
Gea berusaha untuk tidak menangis di depan Glen yang tiba-tiba bersikap kasar padanya. Setelah menyerang dengan ciuman kasar, Glen menarik Gea ke ranjang dan mendorongnya hingga terjerembab di atas ranjang dengan kedua kaki yang menjuntai.
Belum hilang rasa sakit di bibir akibat gigitan Glen hingga bibirnya sedikit mengeluarkan da rah, kini Glen kembali menumpahkan rasa sakit di badan dan hati Gea. Perlakuan kasar Glen terbilang sudah kelewatan, padahal sebelumnya dia tidak pernah sekasar itu. Tangisan Gea menjadi bukti bahwa perbuatan Glen benar-benar sudah menyakiti fisik dan menggoreskan luka di hatinya.
"Sakit Om.!" Gea mendorong pelan tubuh Glen menggunakan kakinya lantaran jari Glen di masukan paksa di bawah sana hingga menimbulkan rasa sakit.
Tidak tau setan apa yang sedang merasuki pikiran Glen sampai dia berbuat sekasar itu pada Gea.
"Sakit.?" Glen justru menyeringai puas melihat Gea kesakitan. Bukannya menyingkir, dia malah membuka paksa kedua kaki Gea dan mengulangi hal yang sama.
Gea yang tidak berga-irah dengan sentuhan Glen, hanya berteriak kesakitan ketika jari-jari Glen bergerak kasar.
"Hentikan Om. Ini benar-benar sakit!" Sekuat apa pun Gea berusaha melawan, tenaganya tetap tidak sebanding dengan Glen. Yang bisa Gea lakukan hanya berteriak dan menyuruh Glen untuk berhenti berbuat gila.
"Bukankah nikmat.? Kamu suka seperti ini kan.?" Tanya Glen sambil mempercepat gerakan tangannya. Gea menggelengkan kepala. Jangankan nikmat, dia bahkan tidak terang -sang sama sekali meski Glen menyentuh semua titik sensitifnya.
"Dasar munafik.!" Sinis Glen mencibir. Dia lantar meng Hi s@p dalam-dalam salah satu pucuk bukit itu. Glen melakukanya dengan sangat lembut, berbanding terbalik dengan gerakan tangan Glen yang semakin cepat.
Gea kembali meronta dan teriak. Tapi kelamaan dia merasakan gelayar nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya akibat permainan Glen pada buk-itnya. Perlahan gerakan tangan Glen di bawah sana tidak lagi terasa sakit, melainkan berganti menjadi rasa nikmat.
Gea sampai merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Tubuhnya sempat menolak perlakuan Glen, tapi kini malah menikmatinya.
"Kamu sudah basah. Rupanya menikmati juga." Ujar Glen dengan nada bicara meledek. Begitu juga dengan senyumannya yang jelas-jelas menatap jijik. Melihat senyum Glen, seketika rasa nikmat yang Gea rasakan lenyap begitu saja. Gea tentu sakit hati dan malu mendapatkan tatapan seperti itu dari Glen. Dia merasa sangat rendah di depan pria itu.
"Aku nggak tau kenapa Om memperlakukanku seperti ini.!"
"Tapi kalau itu membuat Om puas, lakukan saja.!" Gea menatap sinis. Niat untuk menjerat Glen dalam genggamannya tidak dia pikirkan lagi saat itu. Gea masih memikirkan harga dirinya di depan Glen.
"Kamu memang pantas mendapatkannya.!" Glen menatap tajam. Sikap dan ucapan Glen membuat Gea semakin yakin jika ada sesuatu yang telah membuat Glen menjadi semarah itu padanya. Sayangnya Gea tidak tau hal apa yang membuat Glen tersulut amarah.
"Itu sebabnya aku menyuruh Om melakukan apapun yang Om inginkan.!" Sahut Gea tanpa rasa takut sedikitpun. Dia yakin, sekasar kasarnya Glen, pria itu tidak akan membuatnya kehilangan nyawa. Jadi Gea masih memiliki keberanian untuk menjawab perkataannya.
Glen semakin kasar setelah Gea menyerahkan diri dengan pasrah. Tidak ada perlawanan dan teriakan, Gea juga tidak memohon agar Glen berhenti. Meskipun merasakan sakit di bawah sana dan kedua da -danya, Gea memilih menggit bibir bawahnya agar tidak berteriak kesakitan. Kedua matanya juga terpejam, enggan melihat apa yang sedang di lakukan oleh Glen pada tubuhnya.
Pria itu bergerak liar, Gea bahkan tidak melihat kapan pria itu melepas semua kain yang melekat di tubuhnya. Tiba-tiba saja sesuatu yang keras menembus paksa dan bergerak kasar.
"Ini hukuman karna sudah melanggar aturan ku.!" Seru Glen dengan gerakan yang semakin cepat.
Gea membuka matanya, terpaksa menatap Glen karna terusik dengan ucapannya.
Gea bahkan tidak tau aturan apa yang sudah dia langgar sampai membuat Glen begitu marah padanya. Gea merasa tidak melakukan apapun yang bertentangan dengan perjanjian mereka.
"Melanggar aturan.?" Gea sampai mengulangi ucapan Glen untuk memastikan.
"Kamu belum tau kesalahanmu.? Atau sedang pura-pura.?!" Glen menatap sinis, tapi masih tetap bergerak cepat dengan satu tangan memainkan bongkahan kenyal di depannya.
"Aku nggak melakukan apapun.!" Seru Gea yakin. Bahkan semalam Glen masih mengajaknya ber cinta di toilet hotel. Pria itu tidak terlihat marah padanya.
"Kamu yakin.?" Glen tersenyum sinis.
Chat yang mengatakan kalau Ricko memiliki nomor ponsel Gea. Ricko bahkan mengirimkan nomor ponsel Gea pada Glen sebagai bukti kalau dia tidak bohong soal memiliki nomor ponsel Gea.
"Sudah aku bilang jangan dekat dengan pria manapun selama kamu masih tinggal bersama ku.!" Pekik Glen penuh amarah.
"Terima hukuman dariku.!" Dia melempar ponselnya dan mempercepat temponya dengan membenamkan dalam-dalam.
Tubuh Gea sampai terguncang dan bergerak tidak karuan di bawah kungkungan Glen.
"Kami hanya bertukar nomor ponsel, apa salahnya.!" Gea berteriak dengan suara tersenggal.
"Hanya bertukar nomor kau bilang.?!" Glen tersenyum kecut.
"Sekarang mungkin bertukar nomor ponsel, besok bisa bertukar cairan.!" Sinisnya.
"Kalau sampai itu terjadi, siap-siap terima hukuman yang lebih menyakitkan dari ini.!" Glen mengentak kasar. Tak lama setelah itu, dia menyiramkan benihnya. Gea sudah 2 hari tidak meminum pil penunda kehamilan. Gea bahkan belum menyadari hal itu.
...*****...
Di kamar hotel yang dipenuhi bunga, tampak kondisi ranjang sangat berantakan. Baju berserakan di lantai, ada satu bantal yang terlempar dari ranjang. Begitu juga dengan kondisi seprai dan selimut ya g berantakan.
Tapi dua insan yang semalam baru mengarungi nirwana itu masih tertidur lelap. Tidak peduli meski cahaya mentari sudah menyusup di balik balkon kamar.
Arumi menggeliat, kakinya terangkat dan mendarat tepat di atas burung yang tertidur.
Bukannya menyingkir, Arumi melah menggesek-gesekan kakinya untuk merasakan benda kenyal itu. Dia sudah dalam keadaan setengah sadar, mungkin penasaran dengan sesuatu yang bersentuhan dengan kakinya.
Semakin lama di gesek, benta itu berubah keras. Dan si pemilik jadi terbangun akibat sensasi ngilu sekaligus nikmat dari sentuhan kaki Arumi.
"Ini apaan.?" Arumi bergumam dengan kedua mata yang masih terpejam.
"Benda yang membuatmu sakit sekaligus nikmat." Agam menimpali ucapan Arumi.
Suara berat dan serak itu sontak membuat Arumi terperanjat kaget. Dia terbangung dengan kedua mata membulat sempurna.
"Om, kenapa,," Arumi hampir saja berteriak ketika melihat Agam tidur satu ranjang dengannya dan dalam keadaan telanjang. Tapi setelah sadar sedang berada di kamar hotel dengan banyak bunga di dalamnya, Arumi baru ingat kalau dia dan Agam sudah menjadi suami istri.
Arumi tiba-tiba mengikis jarak, dia menempel pada tubuh kekar Agam sembari memeluk dan meletakkan kepalanya di dada bidang Agam dalam posisi masih berbaring.
"Makasih untuk tadi malam,," Ucap Arumi. Agam tidak tau kalau pipi Arumi merona lantaran mengingat malam pertama mereka.
Agam hampir meledek Arumi, tapi enggan merusak suasana hati istrinya itu yang baru pertama kali merasakan nikmatnya surga dunia.
"Aku mau lagi,," Lirih Arumi malu-malu. Agam sampai tidak bisa menahan tawa. Dia terkekeh geli dengan tingkah Arumi.
Padahal tadi malam istrinya itu sampai berteriak dan memohon agar berhenti. Sekarang malah minta lagi. Dasar bocah ingusan. Begini kalau dikenalkan dengan kenikmatan.