
"Ge,, kamu sakit.?" Arumi menatap lekat wajah lesu sahabatnya yang tidak bersemangat. Gea juga tampak sedikit pucat dan terlihat kelelahan.
"Udah nggak usah di peduliin Ar, Gea nggak anggap kita sahabat." Celetuk Aileen kesal. Meski begitu, Aileen tidak benar-benar kesal pada Gea. Dia hanya kecewa lantaran sampai detik ini Gea tidak menceritakan apapun soal kejadian di acara pertunangan Arumi.
Gea hanya mengukir senyum samar dan memilih untuk menyantap makan siangnya.
"Jangan begitu Ai, mungkin memang Gea nggak menyembunyikan apapun dari kita." Ujar Arumi yang tidak mau Aileen terus mencecar Gea.
Dia juga tidak bermaksud menyembunyikan permasalahan Gea dari dua sahabatnya yang lain. Tapi permasalahan Gea mamang sebaiknya di tutup rapat-rapat karna sudah termasuk perbuatan yang tak lazim. Arumi takut pandangan Aileen dan Sena pada Gea berubah kalau tau Gea menjual diri dan mencuri barang mahal.
"Kalau nggak menyembunyikan apapun, kenapa sekarang diam aja.?" Aileen kembali mencecar. Tidak seperti Sena yang memilih diam dan fokus menikmati makan siangnya sembari menyimak obrolan mereka.
Gea menghentikan aktifitasnya dengan meletus sendok dan garpu di mangkok miliknya.
Dia meneguk air minum kemudian menarik nafas dalam.
"Usaha milik orang tuaku bangkrut. Aku nggak punya apa-apa lagi sekarang." Tuturnya sendu.
"Ge,,," Arumi menyentuh tangan Gea seraya menggelengkan kepala, memberikan isyarat pada Gea agar tidak bicara terlalu jauh.
Sementara itu, Aileen dan Sena terlihat syok mendengar pengakuan Gea. Keduanya langsung menatap iba dan ikut sedih.
"Ya ampun Ge,, kenapa kamu berusaha menutupi dari kita.?" Tanya Sena dengan tatapan kecewa.
"Kamu mengalami hal buruk dan bermaksud rahasiakannya.?" Kini giliran Aileen yang bersuara. Dia juga tak kalah kecewa.
"Jangan berlebihan seperti itu, aku baik-baik saja." Gea berusaha mengukir senyum untuk menunjukkan pada mereka kalau dia baik-baik saja dan tidak perlu di khawatirkan.
"Kamu yakin.? Kami siap membantu kalau kamu membutuhkan bantuan. Jangan sungkan Ge." Ujar Sena dengan rasa kepedulian yang tinggi dan tentu saja dia tulus menawarkan bantuan pada sahabatnya itu.
"Sena benar, jangan sungkan meminta tolong pada kita Ge." Kata Arumi. Dia bersikap seolah-olah belum mengetahui permasalahan yang sedang di hadapi oleh Gea agar tidak di cecar kedua sahabatnya.
...***...
"Ar,, aku nggak jadi tinggal di rumah kamu." Ujar Gea setelah Aileen dan Sena pamit pergi ke toilet.
Arumi menatap dengan dahi berkerut. Entah apa yang membuat Gea berubah pikiran. Padahal kemarin sudah setuju untuk tinggal di rumahnya.
"Kenapa.?" Arumi menatap serius untuk mendengarkan penjelasan dari Gea. Jika Gea mengatakan alasan yang tidak masuk akal ataupun karna tak mau merepotkan, Arumi berniat untuk Memaksa Gea agar tetap tinggal di rumahnya.
"Ceritanya panjang, aku belum bisa cerita sekarang." Jawaban Gea membuat Arumi tampak kecewa.
"Aku tau kamu tulus dan sangat peduli padaku. Aku benar-benar berterimakasih dan bersyukur punya sahabat seperti kamu."
"Tapi aku harap kamu bisa mengerti keputusanku, Ar." Tuturnya sedikit memohon.
Arumi terdiam cukup lama. Dia menerka-nerka sendiri apa yang sebenarnya sedang di tutupi oleh Gea darinya. Tapi Arumi juga enggan memaksa Gea untuk berterus terang. Karna sedekat apapun persahabatan mereka, ada hal yang memang bersifat privasi tanpa harus semua orang terdekat tau permasalahan kita sampai ke akarnya.
"Baiklah, aku mengerti." Pada akhirnya Arumi pasrah. Meski begitu, dia tidak akan acuh begitu saja dengan kehidupan Gea kedepannya. Selama kondisi keuangan keluarga Gea belum stabil.
...*****...
"Aku sudah sampai di kantor, Om." Ujar Arumi yang menelfon Agam untuk sekedar memberi tau tunangannya.
"Ke ruangan ku saja, 15 menit lagi aku sampai."
"Tentu saja aku kan langsung ke ruangan Om, mana mungkin aku mau menunggu sendirian di ruang tunggu." Cerocos Arumi seraya memasuki gedung perkantoran itu.
"Dasar cerewet.!" Cibir Agam dan setelah itu sambungan telfonnya terputus. Arumi memasang wajah cemberut gara-gara ulah Agam yang mematikan telfonnya begitu saja.
"Pria tampan itu kapan bisa bersikap manis padaku." Arumi bergumam lirih seraya berkhayal. Dia membayangkan seandainya Agam bersikap lembut, manis dan romantis padanya. Dunia pasti akan serasa milik berdua. Yang lain hanya sebagai pelengkap saja.
"Sadar Arumi,, sadar,," Gadis dengan rambut panjang tergerai itu menepuk-nepuk pipinya sendiri. Dia seolah-olah membangunkan dirinya sendiri yang sedang bermimpi.
"Jangan berharap hal yang mustahil." Gumamnya pasrah.
Sadar jika calon suaminya terlampau dingin dan acuh, Arumi sampai tidak berani untuk sekedar bermimpi Agam akan bersikap seperti yang dia inginkan.
"Selamat siang Nona,," Seorang resepsionis dengan ramah menyapa Arumi.
"Pak Agam sedang meeting di luar. Mau saya antar ke ruangannya.?" Ujarnya menawarkan.
"Terimakasih Kak Viola, aku akan pergi sendiri ke ruangan Kak Agam." Jawab Arumi. Dia sempat membaca name tag resepsionis itu sebelum menjawabnya.
Sikap Arumi yang ramah dan sopan, mampu membuat karyawan di perusahaan itu berbondong-bondong mengagumi sosoknya.
Masuk ke dalam ruangan Agam. Arumi duduk di kursi yang biasa di duduki oleh pria itu. Gadis berkulit putih itu tampak mengulum senyum setelah duduk di kursi kebesaran Agam.
Dia sedang membayangkan ketampanan Agam yang tambah berkali-kali lipat ketika sedang duduk di kursinya.
Wibawa dan kharisma yang dimiliki oleh pria itu juga cukup kuat ketika sudah fokus bekerja.
"Nggak masalah walaupun duda, aku tetap cinta." Gumam Arumi sambil senyum-senyum sendiri tidak karuan.
"Kenapa senyum-senyum.?!" Teguran Agam sontak membuyarkan lamunan Arumi. Kini dia bisa menatap sosok pria yang sejak tadi menari-nari di kepala dan pikirannya.
"Om,,," Ujarnya dengan senyum merekah.
Dia menghampiri Agam dan buru-buru mendekap lengan pria itu dengan sangat erat.
"Apa Om sangat sibuk.?" Tangannya yang tampak lebih manja dari biasanya. Agam menautkan alisnya, di curiga Arumi sedang mencoba untuk merayu.
"Ya, aku sangat sibuk sampai 1 bulan kedepan." Agam menjawab asal. Dia beranjak ke arah sofa, dan Arumi langsung mengimbangi langkahnya.
"Om sibuk sampai hari pernikahan kita.?" Tanya Arumi tak habis pikir.
"Hmm,," Agam merespon singkat.
"Padahal aku ingin pergi jalan-jalan berdua sebelum kita menikah." Ungkapnya dengan seulas senyum penuh harap.
"Aku punya waktu kalau sekedar mengajakmu keliling gedung ini." Ujar Agam main-main. Dia hanya ingin meledek Arumi saja.
"Ck. Aku nggak tertarik." Ekspresi wajah Arumi mendadak lesu. Dia melepaskan lengan Agam dan sedikit bergeser menjauh sebagai protes rasa kesal terhadapnya.
"Ya sudah, aku juga malas berkeliling gedung. Lebih baik berkeliling bukit." Ujarnya dan membuat kedua mata Arumi melotot sempurna.
Tapi sesaat kemudian ekspresinya berubah kesal setelah ingat tujuannya datang ke kantor Agam. Dia harus menunjukkan ruam merah yang ada di da danya akibat ulah pria itu.