
Agam kembali ke ruangannya. Foto-foto Arumi bersama 2 pria yang di ambil dalam waktu dan tempat berbeda-beda, kembali menjadi pusat perhatian Agam. Semua foto itu berserakan di lantai dekat meja kerjanya. Ada sekitar 10 lembar foto, tentu saja foto itu di ambil diam-diam tanpa sepengetahuan Arumi dan mungkin tanpa sepengetahuan kedua laki-laki itu juga.
Foto-foto itu di kirimkan oleh seseorang tanpa nama pengirim. Kurir yang mengantarnya bahkan langsung pergi setelah memberikan amplop coklat berisi foto itu pada security.
Jadi Agam tidak tau pengirim foto-foto itu.
"Ke ruangan ku sekarang." Titah Agam setelah menyambungkan telfonnya pada Edwin dan mematikannya begitu saja tanpa menunggu jawaban dari asisten pribadinya itu. Dia lantas memunguti foto-foto Arumi untuk di masukan lagi ke dalam amplop coklat.
"Ada apa Pak, Anda butuh sesuatu.?" Tanya Edwin setelah masuk ke ruangan Agam dan berdiri di depan meja kerjanya.
"Cari orang yang memberikan amplop ini di post security. Cari sampai dapat dan tanyakan padanya siapa yang sudah menyuruhnya mengirimkan amplop ini padaku." Titah Agam tegas.
Edwin sudah pasti kebingungan mendapatkan perintah dari Agam. Dia tidak tau menahu tentang amplop itu, bahkan tidak tau kapan seseorang mengirimkan amplop itu ke kantor.
"Maaf Pak, tapi jam berapa orang itu datang ke pos security.?" Edwin langsung menelan ludah ketika mendapatkan tatapan tajam dari Agam. Dia langsung merutuki dirinya sendiri yang sedang bertingkah bodoh di depan Agam.
"Baik Pak, saya akan cari tau sekarang." Edwin pamit dan buru-buru keluar dari ruangan Agam sebelum mendapatkan omongan pedas dari bosnya itu.
Lebih baik Edwin menelfon pos security dan menanyakan hal itu pada security, setelah itu melihat rekaman cctv di sana untuk melihat wajah si pengantar amplop yang entah apa isinya.
...*****...
"Dasar duda tua menyebalkan.! Seenaknya saja menurutku tidur dengan pria lain." Arumi menggerutu saat memasuki kamarnya. Dia melempar tas miliknya ke sofa dan merebahkan diri di ranjang.
Jangan di tanya bagaimana perasaan dan hatinya saat ini. Dituduh pernah tidur dengan pria lain oleh orang yang dia cintai, seperti di jatuhkan dari atas ketinggian. Hancur, sakit, sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Arumi memilih menghindar, mengamankan hatinya agar tidak semakin hancur.
Suara dering ponsel membuat Arumi berdecak. Moodnya sedang buruk dan dia malas untuk menerima panggilan. Dia hanya melirik sekilas ke sumber suara. Ponselnya masih ada di dalam tas yang tadi dia lempar ke sofa. Arumi benar-benar mengabaikan panggilan itu hingga ponselnya kembali berbunyi ke tiga kalinya.
"Pasti nenek gayung yang diam-diam menyuruh orang untuk mengawasi ku di kampus." Arumi bergumam sendiri. Tidak bermaksud menuduh Livia tanpa bukti, tapi mengingat selama ini Arumi tidak merasa memiliki musuh, aneh rasanya kalau orang lain yang melakukannya jika tanpa tujuan.
Sedangkan Livia, wanita itu jelas memiliki tujuan. Dia akan sangat di untungkan jika hubungan Agam dan Arumi berakhir.
"Awas saja kalau benar-benar dia pelakunya.!" Gumam Arumi penuh kebencian dan amarah.
Livia mungkin melihatnya seperti anak kecil yang lemah dan mudah ditindas, tapi tidak ada seorangpun yang akan diam saja jika diperlakukan seperti itu.
...******...
Gea tengah berendam di bathtub yang ada di kamar mandi pribadi milik Glen. Tubuhnya masih terasa remuk akibat percintaan panas kemarin dan tadi pagi.
Selagi masih siang dan Glen belum pulang, Gea hanya mencoba memanfaatkan fasilitas yang ad adi kamar Glen. Berendam air hangat sedikit mengurangi pegal-pegal di tubuhnya.
"Aku pastikan Om Glen jatuh ke pelukanku." Gea mengulas senyum miring penuh arti.
Gea sebenarnya tidak ada niat untuk membalas rasa sakit hatinya atas perlakuan Sean. Tapi setelah mengetahui jika kekasih Glen adalah Adeline, tiba-tiba saja terbesit di benak Gea untuk balas dendam melalui Adeline.
Karna dia yakin Sean juga akan merasakan sakit jika melihat kakaknya hancur.
Tak lama, terdengar suara pintu kamar yang di tutup. Gea mendadak gelagapan dan buru-buru keluar dari bathtub.
"Sekarang masih jam 2, kenapa dia sudah pulang." Gumamnya heran. Tidak biasanya Glen pulang sesiang ini. Pria itu biasanya pulang jam 5, bahkan terkadang pukul 9.
Gea meraih handuk yang di gantung untuk menutupi tubuh polosnya. Tapi belum sempat melilitkan handuk di tubuhnya, Glen sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Gea mengulas senyum kikuk tanpa berusaha menutupi tubuh polosnya. Dia ingat kalau punya tujuan untuk menarik perhatian Glen.
"Maaf Om,, aku nggak ijin dulu mau pakai kamar mandi Om." Lirih Gea lembut. Dia membiarkan handuknya tetap berada di tangan. Sudah pasti pemandangan tubuh polos Gea memancing gairah Glen. Pria normal mana yang tidak akan menelan ludah jika melihat tubuh polos wanita di hadapannya.
Gea jelas melihat saat Glen kesulitan menelan saliva.
"Aku tadi berendam air hangat, tubuhku sangat pegal. Tadi malam kita,,," Gea tidak meneruskan ucapannya saat melihat Glen menutup pintu dan berjalan mendekat padanya.
"Berani sekali kamu mandi di sini tanpa meminta ijin padaku." Glen berucap dingin. Gea pura-pura menghindar dengan melangkah mundur. Tapi dia malah sengaja menjatuhkan handuk di tangannya, seolah ingin menyerahkan diri pada Glen.
"Maaf Om, aku janji nggak akan mengulangi lagi." Gea berhenti mundur karna terhalang dinding kamar mandi.
"Kamu harus di hukum Gea.!" Ujar Glen penuh penekanan.
"Om,," Gea sengaja memanggil Glen dengan sedikit men de sah.
Kedua tangannya menahan dada Glen yang semakin menempel padanya.
Glen menatap tak suka karna Gea menahan tubuhnya untuk tidak mendekat. Tapi kemudian pria itu mengulum senyum tipis mendengar permintaan Gea.
"Badanku masih pegal dan sakit, jangan terlalu kasar menghukum ku. Bagaimana kalau pindah di ranjang saja.?" Pintanya dengan tatapan dan senyum menggoda.
Glen bukan pria bodoh yang akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Tanpa aba-aba, dia langsung mengangkat tubuh polos Gea dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Gea mengalungkan tangannya di leher Glen, gadis itu malah semakin menggoda Glen dengan mengecup bibirnya.
"Sepertinya kamu sangat senang mendapatkan hukuman." Glen tersenyum miring melihat kelakuan Gea dalam gendongannya.
"Aku hanya mencoba untuk menikmati hukumanku." Jawab Gea dan semakin memeluk erat leher Glen.
"Kamu memang liar." Balas Glen. Dia langsung menjatuhkan Gea di atas ranjang dan mengungkung tubuh polosnya dengan tatapan penuh naf su.