
"Sayang, kamu tidak senang aku hamil.?" Keluh Arumi saat baru keluar dari ruang pemeriksaan.
Dia melirik suaminya yang sejak tadi memasang wajah penuh beban dan kecemasan. Entah apa yang ada dalam benak suaminya itu, Arumi tidak bisa mencernanya dengan baik.
Dia saja merasa sangat bahagia begitu mengetahui sedang hamil, apalagi hamil kembar 3 sekaligus. Bukankah seharusnya Agam juga merasakan kebahagiaan yang sama.? Tapi kenapa ekspresi wajahnya,,, ahh sudahlah,, Arumi bahkan sampai kesal sendiri melihatnya.
Agam menggeleng cepat untuk menepis anggapan Arumi yang tidak benar. Bagaimana mungkin dia tidak senang ketika akan di hadiahi 3 malaikat kecil sekaligus oleh Tuhan dalam hidupnya. Saking bahagianya, Agam sampai tidak bisa berkata-kata. Kebahagiaan itu tak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Mana mungkin aku tidak senang. Ada 3 darah dagingku disini,,," Ujarnya seraya mengusap perut Arumi yang masih rata.
"Aku bahkan sudah tidak sabar menunggu mereka lahir. Hanya saja,,," Agam membuat Arumi penasaran karna menggantungkan ucapannya. Seperti ada hal besar saja yang ingin dia ucapkan sampai kesulitan bicara.
"Hanya apa.?" Cecar Arumi tak sabar. Ekspresi wajahnya seperti ingin menggigit Agam jika sewaktu-waktu suaminya itu mengatakan hal yang tidak enak di dengar.
"Pasti sangat repot mengurus 3 anak kecil sekaligus kan.? Walupun nanti ada baby sitter, aku tetap khawatir padamu." Agam menatap penuh kecemasan. Mengurus bayi bukanlah hal mudah, dia menyadari itu meski belum pernah melakukannya. Apalagi kalau ada 3 bayi sekaligus yang butuh perhatian dan asi dari ibunya.
Membayangkan Arumi membelah diri untuk mengurus ketiga anak mereka, rasanya tidak tega.
Belum lagi usia Arumi yang masih terbilang remaja. Istrinya itu baru saja genap berusia 18 tahun.
"Kamu tidak yakin aku bisa mengurus anak-anak.?" Tanya Arumi sedikit kecewa. Dia butuh dukungan dari Agam, bukannya malah mendengar kata-kata yang justru membuatnya down sebelum bertempur.
Padahal setiap wanita yang diberi kesempatan untuk hamil dan melahirkan, mereka secara naluriah akan memiliki keahlian mengurus anaknya tanpa harus belajar ataupun khursus cara mengurus anak. Tak peduli berapapun usianya, mereka dengan sendirinya akan tau cara mengurus darah dagingnya.
"Bukan begitu sayang, tapi,,,"
"Sudahlah, bilang saja kalau kamu tidak yakin padaku. Tidak usah berbelit-belit." Arumi menarik tangannya dari genggaman Agam dan berlalu. Moodnya tiba-tiba merosot karna perdebatan soal mengurus anak. Entah kenapa Arumi merasa hanya dia saja yang sangat antusias dan bahagia mendengar kehamilan kembarnya.
"Arumi,, jangan marah." Pinta Agam seraya menyusul istrinya yang sedang badmood.
Tangannya langsung melingkar di pinggang Arumi begitu berhasil mensejajarkan langkah dengannya. Arumi hendak menepis, tapi Agam sengaja mengeratkan rangkulannya di pinggang sang istri.
"Tidak mau bicara denganmu.!" Ketus Arumi seraya membuang wajah dan bibirnya tampak mencebik.
Agam malah mengulum senyum lantaran Arumi terlihat menggemaskan ketika sedang kesal padanya.
"Tidak masalah, asal masih mau di peluk dan bercinta denganku." Bisik Agam dengan sengaja menggoda Arumi. Pria itu seperti tidak ada takut-takutnya menghadapi kemarahan istrinya, yang ada malah dibuat candaan.
"Mimpi saja.!" Sahut Arumi kesal.
Rayuan Agam sama sekali tidak ada gunanya, justru membuat Arumi semakin kesal.
Mood Arumi benar-benar kacau, tiba-tiba saja sangat ingin membenci Agam. Padahal apa yang dikatakan Agam hanya sebuah pendapat pribadi, bukan suatu perbuatan yang buruk.
...******...
Hari ini Arumi datang ke kampus pukul 9 pagi. Untuk sampai di kampus, dia harus berdebat dulu dengan suaminya. Agam melarang Arumi pergi ke kampus hari ini, malah menyuruhnya agar istirahat di rumah saja selama beberapa hari kedepan. Alasannya karena khawatir dengan kondisi kehamilannya. Agam ingin memastikan kalau Arumi benar-benar kuat melakukan aktivitas seperti biasanya.
Dengan cemberut, Arumi tampak terpaksa menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Aku bahkan belum 30 menit keluar apartemen, tapi kamu sudah menelfonku sebanyak 8 kali." Gerutu Arumi pada seseorang di seberang sana. Siapa lagi kalau bukan Agam. Mau di bilang perhatian tapi terlalu berlebihan. Kesannya malah overprotective.
"Apa jadi CEO tidak perlu bekerja.?" Tanya Arumi yang sebenarnya sedang menyindir. Dia sampai heran kenapa Agam bisa menelfonnya sebanyak itu di jam kerja. Seperti pengangguran saja, padahal pemimpin perusahaan.
Agam malah terkekeh gemas di seberang sana, membuat Arumi membulatkan matanya karna jengkel. Agam tidak peka dengan sindirannya.
"Kamu sedang hamil kenapa jadi menggemaskan seperti ini." Ujar Agam. Dari nada bicaranya seperti ingin mencubit pipi Arumi.
"Menggemaskan.?" Seru Arumi tak habis pikir.
"Aku sedang marah.?!" Arumi sengaja mengeraskan suaranya. Tapi lagi-lagi Agam terkekeh gemas.
"Kamu tidak dengar.? Aku sedang marah padamu, tidak mau bicara lagi.!" Sewotnya dan langsung memutuskan panggilan.
"Menyebalkan.!" Arumi menggerutu, jarinya bermain pada layar ponsel untuk menonaktifkan data. Sengaja biar Agam tidak menerornya dengan telfon berulang kali.
"Pagi-pagi sudah marah tidak jelas." Seloroh Gea sembari menyikut lengan Arumi. Dia sudah berjalan di belakang Arumi sejak 5 menit yang lalu, tapi Arumi tidak menyadarinya.
"Aku sangat kesal dengan suamiku. Apa aku sudah tidak mencintainya lagi.?" Ujar Arumi ragu. Perasaannya saat aneh dan sulit untuk di pahami. Kekesalannya pada Agam bukannya surut malah semakin menjadi.
"Kamu seperti sedang datang bulan saja, sensitif." Sahut Gea asal.
"Mana mungkin sudah tidak cinta, kamu kan tergila-gila padanya." Sambung Gea lagi.
Arumi lantas menghentikan langkah, dia langsung memikirkan sesuatu ketika Gea membahas soal datang bulan.
Apa mungkin semua ini karna faktor kehamilannya.? Perasaannya jadi tidak menentu, moodnya naik turun dan lebih parahnya lagi, selalu kesal jika bicara dengan Agam.
"Aku tidak akan datang bulan selama 8 bulan kedepan." Gumam Arumi lirih.
Gea langsung mengerutkan kening karna tidak paham.
"Maksdunya.?" Tanyanya meminta kejelasan.
Arumi mengarahkan pandangan, memastikan situasinya aman untuk memberiitau Gea soal kehamilannya.
Arumi kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Gea.
"Aku positif hamil, sudah 5 minggu. Jadi tidak datang bulan sampai melahirkan nanti." Bisiknya.
Gea tertegun, tubuhnya tiba-tiba terasa kaku. Pikirannya melayang kemana-mana saat Arumi memberitahu soal kehamilan dan masalah datang bulan. Gea baru ingat kalau dia sudah lama tidak datang bulan. Tanpa harus melakukan tes, Gea merasa yakin dia juga sedang hamil.
Pasalnya dia sudah lama tidak meminum pil KB. Dari yang awalnya lupa, lalu sengaja tidak minum lagi.