Ooh, HOT UNCLE

Ooh, HOT UNCLE
Bab 112



Tidak ada keraguan sedikitpun dalam diri Andrew saat membubuhkan tanda tangan pada lembaran kertas atas pengalihan asetnya untuk Amira dan Arumi. Andrew sama sekali tidak keberatan mengalihkan 90 persen harta miliknya ke tangan istri dan anaknya. Lagipula dia bekerja keras selama ini memang untuk mereka berdua, terutama masa depan Arumi.


Jadi tidak butuh waktu lama untuk menandatangani semua berkas pengalihan aset itu.


Kini Andrew tengah menatap berkas perceraian di atas meja. Cukup lama di menatapnya tanpa berniat membubuhkan tanda tangan saat itu juga.


Andrew tengah merenung, membayangkan rumah tangganya bersama Amira kini dalam kehancuran setelah 19 tahun bersama.


Ya, semua ini salahnya. Murni kesalahannya tanpa ada campur tangan siapapun.


Andrew mungkin terlalu naif, bersembunyi di balik rasa iba dan kasihan pada sosok wanita berusia 25 tahun. Lalu menawarkan pernikahan padanya. Padahal masih banyak cara lain untuk membantu Sofia tanpa harus menawarkan pernikahan, jika memang hanya sekedar iba dan kasihan.


Pada akhir kedua alasan itu hanya kedok pembelaan diri. Jelas tidak ada perselingkuhan yang didasari atas rasa iba ataupun kasihan. Kecuali karna nafsu dan ketertarikan, itu jauh lebih masuk akal.


Karna dengan alasan iba dan kasihan, masih banyak wanita di luar sana yang nasibnya lebih tragis dari Sofia. Bedanya mereka-mereka mungkin tidak memiliki paras secantik Sofia.


"Apa yang kamu pertimbangkan.? Sesulit itu menandatangani surat perceraian kita.?" Amira berucap sinis.


Sungguh dia muak dengan pria di hadapannya. Tak peduli meski baru kali ini Andrew berselingkuh setelah 19 tahun pernikahan. Bagi Amira, tidak ada toleransi bagi pelaku yang berselingkuh. Memaafkan dan memberi kesempatan hanya akan membuat Andrew berfikir bahwa tindakannya masih dalam batas wajar karna bisa mendapatkan maaf dan kesempatan dengan mudah.


"Aku benar-benar menyesal." Lirih Andrew tercekat. Dia menunduk lemah, tak peduli meski ada William di sana.


"Harusnya kamu tau, penyesalan selalu datang terlambat." Balas Amira masih dengan nada sinis.


"Aku yakin kamu tidak memikirkan akibatnya saat mulai menjalani hubungan dengan wanita itu. Jadi jangan berfikir telalu lama untuk menandatangani surat cerainya.!" Tegasnya.


Tak mau menjadi wanita lemah di mata Andrew, Amira akan menunjukkan kalau dia tidak membutuhkan pria pengkhianat sepertinya. Persetan dengan cinta yang masih melekat di dalam lubuk hati, perasaan itu pasti akan memudar seiring berjalannya waktu. Apalagi setelah Andrew menorehkan luka cukup dalam di hatinya. Luka itu pasti bisa menghapus cinta di dasar sana.


"Aku tidak punya banyak waktu Andrew.! Cepat tanda tangani dan kamu bisa pergi dari sini. Jangan sampai putriku keluar kamar dan melihatmu masih ada di sini." Desak Amira. Sudah terlalu lama dia menunggu Andrew menandatangani surat perceraian mereka, tapi pria itu masih bergeming dengan menunjukkan wajah frustasi penuh sesal.


...******...


Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Arumi. Dia melirik jam weker di atas nakas, sudah pukul 1 malam tapi belum terlelap. Sejak tadi hanya bersembunyi di balik selimut, mencoba memejamkan mata dan menghapus segala pikiran yang berkecambuk dalam pikirannya. Tapi nihil, dia terus begulat dalam pikirannya sendiri mengenai masalah rumah tangga orang tuanya.


Beranjak dari ranjang, Arumi duduk di tepi ranjang setelah mengambil benda pipih miliknya.


Benda pipih itu mengingatkannya pada Agam yang belum memberinya kabar sampai detik ini.


Arumi buru-buru membuka ponsel, berharap notifikasi chat itu dari suaminya.


Tapi tak lama setelah membuka aplikasi chat, tangan Arumi gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca dan satu tangannya menutup mulut tak percaya.


Tidak, tidak mungkin.!


Arumi yakin dia hanya mimpi buruk, kejadian buruk itu tidak mungkin nyata.


Berulang kali dia menggelengkan kepala, menepis segela pikiran buruk dari foto di ponselnya yang di kirimkan oleh nomor tidak di kenal.


Arumi baru saja meyakinkan dirinya kalau semua itu hanya mimpi, namun tak lama nomor itu mengetikkan sesuatu dan sebuah teks masuk ke layar ponsel Arumi.


"Kamu pasti menunggu suamimu pulang kan.?"


"Sayang sekali dia lebih tertarik tidur denganku."


Dua kalimat itu di sertai emotikon tertawa, berhasil meluruhkan air mata Arumi.


Ini jelas nyata, bukan mimpi.!!


Arumi semakin tenggelam dalam kesedihan dan pikiran yang kalut. Dia mencoba menghubungi Agam, namun nomor ponselnya tidak bisa di hubungi.


Dadanya perih, hatinya sakit dan mungkin hancur berkeping-keping. Bayang Agam tidur bertelanjang dada sambil memeluk seorang wanita di atas ranjang, terus berputar-putar di kepala Arumi.


Wanita itu cukup familiar, dia adalah Karina. Mantan istri Agam.


Agam berbohong soal pekerjaan di Jakarta.? Dia hanya mencari alasan agar bisa berselingkuh di belakangnya.? Suaminya itu benar-benar mengkhianati pernikahan seperti yang di lakukan Papanya.?


Segala pertanyaan silih berganti, berputar di kepala Arumi tanpa menemukan satupun jawabannya. Dia hanya bisa menduga-duga tanpa bisa memastikan kebenarannya.


...*****...


Dalam sebuah kamar hotel, seorang pria tampak mengerjapkan mata sembari memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Perlahan dia membuka mata dengan susah payah walaupun pandangannya masih buram.


Pria itu syok mendapati dirinya dalam sebuah kamar hotel dengan keadaan bertelanjang dada.


Dia terdiam sejenak, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


Tak lama, kedua tangannya mengepal kuat dengan sorot mata penuh amarah.


Ya, pria itu adalah Agam. Seseorang telah menjebaknya dan mencampurkan obat tidur ke dalam minumannya saat sedang menyelesaikan permasalahan di hotel miliknya yang ada di Jakarta.


Agam bergegas mencari ponsel miliknya, ponsel itu tergeletak begitu saja di atas nakas beserta dompet miliknya.


Saat membuka ponsel, rupanya ponsel dalam keadaan mati.


Agam menghidupkan ponsel, hal pertama yang akan dia lakukan adalah menghubungi Gino.


Bisa-bisanya Gino meninggalkannya begitu saja tanpa curiga.


"Sekretaris sialan.!! Dimana kamu.!!"


"Apa kamu tau seseorang sudah menjebakku.!!" Teriak Agam tanpa bisa menahan amarahnya.


Gina di seberang sana tampak ketakutan.


"Tuan,, tapi ada sendiri yang mengirimkan pesan padaku agar kembali ke kamarku." Jawab Gino gemetar.


"Sh-iitt.!!" Agam mengumpat dan memutuskan sambungan telfonnya.


Dia membuka riwayat chatnya dengan Gino.


Ternyata sekretaris pribadinya itu tidak bohong, di sana benar-benar ada pesan yang dia kirimkan untuk Gino. Tapi bukan dia yang mengirimnya.


Agam kembali menghubungi Gino.


"Siapkan mobil.! Kita pulang sekarang.!" Bentak Agam, dia memutuskan telfon tanpa menunggu jawaban dari Gino.


Tidak peduli meski masih pukul 4 pagi, dan masalah di hotel belum sepenuhnya selesai, yang terpenting dia bisa pulang untuk bertemu Arumi.


Dia sudah janji akan mengusahakan pulang tadi malam. Arumi pasti akan kecewa padanya.


"Brengs*k.!! Seseorang menjebakku di hotel ku sendiri.!" Geram Agam begitu bertemu dengan Gini di lobby.


"Kamu hubungi manager hotel dan minta semua rekaman cctv di ruang rapat dan depan kamar 118.!" Titahnya berapi-api.


"Baik Tuan." Gino tak berani menatap bosnya yang sedang terbakar amarah.