Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 74



Ciuman Glen semakin menuntut. Pria itu memperdalam ciumannya dan mengobrak abrik rongga mulut Gea. Lidah gadis itu menjadi sasaran Glen. Dia memainkan dan meng Hi sapnya kuat. Pertahanan Gea akhirnya runtuh. Tubuhnya merespon setiap perlakuan nakal Glen padanya. Terlebih re masan di salah satu bukitnya semakin liar dan kencang. Glen berhasil membuat gairah Gea menyala dalam hitungan menit.


Perlahan Gea membalas ciuman Glen dan mengalungkan kedua tangannya di leher Glen. Hal itu menandakan jika Gea sudah mulai rileks dan menikmati pagutan bibir serta pertukaran saliva.


Ciuman keduanya semakin panas. Tangan Glen diam mengangkat gaun Gea dan menyusupkan satu tangannya. Tubuh Gea semakin menegang, dia meloloskan ******* tertahan ketika tangan Glen mengusap bagian luar liang kenikmatannya di balik hotpants yang menutupinya.


Glen melepaskan pagutan bibirnya, dengan satu tangan yang masih mengusap bagian bawah Gea.


Kobaran gairah menguasai wajah keduanya.


"Om,, bagaimana kalo ada yang datang.?" Tanya Gea lirih. Sempat terbuai dan tidak peduli sedang dimana dia berada, kini Gea kembali di buat cemas.


"Kamu nggak sadar kalau toilet ini berada paling pojok. Jarang pada orang yang datang kesini, apa lagi ke toilet wanita." Tutur Glen.


Gea diam sejenak, dia baru menyadari hal itu. Di sana memang banyak toilet. Dia bahkan sempat melewati beberapa toilet pria dan wanita yang berada paling depan sebelum melihat Glen.


"Tapi tetap saja aku takut,," Tuturnya. Tidak ada yang bisa menjamin kalau mereka akan aman melakukan perbuatan mesum itu di toilet hotel. Terlebih sedang banyak orang yang tengah menghadiri pesta pernikahan Arumi.


"Asal kamu tidak berisik, semuanya aman." Jawab Glen dan kembali menyambar bibir Gea. Kali ini ciumannya turun ke leher. Dia berhenti di ceruk leher Gea, memberikan rangsangan dengan bibir dan lidahnya. Sesekali Glen meng Hi sap kecil tanpa meninggalkan jejak.


"Om,,," Gea mendesah pelan saat tangan Glen di bawah sana sudah berhasil melewati kain segitiga miliknya. Jemarinya membelah liang kenikmatannya yang sudah lembab.


"Lakukan di telingaku." Bisik Glen memerintah. Dia menyuruh Gea meloloskan ******* di telinganya.


Gea sangat patuh, dia langsung melakukannya setelah mendapatkan perintah. Bahkan Gea sengaja menciptakan de sah an yang begitu menggoda agar Glen semakin tergila-gila padanya dan akan terus mengingat des sah annya.


Tubuh Gea semakin menegang, seiring dengan gerakan tangan Glen di bawah sana yang mengaduk-aduk liang kenikmatannya.


Kini Gea tidak lagi memperdulikan keadaan sekitar. Rasa nikmat akibat ulah Glen telah menutup akal sehatnya.


Di saat Gea hampir mencapai puncak kenikmatan, Glen tiba-tiba menghentikan gerakannya, bahkan mengeluarkan tangannya dari balik gaun Gea.


Gadis itu sontak menatap kecewa.


"Kenapa berhenti Om.?" Protesnya setengah merengek tanpa rasa malu.


Glen tak menjawab, pria itu malah melepaskan ikat pinggangnya dan menurunkan celana tanpa melepaskannya. Benda besar yang mengacung tegak itu terlihat sangat menantang dan membuat Gea semakin terbakar gairah.


Gea langsung paham saat Glen duduk di atas closet yang tertutup.


"Cepat naik,," Titah Glen yang terlihat sudah tidak sabar merengkuh kenikmatan bersama Gea dengan menyatukan miliknya.


Gea mengangguk, dia melepaskan hotpants beserta kain segitiganya. Kain itu tergeletak begitu saja di lantai toilet, tapi Gea tidak memperdulikannya. Dia lantas mengangkat gaunnya hingga sebatas perut dan memposisikan diri di atas pangkuan Glen.


Tangan pria itu mulai mengarahkan benda itu untuk menembus liang kenikmatan.


Keduanya men de sah bersama ketika berhasil melakukan penyatuan. Benda tegak itu kini sudah terbenam seluruhnya di dalam liang kenikmatan yang basah dan hangat.


Suara percintaan panas mereka samar-samar terdengar dari luar toilet.


Mungkin mereka berdua sedang beruntung kali ini, keadaan di luar cukup sepi, tidak ada orang yang lewat satupun di sana.


Glen menurunkan tubuh Gea dari atas pangkuannya tanpa melepaskan penyatuan mereka. Dia memposisikan tubuh Gea agar sedikit merunduk menghadap dinding. Kedua tangan Gea sontak bertumpu di sana, dia sudah paham apa yang akan di lakukan oleh Glen di belakang tubuhnya.


Satu hentakan kuat membuat Gea mengerang nikmat. Benda besar itu melesak dalam hingga menimbulkan sensasi nik mat yang semakin menutup akal sehat Gea. Meski ada perasaan was-was karna ber cinta di toilet hotel, tapi kenikmatan dari percintaan panas itu justru terasa berkali-kali lipat.


Gea meracau, dia memberi interupsi serta memuji Glen di sela-sela de Sa-bannya yang menggoda.


"Lebih cepat Om,,," Racaunya memohon. Glen memang pemain handal, benda tegak itu sudah memberikan kenikmatan pada beberapa wanita di luar sana. Dan semua wanita-wanita itu pasti menginginkan untuk mengulangi percintaan panasnya dengan Glen. Bahkan ada yang dengan suka rela melemparkan tubuhnya untuk di nikmati oleh Glen secara cuma-cuma karna hanya menginginkan kenikmatan dari pria tersebut.


"Sesuai permintaanmu sayang,," Jawab Glen dengan suara beratnya yang bercampur gairah. Dia kemudian mempercepat gerakannya hingga suara khas percintaan itu semakin kencang terdengar dari luar.


Beberapa menit kemudian Gea merasakan area intinya berkedut, sedangkan Glen seperti sengaja bergerak cepat dengan membenamkan dalam-dalam pusakanya dalam setiap hentakan.


Gea mengerang panjang. Tubuhnya sempat menegang dan bergetar sampai akhirnya terlihat lemas. Glen sampai mendekap tubuh Gea dari belakang karna gadis itu seperti kehilangan seluruh tenaganya. Glen juga sengaja menghentikan gerakan untuk memberikan jeda pada Gea, agar wanita itu bisa mengatur nafas dan istirahat sejenak setelah mencapai pelepasan.


Pria itu hanya memberikan jeda sebentar, setelah itu kembali menggempur Gea untuk menjemput kenikmatannya sendiri.


Tapi rupanya gerakan Glen yang menggila membuat Gea kembali merasakan sensasi nikmat lagi. Dia kembali meloloskan *******. Beberapa menit berlalu, mereka berdua mendapatkan pelepasan secara bersamaan.


Gea yang sudah 2 kali mendapatkan kenikmatan itu, terlihat sangat lemas.


"Rapikan gaunmu,," Titah Glen. Rupanya Glen sudah memakai celananya lagi dan kini sedang memakai ikat pinggangnya.


Gea mengangguk, tapi dia lebih dulu membersihkan area intinya dari sisa-sisa cairan percintaan panasnya bersama Glen.


Pria itu juga sempat membersihkan diri, namun Gea tidak memperhatikannya karna fokus mengumpulkan sisa sisa tenaganya.


"Kamu keluar duluan." Titah Glen. Pria itu sejak tadi setia menunggu Gea membersihkan diri dan merapikan gaunnya.


Gea sedikit mengendap-endap ketika membuat pintu toilet, setelah memastikan keadaan sepi, dia lalu buru-buru keluar dari sana. Di susul oleh Glen selang beberapa menit.


Keduanya terlihat santai menyusuri lorong dan masuk kembali ke ballroom. Tentu dengan menjaga jarak aman agar tidak ada yang menaruh curiga.


"Apa kamu kehabisan uang sampai ber cinta di toilet." Teguran seseorang membuat Glen menghentikan langkah. Dia terkejut mendengar perkataan Ricko, namun berusaha untuk tidak menunjukkannya.


"Kamu sudah punya Adeline. Siapa sebenarnya gadis yang tadi.?" Ricko menatap penuh selidik. Glen mendengus kesal dan menarik Ricko ke tempat yang lebih sepi.


"Jangan bicara macam-macam pada siapapun, kejadian tadi, anggap saja kamu nggak pernah dengar atupun melihatnya." Ujar Glen penuh penekanan. Ricko terkekeh kecil.


"Gadis itu ternyata cukup liar. Aku bisa tutup mulut kalau kamu membaginya padaku." Ucap Ricko seraya menggerakkan sebelah alisnya untuk bernegosiasi dengan Glen.


"Aku akan mengirimkan wanita lain ke apartemen mu, jangan coba-coba menyentuh gadis itu.!" Tegas Glen penuh penekanan, lalu bergegas pergi dari sana.