Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 113



Sudah lebih dari 10 menit Agama berdiri di depan pintu apartemen Mama mertuanya. Dia menekan bel berulang kali, tapi belum ada yang membukakan pintu. Mungkin karna masih terlalu pagi, penghuni apartemen di dalam sana masih meringkuk di bawah selimut. Agama berfikir Ibu dan anak itu tidur dengan nyenyak semalam, dia tidak tau saja kalau Amira baru terlelap pukul 1 dini hari karna menyelesaikan urusan dengan Andrew yang sulit di ajak untuk bercerai.


Sendang Arumi, setelah mendapat foto dan pesan dari nomor asing, dia baru memejamkan matanya kurang dari 1 jam yang lalu. Tidur bukan karna mengantuk, kalau itu Arumi masih bisa menahannya. Tapi dia tidur lantaran kelelahan setelah menangis berjam-jam dengan segala pikiran yang berkecamuk di benaknya.


Agak semakin gusar menunggu di depan pintu. Tangannya sudah lelah menekan bel berulang kali, tapi belum ada tanda-tands akan di bukakan pintu.


Seandainya ponsel Arumi ataupun Mama mertuanya bisa di hubungi, mungkin tidak akan selama ini dia menunggu di depan Apartemen hingga membuatnya gusar seperti sekarang.


Perlahan tidur Amira mulai terusik karna suara bel yang tak kunjung berhenti. Dia memaksakan diri untuk bangun dan membukakan pintu.


"Nak Agam,," Amira sedikit terkejut melihat menantunya datang ke apartemen sepagi ini.


Dia langsung berfikir ada sesuatu yang mendesak. Karna kalau tidak, mana mungkin pagi-pagi buta Agam berangkat dari Jakarta untuk pulang ke Bandung.


"Mah, maaf menganggu pagi-pagi." Ujar Agam sedikit tak enak hati. Karna sudah menganggu waktu istirahat Mama mertuanya yang masih tampak mengantuk.


"Apa Arumi baik-baik saja.?" Tanyanya khawatir. Amira tifak langsung menjawab, tapi menyuruh Agam untuk masuk lebih dulu.


"Apa kalian bertengkar.?" Amira malah balik bertanya. Pasalnya pertanyaan Agam dan kekhawatiran di wajahnya membuat Amira merasa ada sesuatu yang terjadi.


Agam menggeleng cepat.


"Ponsel Arumi tidak bisa di hubungi, aku hanya khawatir padanya." Tuturnya.


"Aku pikir dia marah dan sengaja mematikan ponselnya karna aku tidak pulang tepat waktu." Ujarnya lagi. Semalam dia sudah janji pada Arumi akan pulang malam itu juga, tapi seseorang membuat kekacauan dengan menjebaknya.


"Mungkin batrainya habis. Arumi masih tidur di kamarnya, masuk saja." Ujar Amira seraya menunjukkan dimana kamar Arumi.


Agam mengucapkan terimakasih pada Mama mertuanya sebelum membuka pintu dan masuk ke kamar Arumi. Pria itu mengukir senyum lega mendapati Arumi terlelap di bawah selimut.


Agam tidak langsung menghampiri istrinya, dia lebih dulu pergi ke kamar mandi dengan membawa baju ganti di tangannya untuk mengganti baju dan membersihkan diri sebelum bergabung bersama istrinya.


Sementara itu, suara gemercik air di jakarta mandi membuat tidur Arumi terusik. Dengan mata sembab, dia menatap ke arah pintu kamar mandi.


Aroma pafrum maskulin yang menguar di dalam kamar, membuat Arumi tau siapa seseorang yang berada di kamar mandi.


Beberapa saat terdiam dengan ekspresi datar, perlahan Arumi tersenyum getir. Dia mengingat kembali foto Agam bersama mantan istrinya di kamar hotel. Dadanya seketika berdenyut nyeri. Ada amarah, kecewa, sakit hati dan kesedihan yang melebur jadi satu. Belum reda kekecewaannya terhadap sang Papa, kini di tambah lagi dengan rasa kecewa yang lebih besar.


Sepertinya kata perselingkuhan akan membuatnya trauma seumur hidup.


Arumi terdiam dengan sorot mata menerawang jauh. Mungkin nasib rumah tangannya akan seperti kedua orang tuanya. Hanya saja nasibnya lebih tragis dari mereka.


Jika kedua orang tuanya mengakhiri pernikahan setelah 19 tahun bersama, dia dan Agam hanya beberapa bulan saja.


Selesai membersihkan diri, Agam keluar dari kamar mandi. Dia sempat melihat Arumi menatap ke arahnya, tapi setelah itu Arumi langsung memejamkan mata.


Dahi Agam mengkerut, heran dengan reaksi istrinya. Jelas itu bukan Arumi yang Agam kenal.


Dengan hati-hati Agam naik ke atas ranjang, dia berbaring di samping Arumi dan posisi mereka berhadapan. Arumi tidak bergerak sama sekali dan tetap memejamkan mata meski Agam tau istrinya itu tidak tidur.


"Marah padaku.?" Agam bertanya dengan suara lembut, sangat lembut hingga sempat membuat Arumi merasakan ketenangan untuk beberapa detik. Namun bayangan Agam tidur dengan mantan istrinya, langsung menyadarkan Arumi.


Agam mengusap perlahan pucuk kepala Arumi dan semakin turun hingga punggungnya.


"Maaf baru bisa pulang. Seseorang membuat masalah denganku." Agam berusaha menjelaskan, namun dia tidak memberitahu detailnya karna tak mau semakin merusak suasana hati Arumi.


Sebenarnya Agam sudah tau apa yang terjadi dengannya. Dia sudah mendapatkan rekaman cctv meski tidak sampai merekam apa yang terjadi di dalam kamar hotel.


Namun saat dia terbangun dalam keadaan bertelanjang dada, Agam tau jebakan murahan seperti apa yang di lakukan oleh Karina.


Dan dia tidak akan pernah melepaskan Karina kali ini. Orang suruhnya sudah di tugaskan untuk menangkap Karin dan memberikan pelajaran pada wanita itu.


Sayangnya Agam tidak tau kalau Karina mengirimkan foto ke ponsel Arumi.


Tak merespon, Arumi justru berbalik badan membelakangi Agam.


"Aku sudah minta maaf, kenapa tidak mau bicara. Apa kamu semarah itu padaku.?" Agam tidak tinggal diam, meski secara tidak langsung Arumi sudah menolaknya dengan menunggunginya, Agam malah senang karna bisa memeluk Arumi dari belakang dan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.


"Aku pikir kamu ingin menjadi duda lagi agar bisa kembali dengan mantan istrimu." Arumi berucap sinis.


"Jadi kapan akan menceraikanku.?" Tanyanya penuh penekanan.


Agam memang berharap Arumi mau bicara dengannya. Tapi kalau seperti ini, lebih baik dia memilih Arumi tetap diam. Daripada bicara omong kosong dan membuat pikirannya kacau.


"Ada apa denganmu.?" Agam membalik paksa tubuh Arumi agar menghadap ke arahnya.


Saat itu juga Arumi membuka mata lebar-lebar, menatap Agam dengan tajam.


Agam sempat tertegun, hatinya mendadak ngilu melihat mata sembab Arumi. Istrinya itu jelas baru saja menangis.


"Haruskah kamu bertanya seperti itu padaku.?" Arumi tersenyum kecut.


"Kamu ingin aku menjawab apa.? Memuji keromantisan kalian karna masih bisa tidur bersama setelah bercerai.?!" Serunya tegas. Namun Arumi masih mengontrol suaranya agar tidak terlalu kencang. Dia tidak mau Mamanya mengetahui hal ini.


Agam kehabisan kata-kata, dia benar-benar bingung dan memilih diam untuk mencerna samua perkataan Arumi.


"Sebentar, sepertinya ada kesalahpahaman di antara kita." Ujar Agam setelah beberapa saat berfikir.


"Apa seseorang mengatakan sesuatu atau mengirimkan sesuatu padamu.?" Agam menatap menelisik. Dia yakin kemarahan Arumi padanya ada hubungannya dengan penjebakan yang di lakukan Karina. Apalagi Arumi mengatakan soal tidur bersama setelah bercerai. Sudah pasti yang dia maksud Arumi adalah Karina.


"Kenapa.? Kamu takut aibmu di ketahui istrimu sendiri.?" Seru Arumi dengan emosi yang semakin tidak terkontrol.


Agam berusaha tenang, dia beranjak dari ranjang dan mengambil ponsel Arumi untuk membuktikannya sendiri.