
Masalah Agam dan Arumi mengenai foto-foto waktu lalu belum terselesaikan. Sampai hari ini Agam masih harus berjuang untuk mendapatkan maaf dari Arumi. Jangan di tanya usaha apa yang sudah Agam lakukan agar Arumi mau memaafkannya. Pria dingin yang sebelumnya anti mengirimkan pesan lebih dulu, sejak hari itu selalu mengirimkan pesan pada Arumi. Tidak peduli meski Arumi mengabaikan pesan darinya, Agam tetap mengirimkan pesan walau sekedar menanyakan kabar ataupun mengingatkan makan.
Mendadak Agam berubah jadi sosok yang perhatian. Justru terlihat aneh di mata Arumi. Tapi hanya itu satu-satunya usaha yang bisa Agam lakukan selain mengirimkan beberapa hadiah dan coklat untuk gadis kecilnya itu. Membujuknya secara langsung tentu tidak mungkin, Arumi selalu menolak untuk bertemu dan tidak mau menemuinya ketika datang ke rumah.
Hari ini adalah hari pernikahan mereka berdua. Pesta megah dan meriah akan di gelar pukul 7 malam, bertempat di sebuah ballroom hotel bintang 5 dengan beberapa persen sahamnya di miliki oleh perusahaan orang tua Agam. Tentunya saham itu juga akan jatuh ke tangan Agam selaku ahli waris tunggal di keluarga Airlangga.
"Ayo nak, kita harus ke hotel sekarang." Hana menghampiri putranya di kamar. Saat sang Mama masuk, Agam sedang memegangi benda pipih di tangannya. Raut wajahnya terlihat gelisah dan tegang. Penyebabnya adalah sebuah pesan yang Arumi kirimkan padanya beberapa menit lalu.
Gadis itu mengatakan siap membatalkan pernikahan mereka di depan semua orang.
"Kamu sudah pernah menikah sebelumnya, kenapa malah kelihatan lebih tegang yang sekarang.?" Hana mengusap lembut pun dah putranya. Di tidak tau ketegangan Agam bukan di sebabkan karna acara pernikahan yang akan di gelar beberapa jam lagi, melainkan karna pesan dari Arumi seperti bentuk ancaman untuknya.
Agam menarik nafas dalam sembari memijat pelipisnya. Sejak kemarin dia sudah di buat pusing mencari cara untuk membujuk Arumi, tapi semua usahanya tidak berhasil. Sekarang Arumi malah membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri.
"Apa ada masalah.?" Hana tampak cemas ketika melihat Agam menarik nafas dalam. Wajah putranya tampak lesu seperti banyak pikiran. Hana baru sadar jika putranya gelisah bukan karna di hadapkan pernikahan yang sudah di depan mata, tapi karna ada hal lain yang menganggu pikirannya.
"Sebenarnya kami sedang ada masalah sejak 4 hari lalu." Tutur Agam dengan helaan nafas berat. Baru kali ini dia di pusingkan dengan pertengkaran yang sebenarnya bisa diselesaikan kurang dari 24 jam. Tapi karna sadar jika partner bertengkarnya masih berusia 18 tahun, Agam mencoba memakluminya. Usia remaja belasan tahun memang terkadang memiliki ego tinggi dan terkesan mendramatisir keadaan.
"Kau ini.!" Hana mendengus sambil memukul bahu putranya. Agam meringis kesakitan dan mengusap-usap bahunya meskipun pukulan Hana tidak terlalu kencang.
"Kenapa Mama memukul ku." Agam protes, dia tidak terima mendapatkan pukulan dari Hana, padahal Hana belum mengetahui duduk persoalannya, tapi respon dari Hana sudah jelas sedang menyalahkan putranya.
"Arumi anak baik, dia memiliki hati yang lembut. Kalau ada permasalahan di antara kalian berdua, pasti itu ulah mu.!" Hana kembali memukul putranya meski hanya main-main. Dia tidak benar-benar memukul anak semata wayangnya itu.
"Astaga, Mama bahkan belum tau permasalahannya, tapi sudah menghakimi ku." Agam melengos malas dan berlalu dari hadapan Hana. Wanita paruh baya itu sampai membulatkan matanya akibat ulah Agam.
"Dasar anak kurang ajar." Gerutu Hana yang di tinggalkan begitu saja di dalam kamar oleh putranya.
...*****...
"Kalau sampai pernikahan ini batal, Mama akan mengeluarkan kamu dari daftar ahli waris.!" Hana masih mengomel pada putranya. Sepanjang perjalanan menuju hotel hanya terdengar suara perdebatan ibu dan anak. Airlangga sesekali bersuara untuk menengahi perdebatan keduanya.
Dia juga sebenarnya kecewa dengan ulah putranya, tapi lebih memilih menjadi penengah daripada keadaan semakin rumit.
"Ck,,, masih banyak gadis-gadis di luar sana yang bersedia jadi istriku. Mama jangan khawatir." Seloroh Agam. Sebenarnya dia hanya bercanda karna sang Mama terus memarahinya sejak tadi. Tapi karna ekspresi wajah Agam terlihat serius, Hana menganggap ucapan Agam bukan sekedar candaan.
"Anakmu yang tampan ini bisa babak belur karna di pukuli terus." Ujar Agam lalu terkekeh.
"Kamu akan menyesal kalau Arumi membatalkan pernikahan kalian." Tutur Hana.
"Sudah,, kalian berdua bukan anak kecil lagi, kenapa bertingkah seperti itu." Airlangga menghela nafas berat. Perdebatan istri dan anaknya membuat kepalanya pusing. Mereka berdua tidak ada yang mau mengalah.
"Anakmu sesekali harus di beri pelajaran, dia selalu membuat masalah untuk dirinya sendiri." Sahut Hana, dia tidak mau di salahkan karna perbuatan Agam yang memang sudah sepantasnya di salahkan.
...******...
"Ini akan jadi hari bersejarah dan membahagiakan untukmu, kenapa malah terlihat sedih.?" Amira mengusap lembut pucuk kepala Arumi. Gadis itu sudah duduk di depan meja rias karna sebentar lagi akan di dandani. Arumi memang datang lebih awal, karna proses make upnya lumayan memakan waktu
Arumi mengukir senyum, menatap sang Mama lewat pantulan cermin.
"Aku hanya khawatir Mah, tiba-tiba merasa takut karna sudah mengambil keputusan untuk menikah muda." Tuturnya. Itu hanya sebuah alasan agar sang Mama tidak menaruh curiga padanya. Arumi memang sedang sedih, terlepas dari permasalahannya dengan Agam beberapa hari lalu, Arumi merasa hanya berjuang sendiri dalam mencintai Agam. Dia belum merasakan cinta dari calon suaminya itu.
Pesan yang dia kirimkan pada Agam sebenarnya hanya ingin mengetahui seperti apa reaksi dan jawaban Agam. Dia berharap Agam akan mengutarakan cinta padanya dan melarangnya membatalkan pernikahan. Tapi jawaban Agam malah membuat semakin sedih. Pria itu hanya memikirkan perasaan kedua orang tua mereka, tidak mau membuat mereka malu di depan semua orang jika sampai pernikahan itu di batalkan.
"Kamu memiliki calon suami yang tepat. Agam sangat dewasa, dia pasti akan membantu kamu lepas dari kekhawatiran itu. Jangan takut,," Amira sedikit menunduk untuk memeluk putrinya dari samping.
Arumi hanya merespon dengan anggukan kecil dan senyum tipis.
"Mama ke toilet sebentar." Pamit Amira dan keluar dari ruang make-up.
Tak berselang lama, pintu kembali di buka. Arumi melihat Agam dari pantulan cermin. Pria itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Bisa tinggalkan kami berdua.? Ada yang harus kami bicarakan berdua." Agam bicara tegas pada orang lain yang ada di sana. Kharismanya terpancar meski pria itu hanya memakai celana jeans dan kaos putih.
"Tentu, kami akan segera keluar." Ujar salah satu dari mereka tanpa protes.
MUA dan beberapa timnya kemudian keluar satu persatu dari ruangan make up, menyisakan Arumi dan Agam di ruangan yang cukup luas itu.