilnya dan berjalan cepat ke arahnya.


Gadis itu justru buru-buru masuk ke dalam lift dan menekan tombolnya. Pintu lift tertutup sebelum Agam berhasil mengejarnya. Pria itu kembali mendengus kasar dan beralih ke lift khusus untuk menyusul Arumi ke bawah.


Agam sempat melihat tatapan Arumi yang di penuhi amarah dan kekecewaan saat melihatnya. Dia sadar sudah keterlaluan menuduh Arumi tanpa bukti.


Arumi setengah berlari ketika keluar dari lift karna ingin menghindari Agam yang berusaha mengejarnya.


"Nona Arumi," Arumi menghentikan langkah di depan meja resepsionis yang memanggilnya.


"Tadi Pak Agam mencari Nona,," Tuturnya.


"Terimakasih Kak, kami sudah bertemu tadi." Jawab Arumi dan pamit dengan ramah pada resepsionis itu.


Wanita yang bekerja sebagai resepsionis itu di buat kebingungan ketika melihat Agam kembali datang tak lama setelah Arumi pergi.


"Kamu lihat Arumi.?" Agam bertanya dengan suara dingin.


"Barusan keluar Pak."


"Kenapa tidak di tahan.?!" Gerutu Agam dan berlalu begitu saja. Dia membuat resepsionis itu semakin kebingungan. Bagaimana mau menahan Arumi, dapat perintah saja tidak.


Agam harus berlari dan menghadang Arumi dengan berdiri di depan mobil gadis itu.


Arumi yang sudah menyalakan mesin mobilnya, mendengus kesal lantaran di halangi oleh Agam.


"Tunggu dulu Arumi, kita bicara lagi di dalam." Pinta Agam. Nada bicaranya terkesan datar.


Arumi menurunkan kaca mobilnya dan sedikit mengeluarkan kepalanya.


"Bicara untuk apa.?! Untuk menuduhku lagi.?!" Ketus Arumi geram.


"Minggir dan biarkan aku pergi.!" Arumi sedikit melajukan mobilnya, Agam terpaksa minggir dan diri di dekat pintu mobil karna Arumi terus maju.


"Kita bicara lagi nanti." Ujar Agam lirih.


"Aku nggak punya waktu membicarakan hal yang nggak penting." Arumi menjawab ketus sebelum melajukan mobilnya meninggalkan kantor Agam.